Zona Aman atau Nyaman?

, , 13 comments
 

Sore hari dibeberapa waktu lalu sebelum hujan membasahi Banjarmasin, gue mampir ke kedai Kopi Pelataran punya teman gue si Obob. Memesan segelas es Kopi Pelataran yang merupakan minuman favorit tiap ke tempat ini, lalu memesan indomie goreng + telur + sayur, dan + rasa kelaparan karena dari siang belum makan berat.

Kalian tahu hal menyenangkan apa yang bisa dilakukan ketika datang ke kedai kopi yang lagi sepi dan kita bisa duduk di depan bar sambil menunggu kopi selesai disajikan barista? Ngobrol. 

Obrolan kami dibuka ketika Obob menaruh paper filter ke dalam V60.

“Dit, gue salut sama lo.”

Dalam hati gue bersyukur dia nggak bilang suka sama gue.

“Maksudnya?” tanya gue heran.

“Lo punya kerjaan yang bisa dibilang tetap sebagai guru dan kalau gue boleh definisikan itu adalah zona aman.” Lalu dia lanjut membasahi paper filter dan siap memasukan bean robusta yang gue lupa namanya ke dalam grinder. “Dan lo juga berada di zona nyaman sebagai penulis, masih bisa menyalurkan hobi kan?”

“Iya sih, tapi ngerjain yang nomer dua masih tipis-tipis. Hhe...”

Nggak lama indomie goreng bersama telur ceplok dan sayur-syuran muncul dari balik pintu, bersama aroma khas yang siapapun gak bisa menolak. Sambil menikmati indomie goreng dan menunggu kopi gue selesai, obrolan kami semakin menarik tentang zona aman dan zona nyaman.

Kata Obob zona aman itu adalah ketika kita merasa tidak ada beban sama sekali didalam pekerjaan, kita merasa semua baik-baik saja, gajih yang kita dapat tiap bulan pasti tidak ada rasa khawatir. Ibaratnya pekerjaan yang kita lakukan tiap hari gitu-gitu aja dan minim resiko, kayak film yang sudah direkam dan kita tinggal memutarnya tiap hari. Simpelnya kita tidak akan hawatir akan kehilangan pekerjaan.

Gue yang berprofesi sebagai guru, walau cuman honor tapi bisa dibilang pekerjaan gue cukup aman karena tidak ada kontrak apa-apa, selama gue menjalani tugas dengan benar maka posisi gue akan baik-baik saja.

Enak kan ya? Enggak juga sih sebenarnya, justru ada rasa bosan saat berada di zona aman. 24 jam selama lima hari gue melakukan aktivitas yang sama, dan pekerjaan utama ini membuat gue harus meninggalkan atau mengurangi zona nyaman selama ini. Hal yang selama ini membuat gue benar-benar senang; menulis. Dan akan tiba masanya kita akan meninggalkan hal yang membuat kita nyaman.

Gue pernah merasa goyah, berniat untuk pindah dari zona aman kembali menuju zona nyaman gue. Tapi... setelah itu gue bertanya-tanya pada diri gue sendiri. 


“Kira-kira ketika gue pindah dari tempat aman ini dan memulai lagi dari nol untuk zona nyaman, apakah hidup gue selanjutnya bakalan seenak ini?” 


Nggak alam kopi pesanan gue selesai, tapi obrolan asik gue dan Obob masih berlanjut.

Kata dia. Berbeda hal ketika seseorang sudah berada di zona nyaman terlebih dahulu, terkadang karena terlalu larut mereka tidak memikirkan untuk pindah ke zona aman (memiliki pekerjaan tetap misalnya). Terlalu menikmati setiap hal yang mereka lakukan dalam pekerjaannya padahal itu bukan zona aman mereka.

Harusnya kita juga memikirkan untuk berada di zona aman, karena tidak ada yang bisa menjamin ketika seseorang sudah terlanjur merasa nyaman. Bisa saja tiba-tiba ngilang pas terlanjut nyaman. Eh, gimana, gimana...

oh my god omg GIF by ESPN

Setahun lalu, gue pernah berencana ingin berhenti mengajar dan mencoba pekerjaan baru. Yap setahun lalu, gue masih ingat banget. Ada beberapa tawaran pekerjaan yang cukup menarik dan berhubungan dengan passion gue.

Tawaran datang bukan hanya datang dari teman-teman, tapi juga melalui email yang memberikan tawaran bisa kerja di rumah. Namun setelah sempat satu tahun berhenti menulis dan nggak bikin apa-apa di 2017. Saat itu gue benar-benar melalui proses yang cukup panjang untuk bisa berdamai dan tahu tentang apa yang gue butuhkan. Sampai akhirya gue benar-benar tahu bahwa karya adalah hal yang selalu gue inginkan. Sebuah penyaluran emosi melalui kata-kata setelah pengingkaran terjadi.

Ditahun ini gue coba pelan-pelan memulai lagi dengan tetap mengutamakan pekerjaan utama, mengatur waktu antara pekerjaan dan karya, bikin konten yang insya Allah bermanfaat.

Salah satu yang coba gue seriusin adalah instagram.

*pantesan jomblo dit, gak mau serius sama cewek*

SERAH!!!

Gue memanfaatkan fiture insta stoy (inget ya insta story bukan snap gram atau sejenisnya) sebagai tempat membahas fiture-fiture dan info terbaru tentang instagram, tools editing foto/video, dan apa aja yang berhubungan dengan instagram. Dan kalau kalian mau liat udah gue bikin sorotannya kok di profile. Btw, follow instagram gue @adittyaregas ya hhe...

Ok. Balik soal zona aman dan zona nyaman. Ini adalah definisi zona aman dan nyaman menurut gue...

Akan selalu ada orang yang merasa kurang dalam pekerjaanya, entah itu dari segi materi atau hasrat yang tidak pernah dikeluarkan. Entah itu dari segi lingkungan atau sudah merasa tidak cocok.

Namun bagi gue definisi dari zona aman dan zona nyaman dalam adalah tentang rasa nyaman.

Hal yang gue cari selain salary, ya gue gak munafik, kalau emang salary cocok pasti gue jalani.
Menurut gue rasa nyaman yang hadir dari lingkungan kerja membuat gue benar-benar betah, bisa dilihat dari saling mengerti dan memahami, bisa juga dari saling menjaga dan melindungi satu sama lain, seperti keluarga.

Karena gue mengajar di Sekolah kejuruan, gue selalu bilang ke siswa yang mau magang. Ketika kamu bekerja disebuah tempat entah itu perusahaan kecil atau besar, sebisa mungkin cari tempat yang nyaman, kenali lingkungan sebelum mulai bekerja kalau bisa. Selain itu gue juga suka bilang selalu kasih yang terbaik di tempat bekerja, selain rasa nyaman. Tunjukan kamu yang terbaik dari mereka dalam artian bersainglah secara sehat. Caranya tunjukkan sisi terbaik dari kita, tonjolkan hal berbeda dengan cara kita sendiri.

Semisal punya softskill dalam hal fotografi, editing video, desain grafis, dan apapun maka coba manfaatkan kelebihan itu. Karena setiap orang pasti punya kelebihan masing-masing, tinggal bagaimana kita mau atau tidak untuk bertindak dan improv.

Jangan pernah merasa rugi atas usaha yang pernah kita coba. Karena nih gak sedikit orang yang tidak memanfaatkan apa yang dia miliki selalu ada berkata “Ah, males kan bukan kerjaan gue” True?

"Boleh bermain di zona aman tapi ingat jangan sampai game over. Dan boleh tidak bermain di zona nyaman karena kamu sudah menang." - Iza Obob.

Oiya, yang mau mampir ke kedai dan ngobrol sama Obob nih gue kasih link instagram kedai nya, kalli aja mau santai ngopi sambil ngobrol Pelataran Coffee.

Jadi sudah berada di zona mana kalian sekarang? Gimana juga definisi zona aman dan nyaman fersi kalian? Share dikolom komentar ya.

13 comments:

  1. Kalau disuruh pilih, ya lebih milih zona nyaman.
    karena biasanya pada zona aman itu ada hal yang harus kita korbankan untuk mempertahankan di zona aman itu.

    tapi, kalau kita bertawakal pada Allah.
    mau zona aman atau nyaman ya gak jadi masalah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banar ulun lawan pian, pasti ada yang dikorbankan terutama kebiasaan hari-hari yang meolah nyaman.

      Masya Allah, dasar lain.

      Delete
  2. gue sempet stay bekerja dengan memegang status "zona nyaman", dan suatu saat gue memutuskan untuk resign. ternyata, setelah resign dengan perasaan gak yakin, gue menemukan zona aman setelah resign itu. heuheu

    Loh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah, kok "suatu saat" haha berarti masih belum pindah dong.

      Delete
  3. Terkadang kita harus bertindak realstis sih. Meski zona aman menjadi zona tak nyaman sekalipun, ya harus mempertahankan. Ya, intinya mau milih zona aman atau nyaman yang penting jangan pernah disesali haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bujur jua kah jgn disesali? Termasuk mantan yang baik tapi diputusi. Eh...

      Delete
  4. Sama kyk hati. Untuk move on perlu waktu lama, menimbang nimbang memikirkan segala sesuatu. Kyk move on dari zona aman ke zona nyaman, karena balik lagi"pas nanti gue pindah zona apa iya gue bakal seenak ini" tapi juga gak mau gini gini aja. Ahelah galau kan.

    ReplyDelete
  5. Oke, ada sudut pandang baru lagi yang bisa saya dapatkan dari tulisan ini.
    Terima kasih atas tulisannya bang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama bro. Alhamdulillah kalau bisa jadi hal baik. :D

      Delete
  6. Pemikiran yang sangat bagus,Dit. Dan, makin lama tulisan lu jauh dari typo. Makin kerasa profesional nya. Keep it up!

    Btw, so sorry jika ada salah-salah tutur, laku, dan tulisan ya. Tuhan selalu memberkati dan menaungi kamu dan keluargamu seluruhnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaa... sedikit bang, tapi masih ada typo.

      Kembali bang. Selalu berkabar walau sudah jarang komunikasi. :)

      Delete
  7. Ini tentu berkaitan dengan kematangan usia dan cara berfikirnya ya.
    Nanti pasti seiring wktu kita akan keliatan dengan sndrinya,dit larinya bakal ke idealis atau materialistis.
    Dan itu masih berhubungan sama zona aman atau nyaman yg dibahas diartikel ini.
    Tapi nggak menutup kemungkinan jg kalau keduanya bisa jadi satu kesatuan. Ada kn beberapa nama yg bisa dapet zona aman sekaligus nyamannya.
    Yg pasti percaya dan sabar aja. Walaupun sekarang ini harus pelan-pelan mau bertahan di zona aman dl atau menikmati zona nyaman yg beresiko lbh dl.hehe
    sukses trs,dit.

    ReplyDelete

Tinggalin komentar sesuai dengan isi tulisan ya. Happy Blogging!!! :D