Bubur Ayam (Dibalik C[d]eritaAnakMagang) FIKSI

, , 40 comments

“PING!”

Suara Hp gue berbunyi.  Perlahan gue merahi Hp di samping meja tidur, pagi ini badan gue sebenarnya masih sedikit sakit karena malam tadi gue baru pulang main futsal pukul 12 malam sama temen-temen kampus.  Ternyata ada notif dari Line, ada yang nge-chatting gue.


“Kk sibuk gak?”


Gue langsung berfikir ini cuman mimpi, gak mungkin itu chating dari Dia.  Gue lalu memejamkan mata lagi tapi Hp gue malah bunyi lagi.


“PING!”


“Dede k rumah kk yaa”

Cerita ini sebenarnya adalah lanjutan dari cerita Pertemuan dengan Ida dan Potongan Baru  atau "Dibalik #DeritaAnakMagang" jadi gue saranin sebaiknya kalian baca dulu “Pertemuan dengan Ida dan Potongan Baru” agar nyambung ketika baca lanjutannya ini.

Satu lagi, ini adalah cerita fiksi belaka (baca: karangan).  Inget ya gue udah bisa move on sekarang. *maaf banget pamer*

Selamat membaca! :D

Kamfret, ini pasti cuman mimpi, pasti mimpi.  Lalu tiba-tiba Hp gue berbunyi kali ini ada yang nelpon, tertulis di Hp call: “Dia”. Ahh mimpi macam apa ini, gue yakin pas angkat telepon ini gue akan terbangun dan pasti semuanya akan kembali seperti biasa.  Gue pencet tombol hijau.

“Halo ka aditt..”


“Emmm....”


“Kakak lagi dimana? Aku mau ke rumah kakak nih”


“Emm-iyaa-silahkan,” kata gue dengan suara masih ngantuk.


“Kakak gak sibuk kan tapi?”


“Iyaahhh-enggakkhh-sibukk, hoaammm..” gue menguap.


“Oke dede sudah deket rumah Kakak nih,” katanya dibalik telepon di mimpi, “tutup dulu ya telponnya.”


Tuutt... tutt.. tutt..

Nah kan benar ini semua cuman mimpi, mana mungkin si Dia pagi-pagi mendadak nongol mau ketemu gue ngajak balikan ketemuan.  Kemarin aja, gue sudah sering ngajak ketemuan tapi Dia-nya yang gak mau, dengan seribu macam alasan.  Gue lalu memejamkan mata lagi berharap bisa bangun dari mimpi aneh ini.


“Adittt...” suara Mama “adit kamu masih tidur? Ayo bangun...”


“Ahh Mamaa masih ngantuk,” kata gue sambil menutupi kepala dengan bantal “kan aku masih libur kuliah maa,”


“Iya mama tahu kalau itu,” kata Mama sambil menarik-narik bantal yang menutupi kepala gue “Kamu ada janji kan pagi ini sama temen.”


“Iya ada tapi hari minggu maa sama si Udin, ini baru hari jumattt,”


“Tapi itu temen kamu sudah nungguin di ruang tamu dari tadi,”


“Aduh siapasihh.  si Udin, udah suruh dia pulang aja sana aku masih ngantuk.”
 

Kali ini Mama tidak menarik-narik bantal dari kepala gue lagi, terdengar nafas berat dari hidungnya.


“Hemm.. bukan Udin,” kata Mama pelan “dia cewek, cantik banget lagi, mama baru pertama lihat dia, pacar baru kamu ya? Atau dia salah masuk rumah.”


Mendadak gue terbangun dari ranjang “Cewek? Namanya siapa?”


“Astafirullah mama lupa tanya namanya,” Mama nepuk jidat “sebaiknya kamu ke ruang tamu sekarang, kasian cewek cantik nunggu lama-lama cuman mau ketemu cowok bau kebo kayak kamu.”


“Mamaaaa....  -____- “


Perlahan gue beranjak dari kamar, sambil menyapu-nyapu mata yang masih sayup dan mengumpulkan nyawa.  Sebenarnya gue malas banget menerima tamu yang gak jelas pagi-pagi kayak gini, mana badan gue masih capek semua.  Pelan-pelan gue sampai di ruang tamu.


“Kakak baru bangun tidur yaa, maaf ya ganggu tidurnya.”


Suara itu seperti tidak asing di telinga gue, terdengar sangat halus seperti kapuk.  Pelan-pelan mata gue mulai fokus dan melihat ke arah suara itu berasal, dan ternyataaa...


“KEBO BAUU!!!” reflek gue menutup mulut sendiri “Ehh, maaf dee maaf bukan kamu kebonya,”

Wajahnya agak cemberut “Emm... jadi aku bau kebo ya,”


“Eh bukan kok, bukan kamu kebonya” gue salah tingkah “Kakak kebo nya kakak..”

Mampus gue, ternyata chatting dan telpon tadi bukan mimpi.

“Emm... kalau begitu tunggu sebentar ya kakak mau mandi dulu hhe” kata gue cengar-cengir, lalu ngiprit pergi.

****

“Dimana ya kak sarapan yang enak pag-pagi gini?”


“Emm... kamu mau makan apa dulu?” tanya gue balik, sambil mengencangkan sabuk pengaman.

“Bubur ayam aja deh kak, kebetulan lagi dingin gini udaranya, kan enak makan yang anget-anget.  Dimana  yang enak kak?” kata Dia sambil menghidupkan mobilnya.

Mata gue menerawang ke langit-langit, “ke jalan Antasari aja disana ada bubur ayam enak, lewat jalan A.Yani ya dee,”


“Oke deh kita kesanaa.”


Saat perjalanan kami berdua diem-dieman, kami seperti sepasang orang bisu yang sebenarnya ingin berbicara tapi bingung apa yang ingin dibicarakan. Seakan masih tidak percaya, di dalam mobil gue mencoba mencubit-cubit tangan sendiri.  Ini pasti mimpi di dalam mimpi.  Perlahan udara disekiat gue terasa dingin karena AC di dalam mobil Dia, gue lalu berpikir: apa iya di dalam mimpi kulit gue bisa merangsang udara sekitar?  Entah mimpi apa gue semalam yang membuat pagi ini tiba-tiba saja gue berada satu mobil dengan Dia, seorang mantan pacar yang sudah sangat lama tidak bertemu.


Pelan-pelan leher biadap gue mengarah ke arah wajah Dia, mata biadap ini memperhatikan bibirnya yang tipis berwarna merah muda, dan mata biadap ini menatap mata indahnya.


Sudah lama sekali gue tidak memandang wajahnya, memperhatikannya dengan dekat itu bisa membuat batin gue terasa damai, merasa tenang dan nyaman bila di sampingnya. Menatap sepasang mata yang sangat cantik, sudah lama gue tidak memuji mata indahnya, dan sudah lama... gue tidak memanggilnya sayang.


“Ada apa kak?” katanya tiba-tiba, gue langsung mengalihkan pandangan.


“Emm... gak ada apa-apa,” kata gue salah tingkah.


“Pasti mau bila  dede cantik yaa hhe”


“Iih pede banget siapa yang mau bilang kamu cantik,”


“Terus apa ayooo,” katanya sambil tersenyum.


Sayangg” batin gue. “gak mau bilang apa-apa kok,”


Matanya mengarah fokus ke jalan lagi, dan bibirnya terangkat.  Senyum.  Gue lumpuh.
Belakangan ini kota Banjarmasin sedang tidak bagus, sering terjadi angin kencang lalu hujan deras mendadak.  Dan pagi ini di kota Banjarmasin sedang mendung dan berangin, tapi entah kenapa gue merasa pagi ini sangat cerah dan hangat.  Rasa seperti ini lah yang sempat gue harapkan, ketika berencana pengin ketemu Dia di SMP saat acara perpisahan kelas sembilan kemarin, tapi malah sebaliknya yang terjadi, gagal.


Gue melihat ke arah pinggir jalan.  Saat ini kami sedang di jalan A.Yani, dan kami melewati sekolah itu, gue melihat halaman depan SMPN 26 Banjarmasin, SMP gue dan Dia dulu.  Sekolah yang sudah banyak memberikan kenangan tersendiri untuk gue, sekolah tempat gue menimba ilmu, sekolah yang membuat gue bisa punya banyak teman, dan sekolah yang telah mempertemukan gue dengan Dia.


Dan tiba-tiba lembaran masa lalu indah itu terbuka sendiri, gue ingat pernah duduk berdua dengan Dia di depan jembatan sekolah, waktu itu Dia baru saja selesai bagi rapot, kami berdua sedang menunggu jemputan disana sambil ngobrol ketawa-ketawa.  Sekarang gue sudah kuliah dan Dia sudah kelas dua SMA, sudah cukup lama hal itu terjadi.
 
“Dee...” kata gue, Dia menoleh “gimana kemarin hasil rapotnya?”


“Ihh bagus kak,” katanya dengan nada yang sangat antusia “Dede masuk lima besar, Alhamdullilah gak sia-sia ikut les,”


“Hebat-hebat,” gue tepuk tangan sambil tersenyum “terus dikasih hadiah gak sama Mama?”


“Gak ada kak, dede sih gak ngarep juga lagian kaya anak kecil aja,” kata Dia, gue angguk-angguk “Tapi dede seneng banget deh kak,”


“Seneng kenapa?”


“Kevin ngasih kejutan kecil kak, dia ngasih boneka lucu banget .” Lagi-lagi bibir mungilnya terangkat, senyum.  Dan gue menahan-senyum saat mendengar nama itu.


Yeah, Kevin adalah pacar Dia.  Dia dan Kevin sudah cukup lama menjalin hubungan, dan mereka berdua sekarang menjalani hubungan jarak jauh a.k.a LDR.  Saat ini kevin sedang menjalani studi di UI di jurusan kedokteran.  Gue dan Kevin seumuran, dulu kami sempat berkomunikasi beberapa kali melalui SMS, waktu itu gue masih menjalin hubungan dengan Dia dan parahnya, Kevin sering menanyakan tentang Dia di SMS sama gue.


Gue dan Kevin tidak pernah bertemu, tapi gue pernah sekali melihat Kevin di sebuah SMA.  Waktu itu gue sedang mengikuti lomba bongkar pasang tandu (PMR) saat itu Kevin datang tidak sendiri, dia bersama seorang cewek atau bisa dibilang pacarnya, karena gue melihat Kevin menggandeng lengan cewek itu.  Lalu bagaimana gue bisa tahu itu Kevin?  Gampang, gue pernah lihat foto Kevin dan gue tahu tahu asal sekolahnya dari friendster Kevin, waktu itu gue tanya sama Dia apa akun friendster Kevin.  Ngomong-ngomong friendter gue berasa tua banget. -___-


Gue penasaran sama tampang Kevin waktu itu, dan gue lebih penasaran kenapa Kevin sering tanya-tanya tentang Dia, padahal Kevin tahu waktu itu kalau status gue pacaran dengan Dia, dan Kevin juga sudah punya pacar sendiri.
 
 “Dee kamu sudah bilang sama Kevin kalau kita lagi jalan sekarang?”


Raut wajahnya berubah “Enggak Kak,”


Terjadi jeda.


“Mana mungkin dede kasih tahu Kevin, bisa-bisa aku di gorok haha,” Dia ketawa sambil menatap gue “Kakak sendiri gimana?”


“kenapa?”


“Sudah minta izin sama pacarnya?”


CROTT!! OKSIGEN MANA OKSIGEN...
 
Gue menelan liur, benar-benar  bego.  Kenapa gue menanyakan masalah itu, dan sekarang Dia yang nanya balik ke gue.  Percayalah seorang yang gagal move on kayak gue, langsung gondok kalau ditanyaan ‘mana pacarnya?’ apa lagi yang tanya itu mantan pacar sendiri.


“Hahahaaa...” gue ketawa bego “haha kan jomblo jadi bebas hahaaa..” gue nangis.


“Huu.. dasar.  Betah aja ya lama-lama sendiri,” Dia tertawa.


“iya kakak betah kok lama ngejomblo, asal nanti kita balikan.” batin gue. #DoaTunaGagalMoveon


Saat Dia tertawa mata gue tertuju pada bagian dalam bibir mungilnya, gue baru lihat gigi bagian bawahnya dipagerin warna hijau.  Meskipun dikasih pagar tapi tidak memudarkan ke indahan senyumnya yang selalu bisa bikin gue lumpuh.


“Emm... ngomong-ngomong gimana kabar Kevin disana baik-baik aja kan?”


Dadanya sedikit terangkat, terdengar suara nafas berat “Baik kak,”


“Sukur deh kalau gitu.  Yang penting selama kuliah disana dia punya banyak temen, dan yang penting dia masih ingat kamu,”


Tiba-tiba gue sok perhatian dan nge’doain Kevin biar masih ingat sama pacarnya, padahal aslinya... “semoga Kevin lupa sama kamu”.


Kevin memang memiliki wajah yang lebih ganteng dari gue, dia punya segalanya apa yang gue tidak punya, tapi sayanganya dia adalah orang yang tidak terlalu berbaur dengan masyarakat atau bisa dibilang antisosial, berbeda jauh dengan gue yang suka berbaur dengan masyarakat dan aktif dalam acara arisan ibu-ibu PKK.


“Kak aditt..” nada bicaranya tiba-tiba menjadi pelan.  Gue menoleh. “Aku agak sebel sama Kevin.”

Kedua alis gue terangkat, “sebel kenapa dee?”                              


“Masa kadang kalau aku lagi kesepian, lagi bete, butuh dia, dianya malah gak ada.”


“Yaa... mungkin dia lagi sibuk ngerjain tugas kuliah dee,” kata gue coba memberikan pengertian “Kamu harus ngertiin Kevin, biasa mah anak kuliahan semester satu emang sibuk banget apalagi dia jurusan kedokteran kan.”


“Iya sih kak,” kata Dia membenarkan “Padahal sebelum dia mau kuliah disana, aku sudah bilang kalau aku gak suka, kan aku jadi gak ada temen kak, kakak tau sendirikan aku ini anak rumahan sama kayak dia juga, gak punya banyak temen, hari-hari dede selalu sama Kevin.  Dan sekarang hari-hari dede cuman di kamar, sekolah, sama tempat les.”


Gue hanya bisa mendengarkan omongannya tanpa bisa memberi solusi, sampai akhirnya sebuah peryataan mengejutkan keluar dari bibir Dia.


“Coba Kevin orangnya kayak ka adit,” mata gue tiba-tiba membesar “Asik, nyenengin, humoris, bisa buat dede ketawa terus dan... selalu ada buat dede, ya... walaupun dede sadar dede selalu gak ada tiap kakak perlu dede.  Tapi dede yakin kakak pasti ngerti alasanya apa.”


Mulut gue benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengarkan peryataan dari Dia, pandangan gue kembali lurus ke arah jalan tidak berani menatap Dia.


Sebelum Kevin kuliah di Jakarta, Dia sering hubungin gue minta tolong untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah Dia yang berhubungan dengan komputer, dan gue selalu menyelesaikannya.  Tapi disaat gue coba menghubungi Dia lewat SMS atau chatiing, SMS atau chatiing gue jarang banget Dia balas, kalaupun dibalas isinya singkat, padat, jelas dan bikin nyesek.  Contohnya:


Dee kamu lagi sibuk?
Send Dia (pukul: 19.00)


Gue nungguin, dan “PLUNG!” HP gue bunyi.


Enggak ka
From Dia (pukul: 05.00)


Gue sms setelah selesai sholat magrib dan baru dibalas setelah sholat subuh.  Nyesek abis. #NasipNungguSmsPacarOrang


Tapi saat Kevin kuliah di Jakarta sekarang, frekuensi gue dan Dia seperti tidak terbatas, gue jadi makin sering kontek-kontekan sama Dia via SMS atau chatting, dan gue juga gak perlu nunggu sampai sholat subuh lagi menunggu balasan SMS atau chatiing Dia.  Tapi tentunya itu semua tidak setiap hari kami lakukan, hanya pada hari-hari tertentu saja kami berhubungan, tidak sesering dulu...  Waktu pacaran.


Dikeheningan itu gue coba membuka mulut, menanyakan sesuatu yang cukup berbahaya sebenarnya.


“Dede masih sayang Kevin gak?” kata gue pelan.


Kata orang kalau cewek diam aja waktu ditanya itu artinya ‘iya’, tapi apa ini berlaku sekarang?  Dia cuman diam tanpa memberikan jawaban atau isyarat apapun, ini benar-benar membuat gue bingung dan penasaran sendiri.

****

Tidak terasa kami sampai ditempat tujuan.  Pagi itu gue sebenarnya sangat lapar, tapi karena lagi jalan sama Dia, jadi gue akan sedikit tahan rasa lapar itu, demi menjaga image gue sebagai cowok ganteng.  *GAK NYAMBUNG BEGOO!”

Pagi itu gue dan Dia memilih menu yang sama, yaitu bubur ayam setengah porsi dan kami memesan dua gelas teh hangat.  Udara yang cukup dingin di pagi itu hampir tidak terasa diare kulit ari gue,  celotehan dengan Dia membuat suasana terasa sangat hangat.  Kami membicarakan banyak hal, mulai dari keinginan Dia untuk segera membuka online shop, masalah kawat gigi, sampai masalah gadget.  Gue juga menceritakan kesibukan gue selama menjadi mahasiswa, cerita masalah gue melatih PMR di SMP kami, dan cerita soal naskah novel “Derita Anak Magang” gue yang belum kelar-kelar.


“Wiih... keren pasti tuh cerita novel nya kak,” kata Dia dengan nada antusia, “Tapi masa sudah satu tahun belum kelar juga?”


Gue nyengir “hhe yaa itu, kakak kadang suka males ngelanjutinnya de..”


“Emm... gini aja gimana kalau Kakak buat bingkai harapan aja.”


“Bingkai harapan?” kata gue bingung.


“Iya kak, jadi gini,” Dia membenarkan posisi duduk-nya dan menaruh ke dua tangannya ke atas meja sambil menatap mata gue dengan serius.  Dan kaki gue lagi-lagi malah lumpuh. “Dulu dede sempat ke gramedia dan baca salah satu buku motivasi, di buku itu ditulis bahwa ‘cobalah tulis sebuah keinginan mu di atas kertas dan bingkai tulisan itu lalu pasang di kamar mu’



“Kenapa musti ditaruh di kamar? Kenapa gak di ruang tamu aja biar orang-orang tau hahaha” kata gue ngakak sendiri padahal gak lucu.


Tiba-tiba pipi Dia menggembong dan alisnya berubah tajam.  Gue menelan liur.


“Ehh... iiiya~iyaa kakak dengerin,”


“Bingkai itu di taruh di kamar biar kita selalu ingat apa yang ingin kita capai, tapi tentunya kita juga harus berusaha dan berdoa kak.”


Tidak lama pelayan datang membawa pesanan kami dan menaruhnya di atas meja.  Dia melanjutkan pembicaraan.


“Kakak masih ingatkan dede kamarin peringkat satu waktu UN SMP?” gue angguk-angguk “Nah kira-kira beberapa bulan sebelum itu dede nulis angka NIM yang dede mau, waktu itu dede nulis 39,5 eh ternyata dapat 38,5 walaupun bedanya cuman satu tapi dede seneng banget.”

Gue menghirup teh hangat “Bingkai harapan ya, kayaknya boleh di coba tuh.”


“Iya kakak harus nyobain, kata di buku sih pasti berhasil, dede juga pernah nulis harapan pengen punya kucing padahal gak terlalu suka tapi malah beneran punya.”


“Oke seandainya sekarang kakak punya kertas dan bingkainya kakak mau nulis sesuatu,”


“Nulis apa kakak?” kata Dia.


“Kakak mau nulis kalau pengen makan bubur ayam sekarang, soalnya kalau kelamaan bubur ayamn-nya keburu dingin.”


Dia tersenyum manis.


Wajahnya terlihat sangat senang dan pagar giginya terlihat lagi. “Kakak ini bisa aja, ayo makan.”

Saat makan bubur ayam gue jadi gak konsen, sesekali gue mencuri pandangan ke Dia. lagi.  Saat Dia menunduk menyendok bubur dari mangkuknya.  Dan parahnya perasaan lama itu seperti terkumpul kembali saat ini, seperti kepingan-kepingan pazzel yang dulu sempat menghilang, dan sekarang rasanya kepingan pazzel itu kembali tersusun satu persatu secara berkala.


Sudah lama sekali gue menginginkan suasana seperti ini, gue berharap bisa jalan berdua sama Dia dan hari ini harapan itu kesampaian juga.  Walaupun sebenarnya Dia sedikit agak takut jalan sama gue, Dia takut kalau-kalau ketemu dengan teman-teman Kevin waktu jalan sama gue.  Iya gue sadar, gue sekarang lagi jalan sama mantan pacar atau tepatnya pacar orang, gue sadar tindakan gue ini bisa buat Kevin marah atau parahnya lagi Kevin akan mutusin Dia, kalau Kevin tahu gue lagi jalan sama Dia.  Tapi pertanyaannya, apa perasaan ini salah?  Apa perasaan gue salah kalau keinginan lama itu kembali tersusun lagi?
 
****
Gue duduk di depan meja komputer dan memandang langit malam dari balik jendela kamar.  Tiba-tiba gue memikirkan Dia, gue memikirkan tentang perkataan Dia di dalam mobil tadi pagi “Coba Kevin orangnya kayak ka adit”.  Dari kalimat pendek itu, gue menangkap seolah-olah Dia berharap Kevin seperti gue, dan berarti secara tidak langsung Dia suka sama gue, itu berarti ada kemungkinan lampu hijau buat gue.  Ahh... apa mungkin ini cuman pikiran gue aja, tapi kenapa waktu gue tanya “Dede masih sayang Kevin kan?” si Dia malah diem aja.

Jari gue menekan tombol power notebook, sambil menunggu proses booting gue lalu meraih Hp dan membuka Line lalu melihat status Dia.  Emot senyum dengan gambar hati di sampingnya tertulis disana.  Gue gak mau kegeeran siapa tahu status itu untuk pacarnya.  Tapi lucunya gue malah kesal sendiri seandainya emot itu untuk pacarnya.  Apa mungkin gue cemburu?  Tidak mungkin.

Saat desktob keluar dari layar, gue beberapa kali nge-refresh notebook, dengan cara menekan tombol F5 cara pintas untuk refresh selain klik kanan lalu klik kiri mouse.  Refresh atau bahasa Indonesian nya penyegaran, itu berfungsi agar PC atau laptop bisa dijalankan dengan ringan saat awal PC atau laptop dinyalakan, jadi tidak terlalu berat saat kita membuka beberapa folder atau menjalankan aplikasi-aplikasi.



Selama menjadi mahasiswa ada satu folder yang paling sering gue buka yang bertuliskan huruf kapital semua, nama foldernya adalah: “TUGAS KAMPUS (SIKSAAN MAHASISWA)”.   Saat gue pengin ngeklik itu folder tiba-tiba pandangan gue tertuju pada satu folder.  Satu folder yang sudah sangat lama ada dan lama tidak gue buka, mungkin di dalamnya sudah ada kelabang dan ulat bulu.

Nama foldernya adalah: “X Galeri” atau bahasa gue sendiri adalah galeri mantan, dimana folder tersebut menyimpan foto-foto mantan pacar gue.  Terdapat banyak foto disana tapi, di dalam foto-foto itu orangnya sama... satu senyum hangat dan sepasang mata indah yang sama.  Gue menggerakan mouse, mengklik salah satu foto.  Di dalam foto tersebut terlihat seseorang yang sedang menengok ke arah belakang, menggunakan kerudung putih bertuliskan SMPN 26 Banjarmasin, menggunakan rok berwarna biru, dan sambil tersenyum malu.  Senyumnya begitu hangat dan sepasang mata indahnya dapat membuat siapa saja tersenyum menatapnya.

Itu adalah foto acara perpisahan atau pelepasan murit-murit kelas sembilan, yang gue ambil secara diam-diam dua tahun lalu, dan itu adalah foto... Dia.

Entah kenapa gue merasa Dia itu seperti setan, muncul dan menghilang sesuka hati nya.  Tidak bisa ditebak apa maksudnya hadir dan pergi tanpa alasan.  Gue tidak meyalahkan Dia, tapi gue menyalahkan diri gue sendiri.  Kenapa sampai saat ini gue masih gak bisa melupakan Dia, padahal gue sudah punya niat untuk move on, membiarkan Dia sama Kevin bahagia.

Mungkin... ini karena niat gue untuk move on kurang maksimal, gue benar-benar kurang berusaha dan berdoa.  Apa perlu gue membuat bingkai harapan?  Menulis di atas kertas: “Lupakan Mantan!” lalu membingkainya, menempelnya di dinding kamar, agar tiap hari ingat apa yang gue inginkan.  Tapi... apa itu yang gue butuhkan?

Sulit tiba-tiba kata itu yang terucap.  Gue menarik nafas panjang-panjang lalu mengeluarkannya dengan paksa, mouse mengarah ke tombol close pada foto itu, mengklik tombol backspace dan menekan tombol... delete.  Sekarang X galeri sudah terhapus dari localdisc D gue.

Seandainya menghapus ingatan tentang Dia (mantan pacar) semudah menekan tombol delete.




40 comments:

  1. X galeri.... kirain gue, galeri bokep... Hahaha.... Ups, malah curcol disini... -_-

    btw nice story, dit... gue jadi dapet inspirasi buat novel gue selanjutnya... hehehe... makasih... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu mas punya "X galler" juga kan #eh

      Alhamdullilah mas kalau tulisan saya bisa jadi insfirasi orang2 :D

      Delete
    2. sssttt.... diem2 yah.... jangan kasih tahu siapa2.... :P

      Delete
    3. perasaan yang lain bacadeh mas -____________-"

      Delete
  2. Berbakat jadi penulis nih ... :)

    Btw sudah pernah menuis buku Kak Adittya ?.

    Boleh minta follow backnya :)

    @Salam Kenal

    A+ Rayen Zone +A

    ReplyDelete
    Replies
    1. waahh saya masih belajar ray :D
      ini lagi coba permak naskah novel do'a in moga cepet selesai yaa

      boleh kok hhe

      Delete
  3. gila panjang aman post nya.. mueheheh suka nulis ye? anyway PERTAMAX DEH buat yang ini.. salam kenal yoww.. blog gue www.jombloabsurd.blogspot.com silahkan melipir...

    ReplyDelete
  4. mmmm good bgt deh ceritanya, move on udh berhasil nih, ceritain dong yg power ranger pink #ups

    ayo dong selesain bukunya, mau baca nih, penasaran hehe

    ReplyDelete
  5. Beuh, gak tau harus ngomong apa.. Ini sebenernya postingan yg nyesek tapi entah kenapa berasa manis dibaca. :D

    ReplyDelete
  6. haha, ini beneran fiksi mas?
    kayak cerita beneran dibacanya :D

    ReplyDelete
  7. @Danang salam kenal juga gannn...

    @bea iya dong hha xD move on! move on! wahh gak bisa diceritain PRP nya bee sory yee :p iya iya gue lagi usaha inii

    @feby tsehhhh *kipas rambut*

    @septi fiksi dong emba hhe

    ReplyDelete
  8. weeks, kirain tadi benerab ini cerita nyataa.. ^^
    kalo jadi cerita nyata langsung rebut aja dit, kan cowonya jauh juga.

    semangaat dit nulisnya, lanjutin trs yaah ^^

    ReplyDelete
  9. kok kayak cerita kehidupan nyataku di suatu kota yg udah aq tinggalin....
    pasti ngeledek ya....
    # tp beneran lho mirip dan malahan sama soal cinta2annya....

    ReplyDelete
  10. ini fiksi??
    yakin cuma fiksi??
    yakin udah bisa move on??

    #ngeledek :D

    ReplyDelete
  11. @kaadeayu thank kak :D

    @dihas gue gak tau ya kisah asmara lo gimana has :p
    wahh jadi sama yaa, pasti sekarang jadi inget mantannya nihh

    @thya -_____-"

    ReplyDelete
  12. mau koment apa yak :D, lumayan sih cerita nya jelas, tapi dari awal blum ada yang bikin gregetttt ,, cuma koment loh ... :D

    ReplyDelete
  13. Btw lu punya hape emang? sok 'PING' segala? bukannya kalo nelpon lo biasanya di warnet? wkwk

    ReplyDelete
  14. Segitunya ya sama mantan juga :D Wekekeek
    Anda sudah di tahap gagal move on tingkat atas.

    pertanyaannya, andaikan Mantan kamu itu bisa baca post ini, bagaimanakah perasannya? :D
    Itu * tetap di Mario Teguh Golden Ways* *angkat telunjuk* *tepuk tangan*

    ReplyDelete
  15. keren sih, gue suka dengan yang lo tulis dit. tapi gue malah ngerasa kayak baca tulisannya radityadika.
    tapi lo udah bagus. sallut..

    ReplyDelete
  16. bagus juga ceritanya... segar dan menghibur.
    cuma, kalau aku sih ngapain juga buang waktu pergi dengan mantan pacar... bikin makin galau aja hehehe

    ReplyDelete
  17. @nana hhe iya embaa gak papa :D

    @massukron ke wartel mas -____-

    @putrijs hha tingkaht langit ke tujuh mungkin :p hhe kayaknya dia udah baca dehh

    @anonim terlalu banyak yg kayak bang radit, tapi saya gak ada niat niru dia kok hhe tulisan ini original yg penting hha

    @catatankecilku wkwkwk iya sih tantee tapi kalau masih ngarep gimana ya? :p

    ReplyDelete
  18. ini fiktif ya? ato beneran?
    btw, lu pinter ya mendeskripsikan cerita lu disini, gue jadi ikut ngebayangin atas apa yang lu tulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waahh makasih banyak ya :D
      kalau bisa baca juga tulisan "Pertemuan dengan Ida" sama "Potongan Baru" hhe

      Delete
  19. aku tau cwe nya itu spa?
    Dia angkatan aku kan ?

    ReplyDelete
  20. dit gue salut sama lo...
    salut banget, kok bisa ya karakter lo disini kerjanya makan hati mulu :p

    ReplyDelete
  21. @husin sailen :D

    @masgemboool sakit aku mas sakitt -______________-"

    ReplyDelete
  22. Wiieh itu nyata..
    ngapain ka dibikin tikif"

    Biar sekalian nyesek nya *lho hee??

    ReplyDelete
  23. hmm kayaknya gue tau fiksi ini inspirasi nya dari mana, hohoho

    ReplyDelete
  24. Panjaaaaang. Berbakat nih kayaknya :D "KEBO BAUU!!" hiahaha *blogwalking*

    ReplyDelete
  25. itu kenapa ceritanya gak di bukuin aja. bagus kok

    ReplyDelete
  26. Sudah banyak yang mengatakan bagus bro , tingkatkan usaha nya bro.gue dukung, kalau bisa di karang dikit ( contoh : mimpi si Ida putus ma cowonya, trus ngaajak balikan ma e lu , seterusnya pergi ke mall bisa berpaspasan ma dia nonton bioskop ) banyak lagi dah bro . di bumbu bumbuin dikit , biar serasa hidup orang yang bacanya . wkawkakkw . just saran .

    ReplyDelete
  27. Dasar gak bisa move on...
    indonesia udah lebih dari 20 tahun merdeka...
    kenapa masih saja ingat mantan...
    wakakakkakakakkkaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak ada hubungannya kamfretttt -______-

      Delete
  28. hahaha. gokil. keren. gua jadi ngakak sendiri baca tulisan lo. komedinya enak banget. bahasanya juga asik. cuma ada typo aja, kayak "desktob", itu harusnya "desktop". trus "murit-murit" itukan "murid-murid".
    cepetan buat buku lo dong. pasti asik banget tuh

    ReplyDelete

Tinggalin komentar sesuai dengan isi tulisan ya. Happy Blogging!!! :D