Potongan baru (Dibalik C[d]erita Anak Magang) - fiksi

, , 23 comments


”G
ue sebel banget sama temen lo itu dit, masa ya kemarin dia tuh mutusin aku pas kami baru pulang jalan.” kata Icha, salah satu atau tepatnya satu-satunya sahabat cewek yang gue punya. 

Icha beberapa waktu lalu balikan lagi sama mantan pacaranya, dimana mantanya tersebut adalah temen gue sendiri satu komplek. Jauh sebelum kami memakai seragam putih abu-abu, Icha sudah kenal dengan teman gue tersebut, sebut saja namanya Ari.

Awal perkenalan mereka dimulai ketika Ari minta dicariin pacar sama gue, waktu itu gue masih kelas 9 SMP. Dan kebetulan Icha sedang ngejomblo, gue ngasih nomer Icha ke Ari, begitu juga sebaliknya. Ngak nyampe satu bulan mereka sudah jadian, namuan usia labil memang tidak bisa bohong. Dengan usia yang kekanak-kanakan, hubungan mereka kandas setelah kurang lebih dua bulan.


”Salah gue apa dit?!” kata Icha menatap gue, berharap gue memberikan petunjuk.

kami sedang santai di KFC DM (Duta Mall), sedari tadi burger menatap gue dengan aromanya yang minta untuk disegera disantap, sayangnya gue gak enak diri meraih burger tersebut karena Icha ngomong gak berhenti-berhenti dari tadi.

”Ya, maugimana lagi, itukan takdir lo,” jawab gue enteng.
”Apa? Takdir, lo gak kasih saran atau apakek, lo kan biasanya kasih petuah-petuah ke gue kalau gue lagi kayak gini.”

gue menelan liur dengan tatapan mengarah ke burger. ”Lo harusnya lupain dia aja, kan lo gampang amnesia kalau masalah pacaran, paling-paling beberapa minggu lagi lo bakalan ngelupain dia kayak yang udah-udah.”

Yeah, Icha emang bukan playgirl tapi entah bagaimana caranya anak ini bisa dapetin gebetan dengan cepat dan mudah, mirip kayak slogan kantor peminjaman uang, yang sering gue liat brosur-nya bertebaran di lampu merah. Anda perlu dana cepat? Segera hubungi kontak kami di bawah ini, dijamin cepat dan mudah, hanya bawa BPKB Motor atau Mobil Anda.

”Iya gue tahu dit,” Icha menghembuskan nafas berat. ”Tapi dia itu beda dit, gue emang bisa cepet dapat yang baru tapi, dapetin yang sama itu susah.”

Icha adalah cewek yang suka ikut tren, dari segi pakaian anak ini tidak pernah ketinggalan mode. Dan parahanya, Icha juga tidak mau ketinggalan tren masalah hati, Icha termasuk dalam golongan kaum gagal move on, spesies seperti ini biasanya akan munjucul di timeline dengan kata-kata bijak ketika hujan turun.

Melihat Icha yang seperti ini gue mencoba untuk serius, gue berdehem.
”Iya, gue tau Cha, mencari yang baru itu emang mudah, tapi lo harus bisa menerima kenyataan kalau sifat setiap manusia itu berbeda-beda Cha...”

Entah setan apa yang merasuki gue jadi bijak gini disaat kelaparan,

”Lo harus bisa menerima orang baru dikehidupan elo, jangan sampai lo habisin waktu lo cuman untuk mencari yang sama. Sekurang-kurangnya orang baru tersebut, pasti memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lama. Lo harus bisa menerima kenyataan.”

Perlahan bibir Icha terangkat. Senyum.

”Hem... iya ya dit, mungkin udah waktunya,”
”Nah gitu dong, emang udah waktunya.” kata gue meneteskan sedikit liur.
”Lo seneng ya kalau liat gue senyum gini,”
”Kaga,” kata gue cepat. ”Udah waktunya buat makan, dari tadi ngoceh terus perut gue nyinden lo gak denger apa...”

Gak lama satu piring nancep di jidat gue.

****
Tahun ini lagi-lagi yang mendapatkan nilai tertinggi adalah cewek, tapi sayanganya cewek yang berdiri di atas panggu itu bukan ”Dia”, seperti tahun kemarin. Sekarang lagi-lagi gue berada di acara perpisahan SMPN 26 Banjarmasin, sekolah gue dulu ketika masih labil.     

Dimana waktu itu gue sedang semangatnya untuk belajar makan bangku sekolah dan mengejar satu kata yang penuh makna”Cinta”. Mungkin terdengar sangat geli, dan jujur saja gue juga jadi horor sendiri kalau ingat masa-masa itu, masa dimana gue lagi mencari jati diri, lagi numbuh jerawat sekitar wajah, suara gue berubah jadi sedikit garang, mulai tumbuh rambut dimana-mana, dan mencoba untuk berfikir dewasa agar kelihatan keren, akibatnya waktu esempe muka gue jadi terkena penyakit penuaan dini.




Baiklah tidak separah ini -_____________-


Acara perpisahan/pelepasan murid-murid kelas 9 tahun ini, tidak seperti tahun kemarin. Kalau tahun kemarin gue rela nggak masuk magang cuman untuk bertemu ”Dia”, kali ini gue datang dengan tujuan untuk nyari makan gratis bertemu dengan anak-anak didik PMR gue yang lulus.

Sebenarnya, malam tadi gue sempet ngehubungin si Dia buat datang diacara perpisahan ini, gue sih sempet bilang sama si Dia, kalau dia itu seperti kacang lupa kulit. Gue sengaja mancing-mancing ikan di air keruh, biar buaya-nya mau keluar. Nah lo kenapa jadi bicara satwa. Tapi si Dia nggak bisa hadir, karena baru pulang pukul dua siang.

Ketika acara hiburan mulai bulu hidung gue pelan-pelan mulai rontok, saat melihat anak-anak kelas 8 nge’dance, gerakan mereka lebih mirip pinguin kesurupan. Ini membuat gue jadi inget sesuatu, kalau gue sudah janji sama anak-anak  bakalan stand up comedy disini, yeah stand up comedy. Tapi sayangnya niat itu gue urungkan, karena ketidak hadiran Dia yang membuat gue patah arang, uhm… oke gue emang sekarang lagi agak iteman, tapi sebaiknya gue ganti aja kalimat barusan jadi: patah arah #eaaaa

Gue duduk di kursi plastik sambil menatap sebatang pohon sukun di depan kelas gue dulu, gue jadi inget tahun lalu waktu acara perpisahan si Dia,  gue sempet berbicara sama Dia disana, dan pohon itu juga yang telah mempertemukan kami. Kain pel mana kain pel… Gue lalu ngambil HP dan *meneteskan air mata* menekan tombol message.

Send: Dia
Dee acaranya sampai jam dua lewat, kalau bisa datang ya.

Gue berharap malam tadi Dia boong, boong kalau nggak bisa datang ke SMP hari ini, lalu datang memberikan kejutan untuk gue. Dan sampai adzan dzuhur Dia tidak juga kunjung  datang, gue galau. Hari itu Banjarmasin yang tadinya mendung mau hujan, tiba-tiba berubah menjadi cerah, tapi sayanganya itu tidak bisa mengubah perasaan gue yang terlanjur mendung. Oke gue emang udah bisa nerima kenyataan dan udah bisa move on, tapi nggak salahkan kalau gue mau ketemu Dia?

Temen-temen satu angkatan yang gue ajak datang ke acara ini, semuanya pada pulang duluan. Tapi gue masih bertahan di kursi sambil memandangi pohon sukun, guru-guru yang lewat di hadapan gue jadi horor sendiri melihat kondisi gue yang nggak jelas. Tiba-tiba HP gue bunyi, gue berharap itu sms balasan dari Dia.

From Provider:
Maaf masa tenggang kartu Anda akan segera berakhir…

KAMPRET!!!

Sebenarnya hati kecil gue memerintahkan agar gue tetap bertahan, tapi sayanganya gue nggak bisa. Dan akhirnya sebelum acara itu berakhir gue sudah mengakhirinya duluan, gue pulang.

Di rumah gue cuman bisa tertunduk lesu dengan wajah yang kusut, rambut acak-acakan, poni kemana-mana.

”Aditt...” kata Mama gue muncul dengan tiba-tiba, gue menoleh. ”Kenapa muka kamu kok kusut gitu... Adit jawab kenapa? Jangan diem aja. Kamu abis ngelem ya.”

            ”Nggak ma.” kata gue dengan malas.
 
            ”Lalu kenapa? Jawab adit jawab...” Mama gue kadang-kadang suka dramatis, karena keseringan nonton film K-drama.
 
            ”Nggak ada apa-apa aku cuman kecapean,”
 
            ”Yaudah mama mau ke rumah kakek mu, kamu jaga rumah ya.” gue cuman diam gak jawab apa-apa, lalu Mama kembali ngomong ke gue sebelum keluar rumah, ”Rapiin poni rambut kamu ya, biar kayak Ryan D’masiv.”

KRIK...

Gue mengangguk lesu, rasanya pengen nelen gunting. Tidak ada hal yang lain dipikiran gue selain rasa kecewa, rencana yang sudah gue susun sedemikian rupa nyatanya hanya tinggal rencana, dan tidak bisa diwujudkan. Saat gue berdiri dari kursi, tiba-tiba HP gue bunyi ada pesan masuk.

From: Dia
Tadi ke SMPN 26 tapi Kakak udah pulang :’)

Terjadi jeda beberapa saat, tangan gue tiba-tiba jadi membeku, rasanya jantung gue berhenti memompa darah, HP gue jatuh... Ya tuhan, tulisan gue lama-lama kayak film drama -_____________-” 

Send: Dia
Ohh gitu ya...

Balas gue singkat. Sebenarnya gue pengen nulis, “Haah?! Yang bener, kenapa baru bilang sekarang? Kalau tau gitu Kakak nunggu kamu aja, atau nggak seharusnya kamu hubungin Kakak biar balik ke SMP lagi...” dan sms itu berakhir di draf *ngunyah keset lantai*

From: Dia
Tapi tadi anak didik PMR Kakak negur, katanya Kakak nyari aku =D

Gue jaim.

Send: Dia
kata siapa? Nggak gitu deh perasaan.

From: Dia
Yaudah,

KAMPRETTT!!! Bego banget gue bego...

            Ini akibatnya kalau jaim. Gue langsung pergi ke kamar mandi, siram kepala pake air dingin, ambil sampo, lalu teriak sekencang-kencangnya mumpung gak ada orang di rumah.

”KENAPA! KENAPA! KENAPA!!! KENAPA JADI GINI KENAPA?! AIR MANA AIR, SAMPONYA MASUK MATA INI! PERIH MAMA PERIH!”

****

Setelah sebelumnya gue berharap pas lagi keramas sambil teriak-teriak bisa meringankan dan menyegarkan pikiran, nyatanya mata gue yang jadi korban. Dengan mata yang merah gue langsung ambil HP dan telepon Icha, gue ajak dia ketemuan di cafe. Percayalah disaat lo lagi dalam keadaan galau, hal yang paling tepat itu adalah curhat dengan seorang sahabat, bukan dengan sampoan.

Di cafe gue langsung cerita ke Icha tentang kejadian hari ini gak ketemu Dia, Icha sempat curiga dengan mata gue yang masih merah lalu gue jawab aja abis kelilipan biji duren.

            ”Gimana lo sih dit,” kata Icha sewot, ”kemarin lo bilang harus menerima kenyataan? Nyatanya lo masih berharap sama mantan lo juga.”

”Yah, inikan beda masalahnya lagi cha...” kata gue melakukan pembelaan. ”Emangnya salah gue pengen ketemu sama Dia? lagiankan gue udah bisa move on, gue udah punya calon.”

Ini gue lagi curhat kenapa jadinya kayak tersangka

            ”Iya gak salah-salah juga sih... Tapikan lo gak harus gitu-gitu juga, masa gak ketemu sama Dia aja lo galau. Kalau kayak gini saran gue, lo sebaiknya ambil sampo, keramas di kamar mandi, lalu teriak sekeceng-kencengnya.”

            ”Haha.. gila, cowok macam apa yang gelakuin hal banci kayak gitu hahaha... banci.” ”Gue udah lakuin itu...” batin gue.

Hari ini suasana di cafe itu cukup ramai, gue melihat beberapa pelajar sedang menikmati makaroni, nasi goreng, spaghety, ketang goreng, es krim dan berbagai minuman jus. Entah karena kebetulan atau apa, para pelajar itu juga mengenakan seragam dengan motif Sasirangan berwarna merah (kain khas Kalimantan Selatan). Bagi gue seragam itu tidak asing, gue bisa mengetahui dengan pasti mereka dari sekolah mana, apalagi ketika melihat bagian kerudung di belakang yang tertera jelas nama sekolahnya. Dulu gue pernah kesini dengan mereka (Anak-anak Magang), gue masih inget waktu itu semua anak magang pergi untuk makan siang disini, gue masih inget mereka pesan makaroni, pasta, dan burger. Gue juga masih inget waktu itu gue hampir kena serangan jantung pas liat harga makanan di cafe ini, gue juga masih inget waktu itu gue dan Ida, sempat melakukan pertengkaran yang tidak penting disini.

”Lo inget sama wanita aneh itu ya dit?” kata Icha saat memperhatikan gue sedang fokus sama pelajar di samping kami duduk.

”Maybe...” gue menatap es krim yang sudah mencair dihadapan gue.

”Gimana kabar dia sekarang? Lo sering ngehubungin dia kan.”

Gue menyendok es krim yang sudah mencair itu, lalu memasukannya ke dalam mulut.

”Emm... gue jarang banget ngehubungin dia,”

”Nah lo ko bisa gitu, bukannya lo anu sama dia.”

”Iya gue anu sama dia, tapi gue kenapa merasa aneh ya, gue merasa sekarang semuanya berbeda...”
Gue ceritain semuanya ke Icha, gue merasa aneh sendiri dengan sifat gue sekarang yang udah gak kayak dulu lagi. Waktu jaman putih-biru, gue sempet beberapa kali pacaran, gue selalu berhasil mendapatkan apa yang gue mau, berbeda dengan sekarang. Setelah masuk dunia putih abu-abu, sampai lulus gue resmi menyandang gelar fakir asmara. Yah sudah bisa dibayangin selama apa itu. Bukan karena gak ada yang mau sama gue atau bukan gak ada yang gue mau, tapi ini karena waktu yang gue punya selama tiga tahun habis di mantan. Saat gue mengatakan itu semua Icha hanya bisa tertawa, dia sadar ternyata kemarin minta pendapat dengan orang yang salah.

”Adit... adit...” Icha menggeleng-gelengakan kepalanya, ”Nasip kita sama ya, tapi bedanya waktu yang gue punya sempat terisi oleh orang baru, beda sama elo. Lalu buat apa petuah lo waktu itu ke gue kalau elo juga gak bisa ngelakuiannya?”

Terjadi jeda beberapa detik.

”Ya tapi cha... wanita yang satu itu benar-benar berbeda, seumur hidup gue, gue paling gambang deket sama orang baru, tapi deketin wanita yang satu itu benar-benar berbeda, gak bisa ditebak maunya apa.”

Icha mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya, lalu dia menatap gue.

”Tanamkan dit kata-kata lo kemarin, ’Lo harus bisa menerima kenyataan kalau sifat setiap manusia itu berbeda-beda. Lo harus bisa menerima orang baru dikehidupan elo, jangan sampai lo habisin waktu lo cuman untuk mencari yang sama. Sekurang-kurangnya orang baru tersebut, pasti memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lama. Lo harus bisa menerima kenyataan.’ ”

Mendengar itu gue cuman bisa terdiam, entah betapa bodohnya gue bisa-bisanya membuat petuah ajaip sedangkan gue sendiri gak bisa melakukannya.

”Lo emang sahabat gue yang paling hebat cha...” kata gue dengan senyum simpul. ”Sampai-sampai lo bisa hafal semua yang gue ucapkan kemarin.”

Icha tiba-tiba tertawa, ”Ya iyalah, kan udah gue caret di BB. Nih coba liat.” Icha menaruh BB nya di muka gue.

#JLEP #CROT

”Inget dit, cewek itu suka cowok yang gigih. Sesulit apapun cewek yang lo hadapin, kalau lo emang suka sama dia, lo harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan dia. Cinta itu buta dan butuh pengorbanan mas bro. Lama-kelamaan cewek juga akan berfikir tentang perjuangan lo ingin memiliki dia, dia akan jatuh kepelukan lo pada waktunya.”

****

Sepulang dari cafe, gue langsung pergi ke salon untuk potong rambut. Sejak selesai Ujian Nasional kemarin penampilan gue udah gak kerawat lagi, poni gue udah panjang melewati kelopak mata, gak salah Mama bilang Ryan D’masiv.

            Seperti biasa gue pergi ke salon langganan gue yang terletak di jalan Sungai Bilu, gue harus mengantri dulu karena ada anak kecil yang lagi potong rambut juga. Saat melihat tukang potong rambut, gue sedikit kaget karena yang motong bukan orang yang biasa motong rambut gue. Kalau orang yang bisa motong rambut gue, dia orangnya tinggi kurus, sedangkan yang ini agak pendekan dan ehm... berotot. Bagi gue ini pemandangan yang benar-benar janggal, gue baru lihat tukang potong rambut seperti ini, kekar mamen... warna rambutnya perpaduan musim semi dan panas, merah dan biru. styl rambutnya pun unyu abis, poni rata kayak Dora. Hampir gak bisa dibedain, antara badut ancol dan tukang jaga parkir sepeda.

            Bukan hanya kekar, gue melihat ada bekas jahitan di lengan kananannya. Dan disini gue bisa menarik kesimpulan, mungkin dia mantan tukang jahit kostum badut yang naik sepeda. Random abis. Selama bertahun-tahun ke salon baru kali ini lihat tukang potong rambut yang keker + unyu abis, dan rasanya janggal maksimal. Bayangin tangan yang keker itu menggambarkan dia rajin fitnes, berarti sering megang barbel yang beratnya berkilo-kilo, sedangkan sekarang dia megang beda yang beratnya gak nyampe setengah dari upil gue, gunting.

            ”Mas silahkan giliran Anda dipotong,”

Suara emba-emba kasir itu membuyarkan imajinasi liar gue, bukan... bukan karena suaranya, tapi karena kalimatnya. APANYA YANG MAU DIPOTONG EMBA!!!

            Dengan sedikit rasa gugup gue duduk di kursi kosong yang disediakan tukang potong rambut keker + unyu tadi. Perlahan tukang potong rambut itu mendekati gue dengan membawa kain persegi dan penjepit rambut, yang bisa dipakai untuk menutupi baju agar rambut tidak mengenai baju. Tukang potong rambut itu lalu menatap gue lewat cermin dengan tatapan sendu dagu terangkat, dia lalu mengibaskan kain persegi tadi dengan kencang dan melingkarkanya ke leher gue lalu menjepitnya dengan jepitan rambut. Mampus gue.

            Rasanya gue pengen kencing di celan saat itu juga, tukang potong rambut itu lalu mengambil gunting dan memutarkannya di jari telunjuk, seperti seorang sherip sedang memutar pistolnya. Dia menatap gue dibalik cermin sambil sesekali memegang rambut gue. Ya tuhan ini orang kayak mau motong kepala gue.

Tukang potong rambut itu lalu bedehem.

”Kamu mau apanya yang saya potonggg?” dengan suara yang melambai.

SYADAKOLLOH’HULAZIIM....

Gue langsung siram tukang potong rambut itu pakai air zam-zam dan baca ayat kursi. Ngondek ternyata cin... cucodehh ahh rempong... Penampilan garang nyatanya bukan jaminan sifatnya lelaki, tukang potong rambut ini ternyata kehidupannya tidak lepas dari kutek dan bedak. Kalau kayak gini rasanya gue gak perlu takut dengan penampilannya, tapi takut dengan mujud aslinya. Jangan-jangan pas keluar dari salon ini gue udah kaga perawan lagi #eh.

”Mas ko diem aja? Mau apanya yang dipotong.” mendengar cara dia ngomong melambai, satu persatu bulu ketek gue pada rontok sendiri.

”I-iya emba... eh mas, anu kayak gini.” gue bingung harus panggil apaan, Mas atau Mba, atau mungkin gue panggil Mba bro.

Gue berhati-hati, pelan-pelan jelaskan sama spesies satu ini, model gimana yang gue mau, salah ngomong jangan-jangan daun telinga gue kepotong. Sebelum ritual rambut gue dipotong, tukang potong rambut ngondek ini menyemprot rambut gue dengan air, lalu dia merapikannya ke arah tengah semua. Perlahan tapi pasti, dia coba memotong bagian pinggir rambut gue. Ketika bagian kiri, kanan, dan belakang sudah terpotong tukang potong rambut ngondek itu bilang.

”Mas... ini bagian atasnya saya potong sedikit ya,” dia sambil ngupil ”biar kelihatan gak kayak tempurung kepala.”

”Kelapa Mba bro,” kata gue pelan.

”Kelapaahhh....” katanya mendesah tiba-tiba. Oke ini mulai gawat.

Saat dia selesai ngomong, dia juga baru selesai ngupil. Parahnya pas ngupil gak di sentil tuh upil, atau ditempelen ke dinding, dia langsung megang kepala gue ngacak-ngacak rambut gue. YA TUHAN RAMBUT KU SUDAH TIDAK SUCI LAGI!!!

Pasir mana pasir...

Helai demi helai rambut gue terpotong entah upil tadi masih nempel atau ikut gugur dengan rambut yang terpotong, gak kerasa waktu sudah berlalu setengah jam lebih. Ini waktu terlama yang pernah gue habiskan untuk duduk di atas kursi salon. Padahal biasanya gue cuman perlu waktu sepuluh sampai limabelas menit, untuk menyelesaikan stly rambut yang biasa gue minta, tentunya dengan orang yang udah biasa motong rambut gue. Gue mencoba untuk sabar, si tukang potong rambut yang baru ini terlihat sangat berhati-hati ketika memotong rambut gue. Dan Hampir satujam akhirnya rambut gue selesai dipotong.

****

Disaat menulis ini gue sesekali memperhatikan sytl rambut gue yang agak berbeda di cermin, dan melihat lebih dalam lagi perasaan gue sekarang kepada seorang wanita teraneh yang ajaibnya gue suka, Ida. Saat gue mencoba untuk move on, selama beberapatahun dibayang-bayangi oleh sang mantan, selama itu juga gue sudah mengucapkan kata suka didalam hati kepada beberapa cewek. Percayalah, cowok itu cuman perlu waktu beberapa detik untuk bilang suka sama cewek yang baru dia kenal atau lihat. Tapi perlu waktu yang lama untuk bisa benar-benar mengakui cintanya. Dan wanita aneh itu, sudah pernah membuat gue mengatakan cinta kepadanya.

            Saat rambut gue dipotong oleh orang yang baru, gue harus ekstra sabar menunggu sampai potongan rambut gue selesai, walaupun gue harus bisa menerima kenyataan kalau hasil akhirnya agak berbeda. Alasanya sederhana: karena dia orang baru. Gue mencoba membayangkan kalau gue berada diposisi tukang potong rambut. Disaat gue menghadapi klyn yang baru, dengan stly rambut yang tidak biasa gue potong, gue harus melakukannya sesuai dengan keinginan klyn, itu artinya: gue harus berusaha. Dan gue harus melakukannya perlahan-lahan agar tidak salah potong, itu artinya: gue harus bersabar.

Perkataan Icha di cafe dan pertemuan gue dengan tukang potong rambut baru di salon itu ada hubungannya dengan perassan gue sekarang. Berjuangan dan bersabar, dan itu adalah kalimat yang gue butuhkan sekarang, harga mati untuk bisa mendapatkan apa yang inginkan. Move on.

23 comments:

  1. Panjang banget tulisannya..
    Banyak cerita pula..
    Tapi berhasil bikin gue senyum-senyum cantik(?)
    Muahahahaha

    Eh btw, itu tukang cukur kekar tapi ngondek juga banyak di salon2 daerah gue -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hha iya ini tulisan sebenernya mau di masukin dlm naskah

      serem abis kalau liat tukang cukur begono -_____-

      Delete
  2. wah udah kayak cerpe aja nih,,,

    kurang fokus ya? ketauan sama icha kalo kamu ngarepin makan hahah...

    bagi email rekom ibn dong.... plisss T_T
    kasih syarat deh kalo perlu

    ReplyDelete
  3. hahaha.... tetep ngakak baca cerita lu... walau sekarang berformat cerpen... jago juga lu, dro? :P

    Btw untung lu ga ketiduran, bisa-bisa lu disunat ulang.... hahaha... :)))

    ReplyDelete
  4. @sabda hihi begitulah. nih email gue www.ar_723@ymail.com syarat apa ya gue kurang ngerti hhe

    @masiman hihi iseng2 aja mas daripada gak ada yg ditulis udah lama unpost :p ini tulisan yg di draf baru keluar sekarang... jgn sampe deh sunan dua kali gimana caranya bikin keturunan :3

    ReplyDelete
  5. hmm, menurut saya kamu ini sama aja dengan nulis penggalan novel. kalimatnya, kata2nya, semuanya seperti saya sedang membaca novel.
    udah lama ngga mampir sini tp kemampuan nulis kamu makin jago ya dit. Cerita ke galauan dan jaim kamu, sms-sms, penggalan2 cerita, udah seperti penggalan novel. keren dit.. :D

    ReplyDelete
  6. unyu unyu gimana gitu ya critanya :D

    ReplyDelete
  7. itu ngedit potonya gimana yak :)))

    btw alurnya bagus :)))

    ReplyDelete
  8. @kameutia hhe terlalu memuji, saya masih belajar juga kak

    @rini makasihh

    @kavina pake aplikasi di android ka agingbooth. makasih kak komentarnya :D

    ReplyDelete
  9. waaahhh cpek bgt bca ni crita ampe kelar.....
    knpa ga di bikin novel aja,
    hahahaha :D

    tpi bgus jga critanya ampe bikin gua snyum2 sndiri!!!!

    ReplyDelete
  10. @javas udah mas, tp masih ada yg harus diperbaiki

    @aji wahh gitu ya hhe makasih banyak ya, ini lagi proses perbaikan :D

    ReplyDelete
  11. panjang amirr -___-

    bagus juga ceritanya buat ketagihan dan terus baca... senyum" juga dikit.hahaha

    ReplyDelete
  12. aslii, panjaang bangeett..
    ceritanya bagus, lumayan bikin tawa dehh hehe :D

    ReplyDelete
  13. @arief @rigilblog makasih masss komentarnya :D

    ReplyDelete
  14. balik berkunjung cuy, http://rizaapianoor.blogspot.com

    ReplyDelete
  15. wih emang tulisan lu itu khas bgt ya, suka deh gua :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wiihh ada cirinya ya hhe emang gimana ciri khas nya tulisan gue?

      Delete
  16. Duh, males bacanya. panjang banget! malas jadi stuck ngeliatin foto di pojok kanan bawa itu..... *muter laptop*

    salam kenal kak ;)

    ReplyDelete
  17. akhirnya kelar juga bacanya
    panjang sangat ceritanya, gak cape tuh ngetiknya?

    nice post!

    ReplyDelete
  18. luar biasa...
    butuh berapa hari dith buat menulisnya...
    :P

    kasih icha cowok ganteng salah satu personil boyband,,,pasti langsung bisa move on..
    :P

    ReplyDelete
  19. @ervirdi jadi gimana pendapat anda hhe

    @dihas lupa gue hha mungkin 1harian buat nulis, terus beberapa hari buat perbaikan sana-sini. gue kasih lo aja mau gak lo nya?

    ReplyDelete

Tinggalin komentar sesuai dengan isi tulisan ya. Happy Blogging!!! :D