Cemburu? (Dibalik C[D]erita Anak Magang) FIKSI

, , 59 comments
BUKAN BAGAIMANA CARA MELUPAKAN MANTAN, TAPI BAGAIMANA CARA BERTAHAN & MENYEMBUNYIKAN DARI DIA RASA CEMBURU YANG TIBA-TIBA KEMBALI DATANG.

Tiba-tiba notif Line gue bunyi ada yang chat, dan ternyata dari Icha.

Begitulah Icha, anaknya rada aneh.  Tapi walaupun seperti itu dia adalah sahabat terbaik yang pernah gue punya,  dia selalu mau bantuin gue dalam kesusahan, terutama saat dompet sudah kurus,  dia udah kayak ATM berjalan buat gue. Dan sebagai sahabat yang baik gue juga demikian, gue juga sering bantu-bantuin dia, gue sering nemenin dia belanja, gue sering antar jemput dia kuliah. Ya arti sahabat gue ke Icha lebih kayak majikan sama sopir pribadi.

Gue ke depan rumah, lalu membukakan Icha pagar sambil memasang muka asem, kenapa gak langsung paggil aja coba dari tadi.  Kami duduk di kursi pelastik di depan rumah, Icha lalu ngasih gitarnya ke gue.

“Ini kenapa bisa gak setim lagi gitar lo, kan baru dua hari yang lalu gue setimin cha.”


“Kemarin setingan senarnya di puter ade gue dit,” jelas Icha “jadi gak nyatu deh suara gitarnya sama suara merdu gue.”

Mendengar Icha bilang suaranya merdu, gue jadi ingat beberapa hari lalu telinga gue hampir keluar nanah, karena mendengar rekaman Icha nyanyi sambil ngejreng-ngejreng gitar gak jelas diakun Soundcloud-nya, rekaman itu mirip suara pingwin lagi kesurupan.


Ini lanjutan dari cerita-cerita sebelumnya:

Selamat membaca dan menikmati tulisan yang kadang ada typo-nya ya :p



“Eh dit, lagu ini bisa lo gitarin gak?” Icha langsung memutarkan satu lagu dari Iphone-nya.

Aku… aku terlalu mencitaimu
Terlebih ku menggilaimu
Salahkah ku..

Sejenak gue terdiam. Mendengar sedikit liriknya saja gue sudah tahu itu lagu siapa. Karena lagu itu, adalah lagu kesukaan seseorang. Gue ingat pernah nyanyi lagu itu waktu lagi teleponan. Dan.. gue barusaja beberapa jam yang lalu bersama orang tersebut.

            “Lagu ini kesukaan Dia Cha,” kata gue tiba-tiba, dengan nada rendah. “Gue tadi siang baru aja jalan sama Dia.”

Icha yang awalnya melihat gue heran, lalu mengerti apa yang gue maksud.

            “Si Dia dit?” Icha menghembuskan nafas berat “Abis kemana lo sama Dia tadi...”

            Gue menarik nafas cukup panjang dari hidung dan mengembuskannya lewat mulut, ekspresi mengeluh.   

Jadi, tadi siang gue baru jalan sama Dia (mantan pacar), nemenin beli Printer baru di Gedung Sultan Suriansyah, kebetulan disana lagi ada Pameran Komputer dan lagi ada Promo alat-alat elektronik.  Gak ada janji sebelumnya, tiba-tiba aja tadi siang Dia kerumah dan gue kebetulan lagi santai sambil main gitar di depan rumah. Gue heran juga kenapa Dia ngajak gue jalan mendadak gini, tapi yang gue tahu, gue benar-benar senang bisa nemenin Dia tadi siang di awal-awal, dan meresa gak nyaman kemudian.

Kami pergi ke Gedung SUSU (Sultan Suriansyah) kira-kira pukul 14.00 WITA, naik mobil Honda Freed Dia.  Setelah sampai di gedung SUSU dan memarkir mobil, kami turun dan menuju ke dalam gedung yang sudah terlihat banyak pengunjung.

Saat mau memasuki area pameran, gue melihat kearah wajah Dia dengan sedikit mendongkakkan kepala.  Gue baru sadar ternyata Dia lagi menggunakan sepatu high heels, walaupun tidak terlalu tinggi, tapi itu cukup membuat gue terlihat pendek dari pandangan Dia.  Gue benar-benar merasa terintimidasi.

            “Kak kayaknya banyak banget deh di dalam pengunjungnya,” Kami memperhatikan dari depan pintu masuk pameran, “Kita ke tempat lain aja yu, dede jadi takut kalau ada pencopet atau apa.”

Mendengar Dia berkata seperti itu, gue ngerasa perlu menunjukkan kejantana gue selama ini ke Dia.

            “Tenang de, tenang.  kakak bakalan jagain dede ko, tenang.”

Gue lalu ngambil posisi jalan di depan Dia, mengawasi dari sisi kiri-kanan-depan-belakang, sudah kayak security.  Lalu saat kami masuk ke dalam pameran, ada yang nyolek gue dari samping dan berkata.

            “Mas nya…” gue berbalik. “Mas nyaa ayo cobain alat pijet punya eke, gretong loh.”

            “MAAMAAA ADA SETANN MAMAAA! SECURITY MANA SECURITY! KIJOKO BODO MANA TOLONGGG!!!”

Gue buru-buru sembunyi di belakang punggung Dia, dan sialnya si Dia malah ketawa.

            “Ayo kak cobain aja, gretong loh.” Dia niru gerakan tangan si Bencong yang melambai-lambai sambil tersenyum.

“Gak suka huhu… ( / T~T)/ ” gue geleng-geleng sambil nangis.

Entah kenapa gue merasa popularitas Bencong di Banjarmasin lebih banyak dari laki-laki, kemana aja gue pergi hamper selalu bertemu dengan makhluk setengah dewa ini. Dan tentunya Icha ketawa banget pas gue ceritain itu.

            “Hahaha…. Tumben lo dit sama bencong takut, kan biasanya suka.”

Gue milihat Icha tertawa dengan mulut yang cukup lebar, rasanya pengin gue masukkin gitar ke mulutnya.

            “Mau gue lanjutin gak nih?”

            “Eh, iyaya lanjutin-lanjutin.” Icha menaruh kedua tangannya ke mulut menahan tawa.

Setelah melihat-lihat ke beberapa stand yang ada menjual printer, akhirnya kami dapat printer yang kualitasnya bagus.  Dia membayar di kasir, lalu gue membawa printernya.

            “De kita duduk di atas dulu ya bentar,” kata gue sambil mengangkat printer.

            “Boleh kak, tapi kita beli minum dulu ya.”

            “Ohh iya dede tungguin aja di atas, biar kakak yang beliin.”

Si Dia cuman mengangguk pelan.  Kasian banget kayaknya kecapean, gue bisa melihat ada sedikit air keringat di pelipisnya dan leher, hawa di tempat ini memang agak panas, maklum sudah mulai ramai.

Tidak lama gue menghampirinya sambil membawa dua botol kaleng fanta. Kami lagi duduk di bagian atas gedung Susu, dimana terdapat banyak kursi yang hampir mengelilingi seisi gedung ini.

Gedung ini biasa dibilang gedung serbaguna, sering dipakai untuk acara kawinan, pameran, event daerah, atau wisuda.  Karena gedung Susu tepat berseberangan dengan Kampus UNLAM Banjarmasin.

Gue ngasih fanta ke Dia.

            “Makasih ya kak,” kata Dia sambil tersenyum manis seperti biasanya, yang bisa melumpuhkan lutut gue.

Saat menghirup fanta, beberapa menit kami saling terdiam.  Yang terdengar hanyalah suara-suara pengunjung pameran yang sudah kayak gerumbunan tawon lagi arisan.  Pelan-pelan gue melirik kearah Dia yang selalu terlihat cantik.

Hari ini Dia tidak memakai kerudung, rambut sebahu ala POLWAN yang wangi menghiasi wajahnya, Dia menggunakan t-shet putih dengan lengan pendek, dan celana jeans biru yang terlihat bagus di kaki nya, dan tidak lupa sepatu height heel yang sudah membuat gue kayak ngomong sama keteknya kalau lagi berdiri.

Walaupun pakaian terlihat casual itu tidak mengurangi kadar kecantikannya, akantetapi… wajahnya sedikit berbeda, Dia, terlihat sedikit-agak-gelap.  Ada apa ini?

Pelan-pelan gue coba membuka suara mau bertanya, tapi keburu Dia potong.

            “Kenap…”

            “Kak, aku ini kenapa ya?” kata Dia tiba-tiba, pandangannya terlihat kosong.

            “Dede lagi sakit?” Tanya gue hati-hati.

            “Kak, kayaknya dede lagi suka sama Ferdian.” Dia menghembuskan nafas berat.

Otak gue tiba-tiba berputar dengan sendirinya, siapa itu Ferdian?

            “Dia teman sekelas dede kak,” terjadi jeda sebentar. “Belakangan dede dekat sama Ferdian.  Awalnya sih dia yang duluan deketin dede, dan dede merasa agak risih. Karena dede tahu kak, dia itu cowok yang baung (baung: dalam bahasa remaja Banjarmasin, sebutan untuk cowok yang suka ngelirik dan cari perhatian cewek, bisa dibilang playboy).”

Dia mengusap keringat di lehernya sambil mengayunkan rambut sebahunya kearah kanan.

Dengan berinisiatif sendiri, gue lalu mengambil brosur yang ukurannya cukup besar, yang kami dapat waktu ngunjungin beberapa stand tadi, dan mengipaskannya ke Dia pelan-pelan.

            “Ya kalau sudah tahu tu cowok baung, cuekin aja dee. Jauhin aja cowok kayak itu.”

            “Awalanya dede juga mau gitu kak, lagian dede juga sudah punya Kevin.” Dia lalu menatap gue dengan wajah yang sedikit mendung, lalu berbalik “Tapi… malah sekarang dede yang suka nyariin Ferdian kalau dia gak gangguin Dede.”

Sesaat gue terdiam, berfikir kira-kira apa yang seharusnya gue ucapkan. Ferdian. Kayaknya cowok itu berhasil buat Dia tertarik dengannya. Gue mulai penasaran seperti apa tampang cowok yang Dia maksud.

            “Cowok itu gimana emang tampangnya de?”

            “Dia itu ganteng banget kak, badanya tinggi, bentuk tubuh porfosional, putih bersih, wangi lagi. Pokoknya perfect banget deh kak.” Kata Dia kelihatan semangat menggambarkan seperti apa bentuk cowok tersebut sambil tersenyum tipis.

Gue melihat kearah fisik sendiri, lalu mencium ketiak sendiri, kemudian koma dua bulan.

Oke dari segi fisik kayaknya gue jauh banget sama cowok yang Dia gambarin. Terutama bangian tinggi badan, warna kulit, dan bau badan.

            “Coba liat kak, ini instagram Ferdian.”

Dia memperlihatkan foto cowok itu dari akun instagram-nya, gue melihat seorang cowok memakai celana jeans hitam sedikit sobek di bagian lutut kanan, pakai baju kaos oblong kerah v putih, sambil memegang jaket kulit hitam yang kelihatan sangat mahal, dan background fotonya lapangan pesawat terbang. Kampret, gue harus akuin ini cowok emang jauhhhhhhhhh lebih keren dari.. ahh sudahlah (“-___-).

Gue mengingat foto instagram terakhir gue, foto pakai sarung, dengan baju singlet putih, berpose megang Ayam dengan background kandang Ayam. Oke gue lebih mirip bandar saung Ayam.

“Dia kemarin perhatian banget kak sama dede.” Dia lalu menatap gue dengan mata yang sendu “Kemarin waktu dede lagi sakit di sekolah, dede pergi ke ruang PMR isterahat disana, gak lama Ferdian datang. Dia nemenin dede, bawain obat sama air aqua, jagain Dede sampai pulang sekolah.”

Oke disini udah kayak drama-drama anak sekolahan FTV, gue mulai bete. Tuh cowok sok perhatian banget kayaknya sama Dia, sok bawain obat segala, nemenin sampai pulang lagi, kenapa gak gue aja yang nemenin Dia. Ahh gue jadi kesel sendiri.

Sebenarnya gue gak pengin banget si Dia cerita kayak gini ke gue, telinga gue jadi panas sendiri, perasaan gue jadi aneh sendiri. Tapi kayaknya gak bisa, gue harus jadi pendengar yang baik untuk Dia.

“Dan yang spesial,” Dia mengangkat bibir tipisnya, senyum. “Ferdian sempat elus kening Dede Kak, padahal waktu itu Dede pura-pura tidur.”

AAAaaarrrgggg!!! Sarungtinju mana sarungtinju?!

Sialan, gue aja waktu masih pacaran sama Dia gak elus-elus keningnya. Ya Tuhan kenapaahhh?! Hidup ini gak adil *Drama*.



Gue pasang muka kesal, lagi-lagi Icha ketawa ngakak.

“Haduh Dit, kasian amat hidup lo.” kata Icha sambil ketawa.

“Sialan lo Cha,” kata gue datar sambil memutar tali senar kesel.

“Lagian Dia aneh banget, kan udah punya cowok, kok malah suka sama cowok lain.”

“Gue gak tahu Cha, tadi sih gue kasih saran aja buat ngejauhin cowok itu terus ngingetin dia kalau sudah punya gue, Eh.. Kevin maksudnya.” Gue sok ngingetin tentang Kevin. “Lagian gue gak kalah ganteng sama tu cowok.”

Gak lama setelah gue ngomong itu si Icha muntah paku.

Akhirnya gitar Icha sudah setim. Gue coba memetik senar gitar saturpersatu secara teratur. Malam ini gue menyadari ada perasaan aneh setelah Dia bilang kalau suka sama cowok Baung itu..

“Dit, gue rasa lo tetep gak beruba.” Kata Icha tiba-tiba sambil memandang gue.

“Maksud lo?”

“Iya. Lo masih gak berubah, maksud gue, lo cemburu kalau Dia deket sama cowok lain.” Gue tertunduk, gak berani menatap Icha. “Gue sahabat lo dit. Gue tau banget gimana semua cerita lo sama si Dia mulai awal sampai sekarang.” Icha menatap gue serius “Sebagai sahabat gue harus jujur. Lo kembali dalam zona gagal move on kawan.”

Tiba-tiba gue merasa udara malam ini membuat bibir jadi kaku. Apa yang dikatakan Icha ada benarnya juga, gue masih suka ngehubungin Dia, gue gak bisa menyembunyikan kebahagiaan saat bertemu dengannya, dan gue juga gak bisa menyembunyikan perasaan ini kalau gue sebenarnya cemburu.

Dan disini gue juga mulai tahu kalau Dia, tidak sekuat yang gue bayangkan, tidak sesetia yang gue kira dengan Kevin, dan masih belum sedewasa yang gue harapkan. Ini adalah salah satu contoh betapa sulitnya LDR, dan gue juga sadar banget, kalau kedekatan kami selama ini, disaat Dia lagi LDR dengan Kevin. Gue merasa seperti orang peganggu diantara hubungan mereka.

Akan tetapi setelah gue dan Dia selesai membahas tentang Ferdian, Dia bilang kalau sudah mulai bosan dengan hubungannya sama Kevin yang terpisah jarak. Dan lucunya, gue malah ngebujuk Dia agar tetap mempertahankan hubungannya dengan Kevin. Cowok yang membuat gue memutuskan Dia, dulu.

“Dee, kamu gak boleh kayak gitu,” gue berkata pelan sambil tersenyum menatap Dia.

“Kakak...” Dia menatap gue.

“Jangan biarin hubungan jarak jauh kalin ini putus begitu aja cuman gara-gara dede gak tahan LDR. Kakak rasa ini semua cuman karena dede merasa kesepian, gak ada yang nemenin jalan, kurang diperhatiin.” Gue melebarkan senyum “Jangan hawatir dee masalah itu, kan disini ada kakak yang celalu nemenin cetiap caat.” Gue ngedipin mata sok imut.

Dia tertawa lepas.

“Aduh Kak, kok mukanya mirip bencong yang tadi ya hehee...”

Akhirnya wajah yang tadi mendung berganti dengan senyuman manis Dia, ah memang ada pelangi setelah hujan turun. Gak apalah gue dikatain bencong, yang penting bisa buat Dia ketawa kayak gini. :)

“Eh.. minggu depan ikut gue ya ke Banjarbaru,”

“Wah tumben banget ngajak gue jalan,” Icha nyengir.

“Kita gak berdua. Kita bakalan pergi sama Dia.”

Sesaat Icha menatap gue dengan mata terbelalak.

“Dia ngajak gue sama elo jalan? Gak salah tuh.”

“Ya.. sebenarnya sih Dia-nya gak ngajak.”

“Lah terus?”

“Jadi kita ke Banjarbaru bukan jalan-jalan, tapi bantuin si Dia jualan di Murjani (Taman kota di Banjarbaru yang selalu ramai), bantu-bantu jualan aksesoris sama baju gitulah di mobil Dia.”

“Ohh gitu kiraiin…” Icha mendengus “Tapi lo gak harus ajak gue juga kali, kan Dia-nya gak ngajak gue.”

“Urusan itu gampang aja, lagian kalau cuman gue sama Dia di mobil entar ada rajia 3 in 1 gimana?”

“Ooh.. maksud lo gue di ajak biar sekalian jadi joki 3 in 1 gratisan gitu...” Icha masang muka asem.

Gue cuman bisa ngakak melihat ekspresi wajah asem Icha.

“Yaa iya juga sih hehe, tapi kan lo orangnya bore (bore adalah banyak omong atau cerewet dalam bahasa Banjarmasin).”

“Gak ada hubunganya pendek!”

Diam-diam gue mulai berfikir apa yang Icha katakan ada benarnya juga, kali ini gue kembali dalam zona gagal move on.

Malam ini kami akhiri dengan sebuah lagu, sebuah lagu yang membawa gue ke masalalu lagi bersama Dia “dulu”. Tahta – Tempat yang paling indah. Dan gak lama kami bernyanyi listrik mati dan terjadi badai, sepertinya semesta tidak ingin kiamat datang lebih awal.


59 comments:

  1. Haaa. Gile, ini seriusan fiksi? boong nih pasti broh. Keren tulisannya, sendu-sendu haru gimana gitu. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. duaratus rius bang -___-"
      sendu-sendu hanyut diatas sungai ya hha

      Delete
    2. Apa pula itu sendu-sendu hanyut. Hahaha. Tapi serius, keren ini. Mbuat novel aja Dit. dilanjutin lagi DAM-nya. :))

      Delete
    3. insya Allah bang, emang kepikiran kayak gitu udah hhe

      Delete
  2. keding apaan? kok gue mikirnya yang enngak2 yah? -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. kening mas maksudnya, saya perbaiki dulu -..-"
      ngomong2 emang artinya apa?

      Delete
  3. knp gak Icha aja loe jadikan pelipur lara Dit...??
    :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. cukup dijadiin atm berjalan has haha

      Delete
    2. wanjiiiir teganyaaa.....
      kali saja sebenarnya dia suka ma km dit....
      (jangan pede)

      Delete
    3. bahahaha
      mungkin juga has kayak gitu, tapi dia takut gue tolak x))

      Delete
  4. Mantap bro postingan nya wan tamplte nya....salam orang banua...

    ReplyDelete
  5. udahh, pacaran sama Icha aja. hahaha. Gile ya dit, saya baca cerita kamu ini bener2 remaja bgt deh. beneran kayak film FTV, abege bgt deh. hihihi. sambil senyum2 sendiri saya baca di kantor.. tapi ini ciri khas kamu sih, yg membuat saya selalu pengen baca :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah komentar kayak gini yang saya mau haha
      makasih kak komen2nya udah mau baca sampai habis juga.

      lain kali kasih kritikan juga ya hhe

      Delete
  6. Banyak lho orang-orang yang jadian sama sahabatnyaaa. Hayooooo. (ini apaan sih gue dateng2 udah ngomong beginian, hahaha) salam kenal bro~

    ReplyDelete
    Replies
    1. bahaha karakter Icha saya buat nyata, cuman jadi sahabat sejati disaat kantong kering :p

      Delete
  7. ini fiksi beneran apa kisah nyata si penulis? :)

    ReplyDelete
  8. Urusan itu gampang aja, lagian kalau cuman gue sama Dia di mobil entar ada rajia 3 in 1 gimana?”

    ReplyDelete
  9. Keren banget tuh sampe digodain bencong segala.

    ReplyDelete
  10. Banyak yg gak percaya kalo ini fiksi, termasuk saya hihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. percaya aja deh.. percaya ya. gak percaya gak musruk lo

      Delete
  11. Bukan bagaimana cara melupakan gebetan, tapi bagaimana cara bertahan nungguin gebetan <<< ini versi aku kak hihihi

    Keren nih fiksinya kak, eh tapi ini bukan fiksi tapiiii ini kisah nyata sepertinya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yahh curhat inyaa hahaa

      ini lagi satu kd percaya -.-

      Delete
  12. keren nih !
    gue sampe geregetan ><
    kenapa ga sama si icha aja ? jadinya kan gak galau-galaun mulu :D hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. biarkan dia menjadi atm berjalan saya hahaa

      Delete
  13. Hahaha. Ini pasti kisah nyata. Nggak percaya gue! :))
    Asik nih, tulisannya enak dibaca. Gue serasa lagi baca buku nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdullilah kalau suka, makasih masss :D

      Delete
  14. wah, seru banget, hehehe. semoga nanti bisa move on ya! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. bahaha kita liat aja lanjutannya kak :p

      Delete
  15. asik, gue cukup capek bacanya, tapi asik. apalagi kalo berbau cinta segitiga kayak gitu :))

    ReplyDelete
  16. Jujur ini fiksi, bang? Jujur ngga?! Jujur ngga?! *cari sarung tinju* #plak

    ReplyDelete
  17. jer samalam rasanya hdk ampih pakai kata2 gue2 dan sebangsanya, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. dibedakan om tulisan2nya hhe, kalau cerita fiksi kaya ini kd mungkin ulun olah, loco jadinya hhe

      Delete
  18. kok ichanya sebegitu baik banget ya jadi atm berjalan eh sahabat maksudnya, hehe...
    ini beneran cerita fiksi bang? :D

    ReplyDelete
  19. keren, berkualitas dan bermanfaat banget gan :)

    ReplyDelete
  20. hahahaha..
    asleeee kereeeen (y)..
    seruuuuu :)

    ReplyDelete
  21. waaaah komentarnya rame yah, pasti tulisannya menarik -_-

    ReplyDelete
  22. mantap kali bacanya, pengen gue curi ceritanya, tapi harus kreatif ya gak ? wow deh
    salam kenal ya :) mampir gihh

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha harus kreatif dong :p
      salam kenal jugaa

      Delete
  23. Kk ada dimana saat sahabat gak bisa jadi pacar

    ReplyDelete
  24. Tertarik gak jadiin cerita itu jadi FTV? hahaha,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha gimana mau dibuat mas, ceritanya terlalu panjang dan ribet, gak mungkin jadi FTV

      Delete
  25. bikin novel bikin novel, kerreeeeen hahahaha

    ReplyDelete

Tinggalin komentar sesuai dengan isi tulisan ya. Happy Blogging!!! :D