Jadi beberapa waktu lalu gue menyempatkan diri datang ke acara Duta Borneo Coffee Festival 2018 (DBCF) yang diadakan di Atrium Dutta Mall Banjarmasin, acara ini sebenarnya udah dimulai sejak tanggal 22 november – 25 november 2018. Tapi sayangnya gue baru bisa berhadir pas hari terakhir acara, karena harus menyiapkan akreditasi sekolah yang hampir dua minggu ini menyita waktu. Hmm.. malah curhat. Oke, lanjut.

Acara festival kopi sebenarnya sudah cukup sering diadakan di Banjarmasin, tapi menurut gue acar kopi yang paling seru adalah waktu yang pertama kali diadakan di halaman kantor Bank Mandiri tahun 2017 lalu, dan yang kali ini juga tidak kalah seru karena festival kopi kali ini dibuka langsung oleh Wali Kota Banjarmasin, Bapak Ibnu Sina. Tapi ya tetep aja gue gak bisa berhadir diacara pembukaan. Hmm…

Gue baru bisa hadir dihari terakhir festival dan kebetulan dihari terakhir itu adalah final kompetisi Brewer Battle dan Latte Art Throwdown. Buat kali yang nggak tahu, Brewer Battle adalah kompetisi bikin kopi hitam atau bikin kopi dengan menggunakan alat manual, dan metode yang dilombakan adalah V60. Lalu Latte Art Throwdown adalah kompetisi bikin gambar pada kopi, ya kalau yang ini gue yakin kalian pasti sudah pada tahu.


Selain diadakan kompetisi untuk merampaikan festival kopi tahun ini, dalam rangkaian acaranya juga ada Coffee Talkshow yang diisi langsung oleh juri yang sudah tidak asing lagi dikalangan pecinta kopi. Ada Viki Irama Rahardja merupakan finalise Indonesia Latte Art Champ 2014, kalau yang ini gue nggak terlalu kenal sih hhe. Dan satu yang bener-bener nggak asing dan gue kenal banget sama dia, Pak Sivaraja dari Amstirdam Coffee Malang.

Pak Sivaraja sendiri sudah tiga kali datang ke Kalimantan Selatan, pertama waktu Festival Kopi Mandiri, kedua di Hulu Sungai, dan di DBCF 2018 ini kali ketiga beliau datang sebagai juri. Gue sendiri pernah sekali datang ke kedai kopi beliau saat di Malang. Dan… ahh, sumpah kopi nya enak banget. Nanti gue ceritakan tentang Amstirdam dilain tulisan.

Singkat cerita di festival kopi kali ini gue mendapatkan kesempatan ngobrol sebentar dengan Pak Sivaraja, dan semoga nantinya ini bisa menjadi pengalaman atau masukan untuk teman-teman barista atau pecinta kopi, khususnya di tempat gue sendiri.


Perkemabangan Pesat Industri Kopi di Kalimantan Selatan

Sejak pertama diselenggarakannya Festival Kopi besar di tahun 2017 lalu dan diadakannya kompetisi kopi untuk barista dan non barista di Banjarmasin, membuat perkembangan industri kopi di tempat ini cukup melejit dan membuat banyak orang ingin lebih tahu lagi tentang kopi.

Dan sejak 2016 sampai sekarang sudah cukup banyak kedai kopi bertebaran dimana-mana, baik yang membuat kedai kecil atau punyang besar. Bahkan jaraknya kadang tidak terlalu jauh antara satu kedai dengan kedai kopi lainnya.

Namun terlepas dari seberapa banyak kedai yang ada, setiap kedai kopi sudah punya penikmatnya masing-masing.

Barista Harus Berani Meng-exsplore


Bukan hanya dilihat dari jumlah kedai kopi yang mengisi tenant di acara DBCF. Jumlah peserta yang ikut setiap ada kompetisi kopi diadakan pun selalu bertambah. Bahkan andai kompetisi bersifat umum dan waktu pendaftaran yang lebih lama bisa jadi banyak orang yang ingin mengikuti kompetisi ini baik yang memiliki profesi barista atau hanya penyeduh rumahan.

Ada pesan dari Pak Sivaraja sewaktu acara DBCF kemarin setelah acara selesai “Para bartista harus lebih berani lagi exsplore kopi yang mereka buat, karena kemarin kami sempat kebingungan sewaktu penilaian. Ada dua gelas kopi yang rasanya sama-sama enak dan tipis banget perbedaannya, sehingga membuat kami agak kebingungan untuk memilih kopi mana yang layak lolos.”

Kata beliau juga, hal ini mungkin terjadi karena barista pengen cari aman. Hehe… mereka udah tahu titik aman biji kopi yang mereka dapat, namun sebenarnya bukan itu yang dicari juri. Keberanian para barista dalam mengekspoler kopi nya adalah yang dicari dalam kompetisi kali ini.

Model Cara Penilaian


Kata pemilik Amstirdam Coffee yang merangkap menjadi Coffee roaster ini juga bilang “Mungkin nanti kita harus bikin kompetisi dengan penilaan yang berbeda” gini maksudnya, kelemahan sistem penilaian kemarin adalah saat bertemunya sesame kompetitor yang memiliki skil bagus namun ketemu diawal pertandingan.

Simpelnya mungkin kayak fase grup sepak bola yang diisi oleh club neraka, anggap saja di grup A ada Juventus, Borussia Dorthmund, Barcelona, dan Manchester City. Semua grup papan atas masuk dalam satu grup yang sama dan cuman dua teratas yang lolos, lalu dua sisanya harus gugur. Jelas gak asik banget pas kita nonton babak enam belas besar, karena club-club besar udah gugur duluan.

Nah, kayak gitu juga dalam kompetisi kopi kemarin. Mungkin nanti kudu dilakukan cara penilan lain biar juri bener-bener dibikin galau memilih kopi mana yang layak menjadi juara.





Ini pake gaya ulang tahunnya Amstirdam ke-7

Oiya, sekali lagi gue ingetin tulisa diatas adalah hasil ngobrol santai nan singkat gue dan Pak Sivaraja yang sekaligus jadi juri Brewer Battle. Jadi tulisan soal penilaan juga buat yang Brewer Battle, sayang banget gak sempet ngobrol sama Bang Viki. Itu juga kemarin di bantu sama Obob, kalau nggak mungkin enggak kesampaan ngobrol sama Pak Sivaraja. Thank you, bro!

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengalaman dan masukan untuk kita semua. Salam seruput!

Photo by: @sahabatair

Masih ingat awal-awal ke tempat ini yang saya pesan selalu hot green tea latte, dan lama kelamaan malah dimarahi pemiliknya.

Selayaknya cinta pertama mungkin kedai ini yang harus saya ceritakan pertama kali. Saya mengenal kedai kopi ini sekitar awal tahun 2016 saat mereka mulai membangun kedai yang diberi nama; Office Coffee.

Pertemuan kami bermula ketika saya melihat postingan foto di instagram milik teman, difoto itu dia menjelaskan sedikit konsep dan desain kedai tersebut. Karena penasaran dan saya memang sering mencari cafe untuk menulis, maka saya coba mampir kesana.

Masih ingat saat pertama kesana saya cukup dibikin bingung “kayaknya bangunan ini belum selesai” konsep yang bisa dibilang sangat sederhana dan seadanya, namun justru ini yang membuat saya betah dan membedakan dari cafe yang biasa saya kunjungi.

Saya juga masih hafal nama-nama Barista yang mengawali kedai ini tumbuh, Ardy (founder), Deny, Anjas, Viya, Amir, dan Leny. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dibalik bar, yang berperan cukup banyak saat proses saya mengenal lebih dalam tentang idustrie kopi.

Jujur saja, saya bukan orang yang suka minum kopi saat itu. Minuman yang saya pesan pun biasanya yang manis-manis, walau pun kopi sudah pasti ditambah gula. Makanya sempat dimarahi Ardy (konteks bercanda).

“Disini kedai kopi, masa gak pernah pesen kopi? Green tea aja terus.”

Tapi setelah cukup sering ke Office Coffee saya diberikan banyak sekali pengetahuan tentang kopi oleh para baristanya, bukan hanya mengenal jenis dan cara penyeduhannya, pelan-pelan mereka mengenalkan saya pula tentang asal muasal kopi, bagai mana proses kopi sampai ke kedai.

Dan sampai sekarang sampai dimana titik saya sedikit tahu tentang industri dan kehidupan para petani lewat project Office Coffee Trip yang setiap tahun mereka lakukan sejak 2016 lalu. Oiya, selama 3 tahun saya juga terlibat didalam Office Coffee Trip ini.

Menurut saya, kedai ini seperti bibit kopi yang di tanam di daerah tanah kering. Tak lama setelah kedai ini menjadi tren di kalangan anak muda Banjarmasin, perlahan namun pasti kedai-kedai kopi lain mulai menjamur. Baik yang mengusung konsep kedai kecil mau pun yang besar. Dampak yang cukup positif menurut saya dalam perkebangan kopi khusunya di daerah Kalimantan Selatan.

Bukan bermaksud untuk terlalu menomer satukan, namun cinta pertama ini membuat saya benar-benar suka sampai sekarang. Satu hal yang tidak saya jumpai (sebelum kedai lain bermunculan) saat datang ke Office Coffee adalah keramahan barista.




Maksud dari ramah disini adalah mereka memperlakukan pelanggan seperti raja dan teman. Dan yang sangat menarik adalah ketika bisa berdikusi dengan mereka terutama soal kopi di depan bar.

Memang hanya segelintir orang yang menaruh minatnya untuk kopi namun diskusi kecil atau obrolan ringan menjadi hal yang cukup ampuh para barista untuk berteman dengan pelanggan. Sehingga tidak salah bila kopi dapat mempersatukan siapa saja walau dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Office Coffee punya dua bar, lantai dasar dan lain dua. Saya cenderung lebih senang di lantai dasar karena suasananya yang lebih tenang dan santai, tapi kalau udah banyak pelanggan terutama malam hari rasanya ingin pulang saja hahaa.





Berminat ingin lebih jauh mengenal minuman hitam ini? silahkan datang ke Jl. Haryono MT №5, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 7023 (depan Sport Station).

Kalau kalian kenal kopi pertama kali gimana?

Photo by: @sahabatair

Gue mau cerita. Tentang hubungan yang paling lama gue jalani, tentang hari-hari setelah jiwa dan batin cukup terguncang, dan tentang bagaimana bersyukur dari sebuah kegagalan. Hubungan yang cukup lama dibangun dan beberapa keinginan yang dirangkai, runtuh hanya dalam waktu semalam.

Bukan tanpa pencegahan, sepeti orang yang mengalami kecelakaan di jalan raya dan kepalanya berlumuran darah di atas aspal, lalu dibawa begitu saja ke rumah sakit tanpa dihentikan perdarahannya terlebih dahulu. Gue sudah berusaha sekuat mungkin untuk menahan, bahkan memberikan waktu untuk berfikir seperti apa baiknya penyelesaian akhir dari satu permasalahan.

Namun apa bila memang tidak berjodoh, sekuat dan seperti apapun kita berusaha kekuatan semesta tidak bisa ditangguhkan. Dua tahun lebih, bukan cerita yang singkat. Ibarat sekolah, mungkin hanya Ujian Nasiaonal yang harus dilalui, namuan hal itu sirna ketika melakukan satu saja kesalahan. Mungkin memang seperti itu diciptakan kita, seribu pengorbanan tidak bisa memperbaiki satu luka.

Gue masih ingat, ketika masih SMK dan saat itu adalah dimana sosok mantan selalu menghantui. Saat itu gue selalu ingin move on, bertemu dengan orang baru yang bisa membuat gue lupa tentang hubungan yang gagal. Dan tak lama setelah memasuki awal kuliah gue punya hubungan baru dengan orang baru pula.

Sekitar dua tahun lebih selalu ada yang diperhatikan dan memperhatikan, selama itu pula kemana-mana gue nggak pernah sendirian, tidak pernah merasakan kesepian. Senang? Pertanyaan bodoh menurut gue.

Tapi jujur. Ada yang hilang dalam larutnya rasa bahagia itu.

Tahu apa yang hilang? Waktu untuk mengembangkan diri sendiri.

Dulu memang tidak ada saling kekang, namun gue benar-benar merasakan dan membandingkan bagaimana saat bersama dan menjalani semuanya sendiri-sendiri. Awalnya memang berat, tapi lama kelamaan akan terbiasa. “Aku gak bisa hidup tanpa kamu” hanyalah satu kebodohan yang harus kalian tepis, karena walau bagaimana pun akhirnya setiap kita masih bisa bernafas dan berjalan sendiri-sendiri.

Ada banyak hal yang bisa gue lakukan diwaktu luang saat menjalani hari-hari sendiri, gue bisa lebih banyak mempelajari hal baru dalam hidup gue, gue bisa jadi pribadi yang produktif, bahkan gue bisa menyelesaikan karya pertama gue disaat sendiri (Diary Anak Magang – 2014).

Setelahnya pula ada banyak tawaran untuk mengisi acara, gue mulai konsisten kembali menulis di blog dan tawaran kerja sama untuk menulis produk selalu berdatangan. Sempat bikin komunitas dan beberapa kali bikin acara, mimpi dulu menjaring blogger asli urang Banjar bisa kesampaian, bahkan sempat bekerjasama dalam beberapa event besar lewat komunitas yang kami bangun.

Ternyata, gue semakin berkembang setelah perpisahan itu datang.

Mungkin hal ini yang harus kalian tanyakan pada diri sendiri. Selama menjalani hubungan sampai titik ini, apa kalian saling tumbuh dan berkembang? Atau hanya diam ditempat tanpa ada pergerakan apa-apa yang membuat kalian kearah baik? Atau jangan-jangan kamu terpaksa bertahan hanya karena tidak ingin terlihat sendirian dan dianggap menyedihkan oleh orang-orang? Coba tanyakan pada diri sendiri.

Teruntuk kalian yang sekarang berumur 20’an dan masih sendiri. Tidak perlu tergesa-gesa, tidak perlu malu dibilang jomblo, tapi malulah ketika kalian tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.

Lalu apa gue menyesal dulu pernah menjalin hubungan? Enggak. Untuk apa menyesali hal yang pernah diharap-harapkan.

HAL YANG MENYEBALKAN KETIKA JATUH CINTA

Aku kembali merasakan hal yang aku benci dari jatuh cinta, lagi.
Merasa akan selalu kehilangan.
Elegi - Adittya Regas

Hanya sekedar mengingatkan kepada orang-orang yang sedang terbuai cinta agar senantiasa berhati-hati, bahwa “Pertemuan adalah perpisahan yang menunggu waktu”. Kita boleh saja berencana sangat matang, perlahan mewujudkan, namun semesta jauh lebih tahu yang baik untuk kita.

Maka kuatkan hati untuk membiarkan dia pergi...

sad joseph gordon levitt GIF


//








Dan. Teruntuk kamu, semoga mau menerima masa lalu ku. Mau untuk saling tumbuh dan berkembang bersama.


Soon...

Bismillah...

Sebelum kalian membaca tulisan ini gue meminta maaf kalau ditulisan kali ini gue terkesan merasa sok tau. Tapi tujuan sebenarnya dalam tulisan ini hanyalah sebuah ungkapan dan ajakan agar kita (terutama gue sendiri) bisa jadi generasi yang kalem, adem ayem, dan selalu berdamai dengan masa lalu. Halah.

Ada yang liat pertandingan sepak bola Asian Game cabang sepak bola kemarin? Antara Indonesia Vs UEA, skor pertandingan waktu itu adalah 2-2 berlanjut ke babak extra time lalu berakhir dengan adu penalti. Walau endingnya Timnas kita harus menelan kekalahan dan tidak bisa melanjutkan pertandingan, namun permainan kemarin menurut gue adalah yang luar biasa. Gue nggak melihat pemain kita (Indonesia) bermain seada-adanya, mereka gak gampang menyerah dan justru malah pemain UEA yang keliatan kayak lagi ngelakuin pertunjukan drama.

Hmm.... emosi Bapak.

Nah, setelah usai pertandingan tau siapa yang jadi sorotan? Yap, pas gue ngecek komentar di salah satu postingan instagram akun sepak bola, komentar teratas yang banyak like dan interaksi adalah isi komentar orang yang nyalah-nyalahi kiper Timnas; Andritany Ardhiyasa.

Gak gampang cuy buat nangkap tendangan pinalti! Jaraknya deketttt. Gak cuman kiper, yang nendang juga gugup bukan main. Taruhannya nama Negara!

angry look whos talking now GIF


TUHKAN EMOSI LAGI GUE!

*santai dit, santai..*

Dari sini gue mikir. Bahwa semakin maju sebuah tehnologi, semakin mudah pula menyampai aspirasi, dan semkain mudah pula untuk menyampaikan hal unfaedah. Terutama nge’justmen seseorang dengan cara mengeluarkan komentar negatif, merasa diri paling bener sejagat raya lalu ujunhnya menyalahkan orang lain, seolah-olah dia adalah pengatur alam semesta, dimana setiap ucapanya adalah kemungkinan yang seharusnya terjadi.

Walaupun gak semuanya, masih banyak orang berhati mulia di dunia ini yang kasih komentar baik untuk mereka yang berjuang. Tapi kadang gue selalu gak habis pikir tentang mereka yang suka justmen.

Berpendapat memang sangat diperbolehkan di Negara ini, namun jangan sampai jejak yang ditinggalkan terdapat konotasi negatif. Gak ada untungnya, dosa mungkin iya.

Tidak hanya soal komentar... Postingan juga. Maaf maaf sebelumnya, terutama masalah Agama.

Entah kenapa hal yang harusnya tidak perlu ada sejak Indonesia merdeka 73 tahun lalu ini malah menjadi pedang paling banyak digunakan oleh masyarakatnya sendiri “Agama”. Kayak kemarin ketika Jojo (Jonatan Christie) mendapatkan mendali emas diajang Asian Game cabang bulutangkis tunggal putra.







Miris emang, entah yang kasih komentar emang orang aslinya atau cuman akun palsu. Yang pasti hal kayak gini tidak dibenarkan.

Dan ngomongin soal Agama, khususnya Agama yang gue yakini; Islam, menjadi topik yang tidak pernah habis dibahas. Dan lucunya saling menyalahkan padahal sesama muslim.

Jadi gue punya temen, dia posting hadist di story instagram nya, gak lama posting tiba-tiba ada temennya yang kasih komentar negatif di direct message. Intinya dia menyalahkan apa yang diposting teman gue, padahal yang menyalahkan bukan Ustadz atau ahli Agama.

Semakin dewasa gue jadi makin sering menemukan teman-teman gue yang berdebat soal Agama yang endingnya mereka bisa gak berteman lagi, padahal kami sujud di kiblat yang sama. Sedih? Jangan tnaya.

Sewaktu gue mendapatkan kesempatan Umroh bersama keluarga dulu, jujur diawal-awal gue nggak konsen ketika sholat di masjid. Gimana gak, gue ketemu berbagai macam cara sholat orang saat berdiri tegak menghadap kiblat.  Misal tangann di tengah antara dada dan pusat (umumnya), ada yang di atas dada, ada yang diperut, bahkan ada yang tangannya lurus aja ke sampaing badannya (bersikap tegak). Ada banyak lagi yang lainnya, namun apa mereka berdebat? Tidak. Mereka punya pegangan dan bukti masing-masing.

Kadang ketika menemukan hal yang tidak pernah kita jumpai sebelumnya terlihat aneh bagi kita, apa lagi kalau kebiasaan emang mikir negarif. Beuh, abis tuh pasti diomongin yang enggak-enggak. Ada yang pakai cadar langsung dicurigai, janggutan disangka teroris, dan sebagainya.

Bukan kah dinegera ini sudah mengatur disila ketiga “Persatuan Indonesia” berbeda agama, suku, bahasa namun tetap satu, lantas agama satu Islam dan isi nya yang berbeda namun tetap memiliki landasan, harus saling menyalahkan? Mungkin orang-orang yang tidak bisa saling memahami dan memaklumi perlu pindah planet.

“Ketika kita merasa paling benar, disanalah sebenarnya kita adalah yang paling salah.”
 

Sore hari dibeberapa waktu lalu sebelum hujan membasahi Banjarmasin, gue mampir ke kedai Kopi Pelataran punya teman gue si Obob. Memesan segelas es Kopi Pelataran yang merupakan minuman favorit tiap ke tempat ini, lalu memesan indomie goreng + telur + sayur, dan + rasa kelaparan karena dari siang belum makan berat.

Kalian tahu hal menyenangkan apa yang bisa dilakukan ketika datang ke kedai kopi yang lagi sepi dan kita bisa duduk di depan bar sambil menunggu kopi selesai disajikan barista? Ngobrol. 

Obrolan kami dibuka ketika Obob menaruh paper filter ke dalam V60.

“Dit, gue salut sama lo.”

Dalam hati gue bersyukur dia nggak bilang suka sama gue.

“Maksudnya?” tanya gue heran.

“Lo punya kerjaan yang bisa dibilang tetap sebagai guru dan kalau gue boleh definisikan itu adalah zona aman.” Lalu dia lanjut membasahi paper filter dan siap memasukan bean robusta yang gue lupa namanya ke dalam grinder. “Dan lo juga berada di zona nyaman sebagai penulis, masih bisa menyalurkan hobi kan?”

“Iya sih, tapi ngerjain yang nomer dua masih tipis-tipis. Hhe...”

Nggak lama indomie goreng bersama telur ceplok dan sayur-syuran muncul dari balik pintu, bersama aroma khas yang siapapun gak bisa menolak. Sambil menikmati indomie goreng dan menunggu kopi gue selesai, obrolan kami semakin menarik tentang zona aman dan zona nyaman.

Kata Obob zona aman itu adalah ketika kita merasa tidak ada beban sama sekali didalam pekerjaan, kita merasa semua baik-baik saja, gajih yang kita dapat tiap bulan pasti tidak ada rasa khawatir. Ibaratnya pekerjaan yang kita lakukan tiap hari gitu-gitu aja dan minim resiko, kayak film yang sudah direkam dan kita tinggal memutarnya tiap hari. Simpelnya kita tidak akan hawatir akan kehilangan pekerjaan.

Gue yang berprofesi sebagai guru, walau cuman honor tapi bisa dibilang pekerjaan gue cukup aman karena tidak ada kontrak apa-apa, selama gue menjalani tugas dengan benar maka posisi gue akan baik-baik saja.

Enak kan ya? Enggak juga sih sebenarnya, justru ada rasa bosan saat berada di zona aman. 24 jam selama lima hari gue melakukan aktivitas yang sama, dan pekerjaan utama ini membuat gue harus meninggalkan atau mengurangi zona nyaman selama ini. Hal yang selama ini membuat gue benar-benar senang; menulis. Dan akan tiba masanya kita akan meninggalkan hal yang membuat kita nyaman.

Gue pernah merasa goyah, berniat untuk pindah dari zona aman kembali menuju zona nyaman gue. Tapi... setelah itu gue bertanya-tanya pada diri gue sendiri. 


“Kira-kira ketika gue pindah dari tempat aman ini dan memulai lagi dari nol untuk zona nyaman, apakah hidup gue selanjutnya bakalan seenak ini?” 


Nggak alam kopi pesanan gue selesai, tapi obrolan asik gue dan Obob masih berlanjut.

Kata dia. Berbeda hal ketika seseorang sudah berada di zona nyaman terlebih dahulu, terkadang karena terlalu larut mereka tidak memikirkan untuk pindah ke zona aman (memiliki pekerjaan tetap misalnya). Terlalu menikmati setiap hal yang mereka lakukan dalam pekerjaannya padahal itu bukan zona aman mereka.

Harusnya kita juga memikirkan untuk berada di zona aman, karena tidak ada yang bisa menjamin ketika seseorang sudah terlanjur merasa nyaman. Bisa saja tiba-tiba ngilang pas terlanjut nyaman. Eh, gimana, gimana...

oh my god omg GIF by ESPN

Setahun lalu, gue pernah berencana ingin berhenti mengajar dan mencoba pekerjaan baru. Yap setahun lalu, gue masih ingat banget. Ada beberapa tawaran pekerjaan yang cukup menarik dan berhubungan dengan passion gue.

Tawaran datang bukan hanya datang dari teman-teman, tapi juga melalui email yang memberikan tawaran bisa kerja di rumah. Namun setelah sempat satu tahun berhenti menulis dan nggak bikin apa-apa di 2017. Saat itu gue benar-benar melalui proses yang cukup panjang untuk bisa berdamai dan tahu tentang apa yang gue butuhkan. Sampai akhirya gue benar-benar tahu bahwa karya adalah hal yang selalu gue inginkan. Sebuah penyaluran emosi melalui kata-kata setelah pengingkaran terjadi.

Ditahun ini gue coba pelan-pelan memulai lagi dengan tetap mengutamakan pekerjaan utama, mengatur waktu antara pekerjaan dan karya, bikin konten yang insya Allah bermanfaat.

Salah satu yang coba gue seriusin adalah instagram.

*pantesan jomblo dit, gak mau serius sama cewek*

SERAH!!!

Gue memanfaatkan fiture insta stoy (inget ya insta story bukan snap gram atau sejenisnya) sebagai tempat membahas fiture-fiture dan info terbaru tentang instagram, tools editing foto/video, dan apa aja yang berhubungan dengan instagram. Dan kalau kalian mau liat udah gue bikin sorotannya kok di profile. Btw, follow instagram gue @adittyaregas ya hhe...

Ok. Balik soal zona aman dan zona nyaman. Ini adalah definisi zona aman dan nyaman menurut gue...

Akan selalu ada orang yang merasa kurang dalam pekerjaanya, entah itu dari segi materi atau hasrat yang tidak pernah dikeluarkan. Entah itu dari segi lingkungan atau sudah merasa tidak cocok.

Namun bagi gue definisi dari zona aman dan zona nyaman dalam adalah tentang rasa nyaman.

Hal yang gue cari selain salary, ya gue gak munafik, kalau emang salary cocok pasti gue jalani.
Menurut gue rasa nyaman yang hadir dari lingkungan kerja membuat gue benar-benar betah, bisa dilihat dari saling mengerti dan memahami, bisa juga dari saling menjaga dan melindungi satu sama lain, seperti keluarga.

Karena gue mengajar di Sekolah kejuruan, gue selalu bilang ke siswa yang mau magang. Ketika kamu bekerja disebuah tempat entah itu perusahaan kecil atau besar, sebisa mungkin cari tempat yang nyaman, kenali lingkungan sebelum mulai bekerja kalau bisa. Selain itu gue juga suka bilang selalu kasih yang terbaik di tempat bekerja, selain rasa nyaman. Tunjukan kamu yang terbaik dari mereka dalam artian bersainglah secara sehat. Caranya tunjukkan sisi terbaik dari kita, tonjolkan hal berbeda dengan cara kita sendiri.

Semisal punya softskill dalam hal fotografi, editing video, desain grafis, dan apapun maka coba manfaatkan kelebihan itu. Karena setiap orang pasti punya kelebihan masing-masing, tinggal bagaimana kita mau atau tidak untuk bertindak dan improv.

Jangan pernah merasa rugi atas usaha yang pernah kita coba. Karena nih gak sedikit orang yang tidak memanfaatkan apa yang dia miliki selalu ada berkata “Ah, males kan bukan kerjaan gue” True?

"Boleh bermain di zona aman tapi ingat jangan sampai game over. Dan boleh tidak bermain di zona nyaman karena kamu sudah menang." - Iza Obob.

Oiya, yang mau mampir ke kedai dan ngobrol sama Obob nih gue kasih link instagram kedai nya, kalli aja mau santai ngopi sambil ngobrol Pelataran Coffee.

Jadi sudah berada di zona mana kalian sekarang? Gimana juga definisi zona aman dan nyaman fersi kalian? Share dikolom komentar ya.