4 Januari lalu sebelum jam dua belas malam, gue dan sepupu gue yang dari Lombok si Renda pergi ke Office Coffee. Satu kedai kopi favorite yang hampir tiap hari selalu gue datangi, disana ada banyak hal yang bisa gue temukan bahkan bukan hanya soal kopi dan pengalaman baru, seperti perkara; rasa pahit dari segelas kopi lebih bisa dinikmati dari pada kepergian seseorang.

Malam itu gue sengaja nggak pesan cafe latte atau v60 yang biasa gue bikin sendiri di dalam bar karena besoknya gue harus mengajar, kalau sudah tengah malam minum kopi gue pasti rada susah tidur kecuali 5 jam setelahnya baru bisa merem. Jadi malam itu gue putuskan untuk menyeruput segelas hot green tealatte dan Renda memilih hot cafe latte dengan single espresso.

Gue dan Renda sudah dari zaman orok bareng-bareng, kami dijatuhkan Tuhan ke dunia cuman selisih beberapa hari. Dulu gue paling seneng nginep di rumah nya, waktu masih SD kami seneng main game Mario Bros, gue masih ingat juga dulu kami pernah main bola plastik nyerang komplek sebelah, Renda yang orangnya emang emosian malah berantem, gue yang melihat kejadian itu cuman bisa misahin lalu narik-narik Renda ke tempat kami markir sepeda karena gue emang nggak bisa berantem dan cemen banget waktu dulu. Ya... sampai sekarang, sih.

Pas gue balik sekolah ke Banjarmasin si Renda malah sekolah di Lombok karena harus ikut Ayah nya yang dapat tugas di sana. Jadi kami baru ketemu setahun atau dua tahun sekali saat Renda dan keluarganya merayakan hari raya idul fitri di Banjarmasin.

Seiring bertambah usia, banyak banget perubahan-perubahan yang terjadi diantara kami dari seorang remaja yang mencoba untuk gaul. Dari yang awalnya pembicaraan kami hanya soal episode Shincan, berubah ke soal cewek yang disukai dan soal pacar-pacaran. Tapi ada yang nggak berubah dari Renda yaitu sifat emosi dan ego yang kadang terlalu tinggi, oiya dan satu lagi yang nggak berubah dari Renda. Gue lebih ganteng dari dia.

Sabar ya sabar, ini ujian, ujian dari Allah.

Sekarang usia kami sudah kepala dua. Gue lagi belajar ikhlas di panggil Bapak guru sama siswa-siswa gue dan mencoba untuk menumbuhkan kumis dan janggut biar para orangtua siswa bisa bedain mana guru mana siswa. Lelah Bapak nak dikira siswa terus. -____-“ Sedangkan si Renda baru saja menyelesaikan kuliah dan mendapatkan nilai cumlaude yang gue lihat dari foto di instagram nya, padahal gue tahu selempang cumlaude itu cuman photoshop.

Malam itu adalah malam terakhir dia di Banjarmasin karena besok sudah harus ke Lombok lagi menyelesaikan beberapa urusan kampus dan sibuk melamar kerjaan. Sebenarnya gue berharap dia nggak balik ke Banjarmasin lagi, kerjaannya cuman nyusahin gue. Hih! Nyesel gue punya sepupu kaya dia, pengen gue cubit keteknya pakai jepitan kuku.

Sebelum kami menyeruput sisa minuman terakhir masing-masing, ada satu pertanyaan dari Renda yang sempat bikin gue mikir lama. Satu pertanyaan yang bagi gue tidak biasa, namun harus dijawab dengan jujur karena kita tidak akan pernah tahu seperti apa orang yang akan bersama kita kelak dan kita juga tidak tahu seperti apa masa lalu nya.

“Dit, sekarang kalau lo berada dalam dua pilihan lo pilih satu yang mana. Menikah dengan wanita perawan atau yang sudah nggak perawan, dan keduanya mau jadi istri lo?”

Gue kaget saat Renda tanya kayak gitu karena sebelumnya gue nggak pernah dapat atau dihadapkan dengan pertanyaan semacam itu, apa lagi obrolan kami berdua kadang gak ada yang serius. Kalau tanya soal hubungan LDR, ditinggalin, diselingkuhin atau soal move on mungkin gue masih bisa jawab.

Terjadi jeda cukup lama, Renda menatap gue menunggu jawaban sambil sesekali menjatuhkan abu rokonya ke dalam asbak di meja kami. Karena terlalu lama gue tanya balik ke dia, lalu Renda menjawab.

                “Ya jelas lah gue lebih memilih yang perawan, gue nggak mau istri gue pernah ngelakuin hubungan sex sama cowok lain. Itu artinya dia nggak bisa jaga diri!”

Gue melihat ujung puting rokoknya yang menyala-nyala, satu isapan panjang selesai setelah ucapannya berakhir dan seketika asap rokok yang cukup banyak di keluarkannya tidak ke arah gue, karena dia tahu gue nggak ngerokok.

Entah kenapa pandangan orang terhadap perempuan-peremuan yang tidak perawan kadang di lihat kurang enak di mata masyarakat. Kadang suka dinilai sebagai perempuan yang gampangan dan lain sebagainya beraroma negatif, itu yang gue rasakan sampai sekarang di mata masyarakat bahkan orangtua kita.

Beberapa hari sebelumnya, Ayah dan Mama sempat berdebat kecil memutuskan soal perempuan seperti apa yang cocok untuk mendapingi anak pertamanya ini. Sekarang gue lebih terbuka soal hubungan dengan mereka, yang dulunya suka disembunyiin sekarang sudah saatnya mereka kenal sama perempuan mana anak nya ini sedang dekat. Karena bagi gue, restu kedua orangtua penting walau yang menentukan tetap gue sendiri.

Ayah bilang.

                “Adit itu hobi nya nulis, dia suka kerja di luar kayak di cafe, dia butuh suasana tenang dan nyaman. Jadi dia nggak cocok sama perempuan yang suka mengatur apa lagi melarang dia kemana-mana. Hobi nggak boleh diganggu tapi bukan juga dijadikan yang utama.”

Dari sana gue tahu salah satu sifat perempuan seperti apa yang gue butuh kan, Ayah yang biasanya cuek dan suka marah-marahin gue waktu kecil ternyata diam-diam memperhatikan hal yang gue sendiri kadang masih nggak tahu jawabannya.

Gue meneguk green tealatte terakhir sebelum pukul duabelas malam, dan menjawab pertanyaan Renda.

                “Dua-duanya nggak masalah.”

Renda bingung.

                “Maksudnya?”

                “Ya, keduanya kampret! Lu sok foto pakai slempang cumlaude tapi kata-kata gue aja nggak ngerti! Dasar LEMAH!”

Gue sudah mau dipukul tapi untuk sempat menghindar.

                “Yang serius taplak! Gue ngerti, tapi jelain maksudnya apa.”

Gue membenarkan posisi duduk dan sesekali menatap ke lantai tanpa ada tujuan. Sekelompok orang yang baru selesai menghabiskan kopi nya di ruang dalam Office Coffee secara teratur pulang, hanya tersisa gue dan Renda di luar dan beberapa barista di dalam bar.

Gue menarik nafas cukup panjang, lalu perlahan mengeluarkannya dari mulut.

                “Siapa aja jodoh gue, gue akan terima. Mau dia perawan atau nggak gue nggak masalah. Emangnya perempuan yang selaput dara nya masih utuh bisa jamin dia baik atau cocok sama kita ya?” Tanya gue ke Renda, dia menatap gue diam. “Eh ren, semua orang pasti punya masa lalu masing-masing mau bagaimana pun juga kita harus terima baik buruknya dia, kalau emang lo bener-bener cinta sama seseorang sudah pasti hal kayak gitu harus lo terima, mau dia perawan atau nggak. Apa lagi kalau sudah ketetapan Tuhan, lo mau nantang? Yang terpenting bagi gue memilih yang nyaman, mau terima masa lalu masing-masing, dan mau sama-sama terus jadi pribadi yang lebih baik lagi.”

Renda masih menatap gue sambil sesekali melihat ke lantai, gue melajutkan kalimat terakhir.

“Kalau dia punya masa lalu yang nggak beres, berarti Tuhan memerintah kita buat bikin dia jadi orang yang lebih baik, apa lagi dia kan yang bakalan mendidik anak-anak.” Tutup gue dengan satu tarikan senyum tipis.

Beberapa detik setelah itu gue melihat sedikit senyuman tipis dari sepupu kampret gue ini. Walau senyumannya menjijikan tapi gue tahu apa yang sebenarnya dia maksud.

Bagi gue cewek cantik dan perawan akan jadi biasa aja selama nggak bikin kita nyaman, apa lagi kalau sampai ngelarang hobi yang kita punya. Selama memang hobi yang dikerjain positife kenapa harus dilarang-larang.

Ingat ini, sebelum kamu kenal dia, dia sudah akrap dengan hobinya yang membuat dia lupa sosok bernama sakit hati. Kalau ada yang ngelarang lo sudah tau jawabannya; tinggalin aja. Ya... kecuali hobi dia selingkuh, baru lo boleh pasang bahan peledak di badannya.

Salah satu barisata Office Coffee sahabat gue si Anjas pernah bilang:

“Kita belum hadir di masa lalu nya jadi terima dia apa adanya sekarang, bukan melihat masa lalu nya.”

love smile sad crying text

Jangan menilai seseorang hanya dari masa lalu dia.

Sewaktu masih sekolah gue masih ingat banget guru BK gue menggambarkan seorang perempuan seperti sebuah guci. Guci yang sudah pecah tidak akan pernah kembali cantik walau hanya retak sedikit. Ya, gue masing ingat.

Jujur gue juga sempat berfikir demikian, tidak bisa dipandang baik seorang perempuan apabila dia menyerahkan keperawannya. Namun sekarang gue tahu ini bukan persoalan utuh dan tidak utuh seperti guci, seorang perempuan tidak layak dinilai hanya dari retak atau tidak.

Mereka juga berhak melajutkan hidupnya dan mereka layak mewujudkan mimpi-mimpinya. Ini hanya persoalan keputusan mereka yang ingin melepaskan, karena mereka masih punya seribu kebaikan jangan hanya di pandang dari selabut dara.

Teruntuk perempuan yang sudah melepas, tenang saja. Pria ini mencintai mu dengan sungguh dan menerima masa lalu mu.
sexy smile supernatural man jensen ackles

//

Tulisan ini tidak bermaksud atau beranggapan seks diluar nikah adalah sesuatu hal yang diperbolehkan. Gue hanya ingin sedikit membuka mata perempuan-perempuan yang mungkin sedang menangis atas bagian dari tubuhnya yang sudah sobek.

Hei... kalian layak untuk mendapatkan kebahagiaan yang sama.

lipatan-celana

Gue masih ingat banget saat pertama kali jalan sama gebetan waktu itu gue masih SMP, gue memakai atasan baju kaos berlogo Superman dengan bawahan celana jeans yang kegedean dan bagian kaki nya menutupi setengah dari sepatu yang gue pakai. Waktu itu badan gue pendek – ya sampai sekarang sih – pemilihan celana jeans yang kebesaran dan terlalu panjang, ditambah sepatu yang alasnya rendah, membuat gue baru tersadarkan.

Bahwa untuk berpakian yang baik dan benar saja dulu gue nggak mampu.

Bukan cuman itu. Waktu zaman SD sampai SMP setiap mau lebaran gue pasti dibeliin paman dan tante pakaian lengkap dari atasan sampai bawahan, sebagai upah karena gue sanggup puasa full satu bulan. Dengan iming-iming dibeliin pakaian baru gue dengan semangatnya berpuasa sampai hari yang ditunggu tiba.

Tapi gue kadang suka nggak bebas kalau mau milih pakaian, baik celana atau baju. Karena mereka yang beliin kadang yang dikasih selalu kebesaran.

                “Nggak papa dit sedikit kegedean, biar tetep bisa dipakai kalau kamu udah dege. Hehee...”

Kalimat barusan gue dapat ketika dikasih baju yang panjangnya mau nyentuh lutut... Gue berani jamin kalian pasti pernah merasakan kalimat kayak di atas teman-teman. Gue benar-benar tahu gimana rasanya.

Dan pada akhirnya gue harus membawa ke tukang jahit untuk memperkecil ukuran baju atau celana jeans yang dikasih, terutama bagian kaki yang biasanya selalu lebih panjang dari ukuran kaki gue.
Permasalahan kayak gue pasti juga sering dialami para cowok lain yang sering menggunakan jeans dalam kesehariannya. Cowok mana sih yang nggak punya satu jeans di dalam lemarinya? Dan nggak jarang kita para cowok selalu punya jeans yang kepanjangan.

Nah, ternyata ada cara untuk mengakali celana jeans yang kepanjangan loh, yaitu dengan melakukan lipatan atau isitlah keren para pecinta jeans adalah cuff atau cuffing. Gue yakin kita-kita para cowok keren yang baca ini pasti sering melakukan lipatan pada jeans tapi hanya sedkit yang tahu soal cuff ini.
Cuffing dilakukan bukan hanya untuk mengakali celana jeans yang terlalu panjang agar jeans tidak dipotong, tapi juga bisa menghasilkan efek-efek fashionable yang unik. Jadi intinya cuff tidak sembarangan ya gaes, ada beberapa jenis cuff yang harus kalian kenal.

Karena pada umum nya kita nggak akan memakai jeans yang terlalu panjang, panjang jeans ternyaman sih menurut gue tingginya yang menutupi mata kaki. Kalau panjang jeans kayak gini kita bisa dengan mudah membuat berbagai macam teknik cuff.

Dipostingan kali ini gue bukan hanya akan mengenalkan ke kalian tentang berbagai macam teknik cuff, tapi gue juga akan kasih tahu jenis sepatu kayak apa aja yang cocok digunakan kalau kalian menggunakan jenis-jenis teknik cuff tertentu.

Karena nggak jarang gue lihat cowok suka lipat jeans nya sembarangan lalu menggunakan sepatu yang kurang cocok. Ya... nggak masalah juga sih sebenarnya kalau itu gaya dia, tapi nggak ada salahnya juga untuk sekedar tahu dan menilai kira-kira yang cocoknya seperti apa, bukan?
Kayak milih jodoh juga. Jangan asal cantik dan pinter bikin alis doang tapi lo juga harus mastiin, dia kalau pipis jongkok atau berdiri!

SINGLE CUFF

Teknik cuff yang pertama ini yang paling simpel dan paling mudah dilakukan, yaitu dengan cara melipat 1 kali ke arah luar. Tinggi single cuff sendiri terbagi menjadi tiga macam yaitu; kecil, sedang, dan besar.

Menurut gue pemilihan single cuff kecil sangat cocok dipadukan dengan sepatu jenis loafers, boots dan sneakers. Single cuff dengan jenis sepatu loafers akan terlihat simple dan clean, pada sepatu boots sendiri akan terlihat kesan versatie, dan single cuff kecil cukup bagus untuk dipadukan dengan sepatu sneakers akan muncul efek stacking.

single-cuff-kecil
Single Cuff Sedang

Untuk jenis single cuff sedang, gue lebih merekomendasi untuk dipadukan dengan dua jenis sepatu saja yaitu loafers dan boots, karena apa bila dipadukan dengan sneakers tidak cocok. Silahkan kalian coba sendiri dan lihat hasilnya deh. Hihii....

Single Cuff Besar

Dan untuk single cuff besar, jelas banget lebih cocok digunakan untuk sepatu boots saja. Perbaduan single cuff besar dan sepatu boots akan memunculkan efek vintage dan mempunyai sifat heritage yang worker banget. Ets, tapi jangan pakai single cuff besar sembarangan ya.

Karena penggunaan cuff yang terlalu besar malah akan membuat badan terlihat pendek, cuff jenis ini lebih cocok digunakan orang yang berkaki panjang. Jadi yang badanya agak mini gue kasih saran jangan dicoba deh.

DOUBLE CUFF

Kalau single cuff dirasa masih kurang karena celana masih terlalu panjang, solusi kedua bisa menggunakan double cuff. Single cuff dan double cuff memiliki tampilan yang jelas sangat berbeda, kalau menggunakan single cuff hem-line serta warna benang pada celana jeans masih bisa terlihat namun tidak untuk double cuff. Lipatan yang dilakukan sebanyak 2 kali juga membuat cuff lebih tebal.

double-cuff
Double Cuff Sedang

Double cuff sedang cocok digunakan untuk sneakers, loafers dan boots yang bernuansa vintage karena akan memberikan efek simple dan clean seperti single cuff. Sedangkan untuk double cuff besar menurut gue hanya cocok digunakan pada jenis sepatu boots saja, penggunaan ini akan terlihat kesan worker banget deh.

double-cuff
Double Cuff Besar

Para pecinta jeans biasanya hanya akan merekomendasi sampai double cuff saja, karena kalau sampai triple cuff atau seterusnya celana jeans yang dikenakan pasti akan terlihat sangat aneh. Apa lagi sampai kalian melakukan lipatan sampai atas dengkul. Bahahaha...

ROLL CUFF

Mungkin kalau menggulung berantakan lengan baju yang panjang udah biasa ya, tapi bagaimana dengan menggulung berantakan celana? Cuff ini dibuat memang untuk menunjukkan kesan yang berantakan, keliatan kayak yang lagi makai cuff ini seperti orang kebanjiran hihi.

Roll Cuff

Ets... tapi kalian jangan salah, roll cuff nggak sembarangan dilakukan teknik yang dilakukan untuk jenis cuff ini adalah pin roll. Pin roll akan menghasilkan bagian bawah pada jeans akan terlihat sedikit tappered.

Teknik roll cuff cocok banget untuk lo pada yang mau kelihatan santai, maka sepatu yang paling cocok digunakan seperti slip-on atau juga cocok dipadukan dengan sandal.

FAUX SINGLE CUFF

Nah ini teknik yang paling asik menurut gue. Sekarang gini... kalian harus tahu juga nih. Biasanya para pecinta jeans suka memperhatikan hem-line jeans nya, hem-line adalah bagian garis atau benang pada jahitan jeans kayak yang sudah gue jelasin di double cuff. Kebanyakan orang termasuk gue sebenarnya nggak terlalu memperdulikan hem-line namun untuk para pecinta jeans sejati penampakan hem-line cukup menjadi perhatian.

faux-single-cuff
Faux Single Cuff

Teknik faux single cuff ini sebenarnya adalah modifikasi dari double cuff dan caranya pun sama saja, yang membedakan adalah untuk lipatan kedua agak diturunkan sedikit tepat di bawah hem-line dan efek yang didapat sudah jelas berbeda dengan double cuff.

Gue sendiri paling sering menggunakan teknik ini dan sepatu yang gue pakai adalah jenis loafers berbahan kulit atau sneakers, kedua jenis sepatu ini paling cocok untuk bersanding dengan faux single cuff. Secocok gue bersanding sama mantan pacar di pelaminan entar. BAHAHAHAHA!!!

*Diludahin*

Oke maap...

Gimana udah cukup kali ya kenalan sama jenis-jenis cuff. Jadi jangan hanya lipat sembarangan jeans kelaian ya, karena cowok juga harus tahu tentang apa yang dia pakai. Dan jangan lupa untuk memperhatikan sepatu apa yang cocok bersanding dengan jenis cuffing yang mau dipakai.

Kalau salah memadukan sudah pasti antara cuffing dan sepatu kalian keliatan banget nggak cocoknya. Iya, nggak cocok, udah kayak lo yang maksa-maksa buat balikan sama mantan. Mau gimana juga gak bakalan cocok!

Hmm... Jadi emosi sendiri.

Dan untuk melengkapi beberapa teknik cuffing di atas gue kasih tahu sepatu apa yang harus lo punya biar selalu cocok dengan cuffing yang lo pakai. Gue rekomendasiin kalian harus pakai sepatu keren dari GUTEN INC bahan yang berkualitas 100% leather (kulit asli) dan model yang mewah tapi tetep santai, pasti cocok banget dipakai dalam aktifitas kita para cowok setiap hari.

Mau pakai single cuff kecil lo bisa padukan dengan sepatu jenis loafers si hitam Poka All Black. Mau double cuff besar dengan nuansa worker? Bisa pasangkan dengan boots Jeune Chukka Pull Up Brown. Atau mau terlihat lebih santai lagi buat jalan-jalan di pantai, lo bisa pakai roll cuff dan padukan dengan Chiba Sandal Black. Bahkan mau kuliah sekalipun bisa pakai faux single cuff dan pakai Cules Tan Sneakers.

GUTEN INC nggak cuman menyediakan footware doang tapi juga ada bag, apparel bahkan aksesoris yang cowok banget yang bikin penampilan kita jadi keliatan lebih keren dan menarik. Etss.. bukan cuman buat cowok, GUTEN INC juga menyediakan fashion buat para cewek kok. Dan yang pasti GUTEN INC punya model yang masa kini banget, jadi jangan ragu.

Jadi... mau apapun jenis cuffing yang kalian pakai, semua koleksi footwear GUTEN INC pasti cocok. Mau liat koleksi lainnya? Nih tinggal klik: http://guteninc.com/.

Oke gimana... Sudah tahu soal lipatan jeans yang ternyata unik dan beragam kan? Udah gue kasih tau juga tuh sepatu apa yang cocok dipakai. Jangan lupa dipraktekin dan jadi keren selalu ya gaes!

//

Website: guteninc.com
Instagran: @guteninc
Store: Jl.Cihampelas No.9 Bandung

Orang tua adalah sosok yang harus kalian teladani. Jika seorang ayah terkenal dengan kerja kerasnya, seorang ibu terkenal dengan kasih sayangnya yang gak pernah berbatas buat kita. Duh, kalau udah bahas ibu gini, gue jadi terharu. Terkadang orang-orang selalu ngomong “cara loe memperlakukan perempuan mencerminkan gimana sikap loe sama ibu”. Emang ada benarnya sih, kita sebagai seorang cowo emang harus menghargai perempuan tak terkecuali Ibu sendiri.

Nah, mungkin beberapa dari kalian kudu wajib mencontoh sikap yang dimiliki seorang ibu apalagi buat kalian para cewek yang nantinya bakal jadi seorang Ibu juga. Eits, kalau buat para cowok sih maksudnya dicontoh sikapnya ya bukannya berpakaian seperti ibu-ibu. Hihi. Ada beberapa sikap yang wajib kalian contoh dari seorang Ibu nih.

Penyayang

Seorang Ibu itu sikap penyayangnya luar biasa banget. Mungkin kalau diukur gak bakalan ketemu deh angka tepatnya. Coba deh saking sayangnya seorang Ibu, terkadang mereka rela lapar asal si anak gak kelaparan. Tuh? Kurang apalagi? Saking sayangnya seorang Ibu sama anaknya, terkadang mereka rela mengorbankan setengah hidupnya buat kalian gaes!

Perhatian

Perhatian seorang Ibu gak cuman saat kalian lahir ke dunia gaes! Mulai dari kalian masih dalam janin pun mereka perhatian. Mulai dari hati-hati kalau makan yang sembarangan, selalu menjaga kesehatan, check up ke dokter buat tau perkembangan janin, misalnya check up perkembangan janin trimester pertama anaknya. Bahkan saat kalian terlahir pun mereka perhatian, rela-relain gak tidur buat ngurus kalian yang terjaga tiap malam, meskipun Ia ngantuk luar biasa. Bayangin aja udah ngurusin kaian dari pagi sampai sore, terus malamnya mereka gak tidur buat menghadapi rewelnya kalian waktu masih kecil.

Pemaaf

Seorang Ibu itu bukan cuma penyayang luar biasa.  Seorang Ibu pemaafnya luar biasa banget. Kalian masih ingatkan kenakalan kalian waktu kecil? Ibu kalian marah? Marah sih iya, tapi apa pernah kalian gak dikasih makan? Apa pernah kalian dibiarin tidur diluar rumah? Gak pernah kan? Semarah-marahnya seorang Ibu sama kenakalan anaknya tapi ia gak pernah gak maafin kesalahan anaknya. Itulah seorang Ibu, sebesar apapun kesalahan si anak selalu ada pintu maaf :’)

Terharu ya kalau ingat Ibu, itu cuma contoh kecil. Masih banyak sikap-sikap seorag Ibu yang wajib kalian contoh. Pokoknya pesan gue sih jangan pernah sia-siain keberadaan sosok Ibu yang masih setia di samping kalian. Kalau bisa sih berikan yang terbaik buat Ibu kalian.

2014 – Berdamai dengan masa lalu adalah hal yang kadang sangat sulit dilakukan oleh sebagian orang. Terkadang hanya beberapa orang yang sanggup untuk ikhlas dengan masa lalu nya, merelakan dia untuk bahagia bersama orang baru. Dan tak jarang, dua orang yang gagal menjalani hubungan bisa berakhir seperti dua orang yang tidak saling kenal.

//

Ada kah diantara kalian yang pernah hubungannya berakhir lalu tidak bisa berdamai dengan masa lalu?

Ada?

Pasti.

Nggak masalah itu adalah hak kalian, mungkin dia yang terlalu menggores luka di hati memang harus mendapatkan hal setimpal. Karena setiap orang memiliki perasaan yang berbeda-beda dan setiap orang memiliki waktu nya masing-masing untuk sekedar menyembuhkan rasa dikecewakan.

Sebenarnya gue juga pernah mengalami fase ini, fase dimana rasa enggan untuk mengenal orang yang dulu pernah berjanji mau bareng-bareng, gue enggan untuk sekedar menatap foto – kami yang tertempel di kamar – orang yang selalu jadi tempat gue mengadu saat mulai menyerah, gue enggan untuk sekedar mengingat lagi orang yang dulu menjadi alasan gue untuk sekedar bangun pagi.

Tujuh tahun yang lalu gue pernah dikecewakan, gue merasa seharusnya pertemuan konyol di bawah pohon sukun itu tidak terjadi, yang berujung pada sebuah hubungan yang berakhir dengan kekecewaan. Namun setelah itu gue menyesal atas keputusan gue yang secara sepihak; harus nya perpisahan disepakati dan berakhir dengan baik-baik, karena kami mengawalinya dengan baik-baik.

Sejak saat itu gue selalu berusaha mencari ruang maaf dari hati nya yang sudah gue hancurkan, melakukan berbagai cara untuk sekedar menebus dosa yang sudah menancap terlalu dalam. Bertahun-tahun gue coba untuk berusaha meminta maaf, ya... intinya hanya meminta maaf. Karena gue tahu kembali hanya sebuah angan.

Lalu bagaimana kabar kami sekarang?

Lucu. Mungkin hanya kata itu yang menurut gue paling cocok menggambarkan keadaan kami sekarang. Lucu, bagaimana kami yang dulu selalu menghindar malah sekarang saling mencari. Lucu, bagaimana saat gue curhat tentang cewek yang gue dekati Dia malah memberi dukungan dan masukan. Lucu, bagaimana Dia yang sudah punya kekasih tapi malah mendengarkan apa yang gue katakan.

Sebelumnya gue nggak pernah berharap atau sekedar untuk membayangkan kalau kami akan sedekat ini, jauh lebih dekat dari pada saat kami memiliki hubungan khusus. Gue malah sempat berfikir Dia nggak akan mau lagi ketemu atau sekedar membalas chat, sekarang? Jangankan buat ketemu atau chatting doang, diajak jalan aja Dia mau terus. Hihi...

“Bukannya Dia mantan yang bikin lo gagal move on? Kalau kayak gini makin susah move on dong?”

Justru disana, semakin kita mencoba untuk menghindar biasanya akan makin kepikiran. Gue memilih untuk menikmati apa yang ada, awalnya memang rada aneh tapi lama kelamaan gue malah terbiasa karena memang niat bukan untuk merajut angan lagi. Nggak ngampang memang untuk bisa akrap lagi dengan masa lalu, mungkin lebih gampang ketika tidak menghubungi Dia (mantan) lagi.

Semakin kesini gue pribadi makin merasa bahwa berdamai dengan masa lalu dan menjadi akrap bukan hal yang buruk.

Mantan Pacar Adalah Orang Yang Kenal Luar dan Dalam Kita – Setiap hal apa pun selama bersama selalu diceritakan, sedih, senang, susah, semuanya dibagi tanpa ada yang harus dihawatirkan (kecuali selingkuh). Saat hanya butuh telinga dia selalu mendengar, saat butuh nasihan dia juga selalu bisa memberikan. Dia adalah orang yang kenal baik-buruk nya kita, Dia adalah orang yang mengerti harus berbuat apa tanpa diminta.

Disetiap pertemuan gue dan Dia selalu saling tukar pikiran dan pendapat tentang apa saja, dari soal pekerjaan sampai hubungan. Dia yang sudah mengenal luar dan dalam gue adalah alasan kenapa gue selalu mencarinya, karena membagi cerita dengan orang baru - lagi - bukan perkara yang mudah buat gue.

Sudah terlalu cukup gue berbagi dan terlalu percaya dengan orang yang sering bilang “Mau diseriusin gak?” atau “Kita sama-sama terus ya”. Disini gue berfikir bahwa cinta seperti hal apa yang kita senangi, ketika kita terlalu senang dengan satu hal kita cenderung akan larut terbawa arusnya dan kadang bisa saja menghalalkan berbagai cara untuk mencapai puncak tertinggi, seperti layaknya meracik kata-kata manis yang membuat sasarannya terbuai.

Jadi jangan malu untuk sekedar bertukar pendapat dengan Dia.

Dia yang lama dan baik, selamanya akan menjadi baik meski sudah tidak ada kata “kita” diantara kalian.


Bagaimana Pun Dia Sudah Mendewasakan Atas Sebuah Perpisahan – Coba renungkan sebentar dan ingat-ingat lagi apa yang terjadi setelah cerita manis kalian berubah menjadi rasa pahit saat terjadinya perpisahan...

Perpisahan kami membuat gue jadi lebih berhati-hati untuk berkata dan bertindak. Perpisahan kami juga membuat gue bisa menciptakan sebuah karya dari rasa sesal yang gue alami. Itu yang gue rasakan, bagaimana dengan kalian?

Saat gue coba memulai lagi gue selalu melihat ke belakang, bukan... ini bukan soal membandingkan yang dulu lebih baik dari yang sekarang. Hanya saja kita perlu melihat kebelakang dan belajar dari cerita pahit dimasa silam untuk menjadi manis dimasa sekarang.

Membandingkan Dia yang dulu lebih baik dari pada orang baru hanya akan membuat rugi. Karena buat gue seperti apapun orang yang bersama gue sekarang itu adalah pilihan terbaik, toh kalaupun gagal gue hanya akan belajar lagi untuk ikhlas. Ya, walaupun jujur ikhlas adalah perkarang yang paling sulit. Setuju?

Tapi justru dibalik sulitnya untuk meng-ikhlas-kan ada kedewasaan yang menanti.

Jadi kita juga harus belajar dari sebuah perpisahan, mengambil makna dari setiap kejadian-kejadian yang sudah menjadi takdir, karena perpisahan lah yang mampu membuat kita menjadi lebih dewasa dan bijak.

Seperti segelas kopi, perpisahan pasti akan terasa pahit. Namun hanya sebagian orang yang mampu merasakan bahwa rasa pahit dari sebuah kepergian juga bisa dinikmati.

-


Sekitar awal november gue mengerjakan tugas kampus Dia, saat itu Ibu Dosennya – yang gue tau cantik banget – ngasih tugas bikin poster yang berisi salah satu berita ekonimo di Indonesia. Dan saat bersamaan mouse gue mendadak rusak, bisa aja sih bikin desain kalau nggak pakai mouse di laptop ini tapi pasti hasilnya gak maksimal.

Berhubungan gue adalah mantan yang kurang ajar, gue pinjem mouse Dia dan minta dianter ke rumah gue. Niatnya sekalian nggak mau dibalikin kemarin.

Dan ketika tugas Dia sudah selesai gue minta Dia ambil mouse nya ke rumah gue lagi. Dia datang ke rumah tapi kalian tahu apa? Dia nggak sendiri, Dia datang sama pacarnya yang lebih tinggi dan lebih keren dari gue...

Gue kasih mouse nya, Dia bilang makasih pacarnya juga bilang makasih, gue jawab dengan senyum dan kalimat sama-sama. Kami sempat ngobrol sebentar bertiga ketawa-ketawa di depan rumah gue, saat mereka mau pamit untuk pertama kalian gue berjabat tangan dengan pacar si mantan.

Pacar barunya yang ini harus gue akui lebih dewasa dan jauh lebih dari yang setelah gue, yang bikin hubungan gue gagal tujuh tahun lalu. Pacar barunya juga tahu, gue dan Dia ada apa di tujuh tahun lalu. Adakah rasa marah atau aneh saat kami bertemu dan berjabat tangan?

Gue harus jawab, iya.

Iya aneh, bagaimana saat kebanyakan orang berusaha menyembunyikan rasa sakit tapi gue malah senang dengan kondisi ini.

Sebagian orang mungkin lebih memilih untuk tidak berteman dengan mantan pacar nya lagi, itu nggak masalah. Tapi untuk orang-orang yang berteman lagi dengan mantan pacar juga bukan hal yang buruk.

-

Dewasa bukan hanya tentang bagai mana bisa mengambil keputusan yang bijak, lalu menerima segala resikonya. Bukan hanya tentang sebuah janji manis yang diucapkan, lalu sengaja dilupakan.

Dewasa juga berarti bagai mana kita bisa menerima kenyataan pahit, seperti sebuah kepergian. Dan dewasa juga berarti bagai mana kita bisa bersahabat baik dengan masa lalu. Bukan melupakan dan menganggap dia tidak pernah ada dikehidupan kita yang lalu. Karena dia yang mendewasakan.

Jadi, masih musuhan sama mantan? :)

Kemarin gue baru aja baca tulisan temen gue si Radhian yang berjudul Merindukan Minggu Pagi Yang Dulu. Dalam tulisan itu dia bahas soal kartun-kartun favoritnya zaman dulu yang selalu ditonton dan beberapa kenangan masa kecil yang menyenangkan yang hanya terjadi disetiap akhir pekan. Oke mungkin biar lebih kompels gue tambahkan “Hanya dirasakan anak generasi 90’an”. Setuju?

Setelah membaca itu gue jadi ingat moment-moment tahun 2000’an dimana saat gue masih berseragam putih-merah, Lalu gue coba membandingkan kenyataan dulu dan sekarang yang gue rasakan sebagai generasi 90’an. Seperti yang sudah kita tahu hal simpel yang bisa dirasakan perbandingan zaman dulu dan sekarang adalah tayangan film kartun yang sudah hampir tidak ada lagi pada zaman sekarang di hari minggu.

Gue merasa tipi malah merenggut kebahagiaan anak-anak dengan meniadakan film-film kartun dan diganti dengan tayangan tidak sesuai dengan  usia mereka. Contoh kayak yang jalan-jalan menjelajah gitu, efeknya banyak bocah ingusan termotivasi mau menjelajah alam bebas, padahal seperti yang kita tahu hal seperti itu cuman setingan dan kalau pun benar perjalanannya gak semudah yang kita tonton saat di tipi. Sok mau ke hutan, ke komplek sebelah aja bisa gak dibolehin emak.

Selain tayangan kartun yang sudah nggak ada lagi sebenarnya ada beberapa hal lain yang mulai menghilang pada generasi sekarang, yang harusnya menurut gue dirasakan oleh anak-anak sekarang.
Kali ini gue akan coba mengingat-ngingat lagi kenangan masa kecil yang pernah gue lalui sebagai generasi 90’an. Kira-kira ada yang sama kaya kalian gak ya?

Koleksi Majalah Bobo

Image result for koleksi majalah bobo
via dzikrinaililazkiya.blogspot.co.id

Hal wajib yang harus gue beli tiap minggu saat masih menjadi siswa sekolah dasar adalah majalah anak-anak, ada yang masih ingat sama majalah Bobo? Gue dulu seneng banget beli dan hampir gak pernah ketinggalan. Kebetulan rumah gue nggak jauh sama toko buku, jadi setiap hari bisa ngecek kalau ada majalah baru.

Gue juga masih ingat banget di halaman awal majalah Bobo biasanya pembaca akan diceritakan langsung cerita singkat Bobo atau kadang juga Bona dan Rongsong – cerita si kucing dan gajah berwarna pink – yang lucu dan penuh inspirasi. Oiya ada juga cerita dongen anak dari Oki dan Nirmala, ada yang masih ingat mereka gak sih hahaha. Boca-boca sekarang? jangankan beli majalah Bobo kenal juga nggak, yang dibeli tiap minggu cuman kuota internet. Hmm...


Menonton Kartun Sampai Siang di Rumah Tetangga

Image result for menonton kartun anak 90
via kukuhandriansah.blogspot.co.id

Sama kayak apa yang ditulis Radhian di blog nya, kami punya masa kecil yang sama. Ergg... tapi untung kami nggak jodoh. Maksud gue kami sama-sama kerjaannya tiap minggu nonton film kartun dan haram hukumnya kalau minggu bangun kesiangan Hahahaa.

Gue waktu SD masih tinggal di Muara Teweh disana susah banget nyari sinyal buat nonton tipi lokal dan baru bisa kalau makai parabola, dan parabola adalah alat yang paling langka bin mahal. Jadinya kalau gue mau nonton kartu di tipi gue numpang nonton ke rumah temen, wajib banget juga hukumnya harus mandi dulu.

Ya lu bayangin aja kalau gue nggak mandi, bangun-bangun dengan sisa air liur basi yang masih nempel di pipi terus tai mata masih nempel kayak biji durian pergi ke rumah orang. Walau ribet dan kadang harus nonton desak-desakan sama temen yang senasip, justru disana asiknya.

Main Sepak Bola Plastik Bareng Temen Sore Hari

Image result for ada zaman dulu main sepak bola hujan
via brilio.net

Setiap sore biasanya kalau udah selesai sholat ashar jam empat lewat, anak-anak di gang zaman dulu udah pada keluar abis tidur siang. Hayo siapa yang gitu? Hahaa. Dan biasanya nih tiap bulan kayak ada musimnya giut. Lagi musim layang-layang anak zaman dulu bakalan ngisi langit-langit penuh sama layang-layannya sendiri. Kalau musim main lempar gambar pada beli gambar di pasar atau Paman pedagang mainan yang biasnaya ada di sekolah.

Gue sendiri bukan tipe anak yang suka ikut musiman, gak ikut tren anak-anak seper’gang’an #halah Pernah gue coba mainin layang-layang punya temen bukanya terbang ke atas malah nukik ke bawah dan nyangkut ke rumah orang.

Tapi yang paling seru sih sore gue zaman dulu main sepak bola plastik di lapangan gang, sampai-sampai kami bikin tiang gawang sendiri dan di sekeliling lapangan dikasih jaring biar gak masuk rumah orang. Main bola plastik dengan alas kaki telanjang wkwk. Hayo siapa yang sama?

Yang paling bikin bahagia main bola plastik sore hari itu pas turun hujan! Bener-bener masa kecil yang bahagia. Sekarang udah gede kalau hujan yang ada galau, ingat kenangan manis sama mantan, nangis. Hih dasar payah!

Dan adzan magrip menjadi peluit panjang berakhirnya pertandingan. Sumpah kangen banget moment gini. :')

//

Ada lagi sebenarnya yaitu main PS 1 Bahaha. Entar deh ditulisan lain kita bahas lagi game PS 1 yang paling seru dimainin hihi. Sebenarnya ada banyak hal menyenangkan lainnya yang gue rasakan waktu masih kecil, kebahagiaan kecil yang jarang banget dirasakan anak zaman sekarang.

Waktu kadang memang kejam banget ya.

Kalau kalian punya hal masa kecil menyenangkan apa? Share di kolom komentar biar kita saling memetik ridu akan masa kecil yang idah ya.

Yaelah mau bikin tulisan penutup aja puitis banget. :v

header: informasitips.com