Agustus //


Beberapa waktu lalu gue berkomentar di satu Instagram seorang teman – yang dulu pernah dekat – namanya Eka. Gue melihat foto dia bersama teman-temannya di depan tugu kota Muara Teweh, kota dimana gue lebih sering menikmati bully’an di Sekolah ketimbang kebahagiaan yang seharunya anak seusia gue waktu itu rasakan.

Eka seorang atlit voli dia sempat mewakili Banjarmasin dalam beberapa pertandingan besar, meski badanya tidak terlalu tinggi tapi dia cukup jago dan punya pukulan cukup keras. Ya, gue pernah jadi korban smash kerasnya, niat mau block bola yang ada muka gue gak selamat. Gue sempat koma tiga jam.

Setelah beberapa kali membalas komentar, Eka menulis satu komentar yang membuat gue diam sejenak dan memilih untuk tidak membalas “Kapan meet up lagi?” gue gak mau muka ini bedarah lagi.

Merubah diri kamu demi seseorang adalah ciri hubungan tidak sehat.


****

Maret //

Waktu gue mengisi acara di Martapura, dua indra di tubuh gue tidak berfungsi sebagai mana mestinya, mulut gue cuap-cuap ke arah seluruh peserta sedangkan mata gue lebih sering menatap seorang perempuan berkerudung coklat dengan baju terusan berwarna hitam menutupi seluruh tubuhnya. Terkecuali wajahnya yang tenang dan sejuk kayak ubin musholah, dia seorang santri namanya Sizka.

Gue sempat tukeran pin BB waktu itu, karena jarak dan keadaan yang gak membungkinkan buat gue ketemu Sizka, akhirnya kami cuman sering bertukar kabar di BBM. Saling mengomentari status atau foto yang di update.

Kegiatan itu terus menerus terjadi sampai beberapa bulan dan sampai akhirnya gue bosan, selalu gue yang memulai obrolan dan akhirnya gue memiliki untuk berhenti menghubunginya.


Hubungan tidak sama seperti permainan catur.

****

Januari //

Sejak ikut ke kondangan seorang teman di SMK, sejak ikut merayakan ulang tahunnya, dan sejak itu juga gue mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan sebuah hati yang dulu diam-diam hanya berani menatap Chery yang melewati kelas gue.

Sejak saling bertukar cerita dan bertemu, gue sering menemani dia belanja, gue sering mendengarkan curhatanya yang selalu diulang-ulang, dan gue juga sudah terlalu sering mendengarkan kelabilannya saat belanja. Chery selalu menceritakan hubungannya yang gagal dengan seseorang, tanpa sadar tidak memberikan gue sedikit ruang untuk menyelipkan hati yang pernah terpendam ini.

Setelah berbulan-bulan gue sadar, gue bukan orang terdekat untuk dia, gue sering melihat display pictur Chery yang bergonta ganti. Pasangan.

Pasangan yang baik bukan pasangan yang mirip kartu perdana kuota sekali pakai, habis masa tenggang langsung dibuang.


****

September //

Bantuin mantan pacar beli kado buat pacarnya yang baru, mungkin terdengar sangat bodoh. Gak jarang gue dapat komentar atau ceramah singkat kayak “Ngapain sih masih komunikasi sama mantan, kan dia udah bikin kita sakit hati!”.

Semua orang boleh punya pendapat masing-masing toh yang menjalani ini dia sendiri, terus bagai mana dengan gue? Gue cuman pasang telinga saat mendearkan ocehan mereka dan memberikan senyuman tipis saat mereka selesai berucap.

Bagi gue mantan juga manusia, bukan seperti saat lo menjalin hubungan dengan dirinya lo ngerasa kalian sama-sama dari bumi, dan setelah kalimat putus terucap kalian ngerasa kaya beda dimensi.

Kalau dalam Agama gue sebagai muslim, silaturahmi tetap harus dijaga, kalau lo emang benci karena perlakuan atau sifatnya yang pernah buat lo sakit hati bencilah karena alasan itu, bukan orangnya. Semua orang berhak mendapatkan maaf, tapi ingat, balikan sama mantan juga bukan hal yang terbaik.

Gue punya beberapa mantan dan sampai sekarang kami baik-baik saja tidak ada perasaan yang harus dihindari atau pura-pura tidak kenal. Saat usia gue masih belasan, gue merasa sakit hati saat melihat mantan pacar pajang foto sama pacar barunya, tapi sekarang gue malah Alhamdulillah. Itu artinya gue iklhas menerima keadaan.

Saat gue menulis ini, gue baru selesai shooting film kedua, ada satu dialog di film itu yang membuat gue benar-benar tersenyum puas. Gue nggak sadar kemarin nulis dialog di naskah kayak gini, lalu gue berbicara dalam hati “kalau saja gue nggak pernah mengalami patah hati berkali-kali, mungkin bukan dialog ini yang gue tulis”.

Setiap kegagalan memang butuh peratapan. Ingat, patah hati itu sebuah royalti.


****

Oktober //

Moca float dan burger di KFC mungkin sama saja rasanya seperti di tempat-tempat KFC lainnya, tapi menurut gue moca float dan burger di KFC kota Jogja malam itu berbeda, karena dari sana gue punya satu rasa, yaitu kenangan yang manis. Oke, paragraf ini gagal romantis.

Udara dingin dan aroma khas aspal yang baru selesai dibasahi hujan, menjadi moment yang gak pernah gue lupakan. Dan satu cover lagu favorite yang gue putar dari SoundCloud Berawal Dari Tatap dari Bellaohyeah membuat malam itu sangat nyaman di antara bisingnya motor yang lalu lalang.




Lucu bagai mana gue bisa lebih sering mention sok akrap dengan orang yang jujur gue gak terlalu kenal dia. Lucu bagai mana gue lebih mementingkan menunggu balasan mention dia ketimbang mengerjakan pekerjaan gue sendiri, yang menjadi alasan kenapa gue diam-diam harus keluar kamar hotel dari Ayead di tengah malam. Maaf ya yead, hihi.

Sebelum pergi ke Jogja, sebenarnya gue punya banyak pertimbangan salah satunya karena anak-anak sudah mau ulangan semester dan project film pendek yang memaksa minta cepat diselesaikan. Tapi bulan itu Tuhan berbisik dan menggoda untuk tetap menyuruh gue pergi ke Jogja.
Ada sedikit rasa bimbang, tapi akhirnya dari sana gue tahu apa skenario Tuhan.

Seandainya gue gak ke Jogja mungkin gue gak akan memaksakan diri untuk membuka laptop di KFC pada tengah malam itu untuk menyelesakan beberapa kerjaan, mungkin gue gak akan membuat mention dengan gambar di tweet itu, dan mungkin saja seadainya sedetik saja gue terlambat mempostingnya, gue nggak akan pernah tahu ada yang memendam lama perasaannya cukup lama. Bahkan terlalu lama.


Jauh sebelum ini dan jauh sebelum kamu mengenal aku.

Aku sudah jatuh cinta sama kamu.



header image: http://www.uthtime.in/