Bismillah...

Sebelum kalian membaca tulisan ini gue meminta maaf kalau ditulisan kali ini gue terkesan merasa sok tau. Tapi tujuan sebenarnya dalam tulisan ini hanyalah sebuah ungkapan dan ajakan agar kita (terutama gue sendiri) bisa jadi generasi yang kalem, adem ayem, dan selalu berdamai dengan masa lalu. Halah.

Ada yang liat pertandingan sepak bola Asian Game cabang sepak bola kemarin? Antara Indonesia Vs UEA, skor pertandingan waktu itu adalah 2-2 berlanjut ke babak extra time lalu berakhir dengan adu penalti. Walau endingnya Timnas kita harus menelan kekalahan dan tidak bisa melanjutkan pertandingan, namun permainan kemarin menurut gue adalah yang luar biasa. Gue nggak melihat pemain kita (Indonesia) bermain seada-adanya, mereka gak gampang menyerah dan justru malah pemain UEA yang keliatan kayak lagi ngelakuin pertunjukan drama.

Hmm.... emosi Bapak.

Nah, setelah usai pertandingan tau siapa yang jadi sorotan? Yap, pas gue ngecek komentar di salah satu postingan instagram akun sepak bola, komentar teratas yang banyak like dan interaksi adalah isi komentar orang yang nyalah-nyalahi kiper Timnas; Andritany Ardhiyasa.

Gak gampang cuy buat nangkap tendangan pinalti! Jaraknya deketttt. Gak cuman kiper, yang nendang juga gugup bukan main. Taruhannya nama Negara!

angry look whos talking now GIF


TUHKAN EMOSI LAGI GUE!

*santai dit, santai..*

Dari sini gue mikir. Bahwa semakin maju sebuah tehnologi, semakin mudah pula menyampai aspirasi, dan semkain mudah pula untuk menyampaikan hal unfaedah. Terutama nge’justmen seseorang dengan cara mengeluarkan komentar negatif, merasa diri paling bener sejagat raya lalu ujunhnya menyalahkan orang lain, seolah-olah dia adalah pengatur alam semesta, dimana setiap ucapanya adalah kemungkinan yang seharusnya terjadi.

Walaupun gak semuanya, masih banyak orang berhati mulia di dunia ini yang kasih komentar baik untuk mereka yang berjuang. Tapi kadang gue selalu gak habis pikir tentang mereka yang suka justmen.

Berpendapat memang sangat diperbolehkan di Negara ini, namun jangan sampai jejak yang ditinggalkan terdapat konotasi negatif. Gak ada untungnya, dosa mungkin iya.

Tidak hanya soal komentar... Postingan juga. Maaf maaf sebelumnya, terutama masalah Agama.

Entah kenapa hal yang harusnya tidak perlu ada sejak Indonesia merdeka 73 tahun lalu ini malah menjadi pedang paling banyak digunakan oleh masyarakatnya sendiri “Agama”. Kayak kemarin ketika Jojo (Jonatan Christie) mendapatkan mendali emas diajang Asian Game cabang bulutangkis tunggal putra.







Miris emang, entah yang kasih komentar emang orang aslinya atau cuman akun palsu. Yang pasti hal kayak gini tidak dibenarkan.

Dan ngomongin soal Agama, khususnya Agama yang gue yakini; Islam, menjadi topik yang tidak pernah habis dibahas. Dan lucunya saling menyalahkan padahal sesama muslim.

Jadi gue punya temen, dia posting hadist di story instagram nya, gak lama posting tiba-tiba ada temennya yang kasih komentar negatif di direct message. Intinya dia menyalahkan apa yang diposting teman gue, padahal yang menyalahkan bukan Ustadz atau ahli Agama.

Semakin dewasa gue jadi makin sering menemukan teman-teman gue yang berdebat soal Agama yang endingnya mereka bisa gak berteman lagi, padahal kami sujud di kiblat yang sama. Sedih? Jangan tnaya.

Sewaktu gue mendapatkan kesempatan Umroh bersama keluarga dulu, jujur diawal-awal gue nggak konsen ketika sholat di masjid. Gimana gak, gue ketemu berbagai macam cara sholat orang saat berdiri tegak menghadap kiblat.  Misal tangann di tengah antara dada dan pusat (umumnya), ada yang di atas dada, ada yang diperut, bahkan ada yang tangannya lurus aja ke sampaing badannya (bersikap tegak). Ada banyak lagi yang lainnya, namun apa mereka berdebat? Tidak. Mereka punya pegangan dan bukti masing-masing.

Kadang ketika menemukan hal yang tidak pernah kita jumpai sebelumnya terlihat aneh bagi kita, apa lagi kalau kebiasaan emang mikir negarif. Beuh, abis tuh pasti diomongin yang enggak-enggak. Ada yang pakai cadar langsung dicurigai, janggutan disangka teroris, dan sebagainya.

Bukan kah dinegera ini sudah mengatur disila ketiga “Persatuan Indonesia” berbeda agama, suku, bahasa namun tetap satu, lantas agama satu Islam dan isi nya yang berbeda namun tetap memiliki landasan, harus saling menyalahkan? Mungkin orang-orang yang tidak bisa saling memahami dan memaklumi perlu pindah planet.

“Ketika kita merasa paling benar, disanalah sebenarnya kita adalah yang paling salah.”
 

Sore hari dibeberapa waktu lalu sebelum hujan membasahi Banjarmasin, gue mampir ke kedai Kopi Pelataran punya teman gue si Obob. Memesan segelas es Kopi Pelataran yang merupakan minuman favorit tiap ke tempat ini, lalu memesan indomie goreng + telur + sayur, dan + rasa kelaparan karena dari siang belum makan berat.

Kalian tahu hal menyenangkan apa yang bisa dilakukan ketika datang ke kedai kopi yang lagi sepi dan kita bisa duduk di depan bar sambil menunggu kopi selesai disajikan barista? Ngobrol. 

Obrolan kami dibuka ketika Obob menaruh paper filter ke dalam V60.

“Dit, gue salut sama lo.”

Dalam hati gue bersyukur dia nggak bilang suka sama gue.

“Maksudnya?” tanya gue heran.

“Lo punya kerjaan yang bisa dibilang tetap sebagai guru dan kalau gue boleh definisikan itu adalah zona aman.” Lalu dia lanjut membasahi paper filter dan siap memasukan bean robusta yang gue lupa namanya ke dalam grinder. “Dan lo juga berada di zona nyaman sebagai penulis, masih bisa menyalurkan hobi kan?”

“Iya sih, tapi ngerjain yang nomer dua masih tipis-tipis. Hhe...”

Nggak lama indomie goreng bersama telur ceplok dan sayur-syuran muncul dari balik pintu, bersama aroma khas yang siapapun gak bisa menolak. Sambil menikmati indomie goreng dan menunggu kopi gue selesai, obrolan kami semakin menarik tentang zona aman dan zona nyaman.

Kata Obob zona aman itu adalah ketika kita merasa tidak ada beban sama sekali didalam pekerjaan, kita merasa semua baik-baik saja, gajih yang kita dapat tiap bulan pasti tidak ada rasa khawatir. Ibaratnya pekerjaan yang kita lakukan tiap hari gitu-gitu aja dan minim resiko, kayak film yang sudah direkam dan kita tinggal memutarnya tiap hari. Simpelnya kita tidak akan hawatir akan kehilangan pekerjaan.

Gue yang berprofesi sebagai guru, walau cuman honor tapi bisa dibilang pekerjaan gue cukup aman karena tidak ada kontrak apa-apa, selama gue menjalani tugas dengan benar maka posisi gue akan baik-baik saja.

Enak kan ya? Enggak juga sih sebenarnya, justru ada rasa bosan saat berada di zona aman. 24 jam selama lima hari gue melakukan aktivitas yang sama, dan pekerjaan utama ini membuat gue harus meninggalkan atau mengurangi zona nyaman selama ini. Hal yang selama ini membuat gue benar-benar senang; menulis. Dan akan tiba masanya kita akan meninggalkan hal yang membuat kita nyaman.

Gue pernah merasa goyah, berniat untuk pindah dari zona aman kembali menuju zona nyaman gue. Tapi... setelah itu gue bertanya-tanya pada diri gue sendiri. 


“Kira-kira ketika gue pindah dari tempat aman ini dan memulai lagi dari nol untuk zona nyaman, apakah hidup gue selanjutnya bakalan seenak ini?” 


Nggak alam kopi pesanan gue selesai, tapi obrolan asik gue dan Obob masih berlanjut.

Kata dia. Berbeda hal ketika seseorang sudah berada di zona nyaman terlebih dahulu, terkadang karena terlalu larut mereka tidak memikirkan untuk pindah ke zona aman (memiliki pekerjaan tetap misalnya). Terlalu menikmati setiap hal yang mereka lakukan dalam pekerjaannya padahal itu bukan zona aman mereka.

Harusnya kita juga memikirkan untuk berada di zona aman, karena tidak ada yang bisa menjamin ketika seseorang sudah terlanjur merasa nyaman. Bisa saja tiba-tiba ngilang pas terlanjut nyaman. Eh, gimana, gimana...

oh my god omg GIF by ESPN

Setahun lalu, gue pernah berencana ingin berhenti mengajar dan mencoba pekerjaan baru. Yap setahun lalu, gue masih ingat banget. Ada beberapa tawaran pekerjaan yang cukup menarik dan berhubungan dengan passion gue.

Tawaran datang bukan hanya datang dari teman-teman, tapi juga melalui email yang memberikan tawaran bisa kerja di rumah. Namun setelah sempat satu tahun berhenti menulis dan nggak bikin apa-apa di 2017. Saat itu gue benar-benar melalui proses yang cukup panjang untuk bisa berdamai dan tahu tentang apa yang gue butuhkan. Sampai akhirya gue benar-benar tahu bahwa karya adalah hal yang selalu gue inginkan. Sebuah penyaluran emosi melalui kata-kata setelah pengingkaran terjadi.

Ditahun ini gue coba pelan-pelan memulai lagi dengan tetap mengutamakan pekerjaan utama, mengatur waktu antara pekerjaan dan karya, bikin konten yang insya Allah bermanfaat.

Salah satu yang coba gue seriusin adalah instagram.

*pantesan jomblo dit, gak mau serius sama cewek*

SERAH!!!

Gue memanfaatkan fiture insta stoy (inget ya insta story bukan snap gram atau sejenisnya) sebagai tempat membahas fiture-fiture dan info terbaru tentang instagram, tools editing foto/video, dan apa aja yang berhubungan dengan instagram. Dan kalau kalian mau liat udah gue bikin sorotannya kok di profile. Btw, follow instagram gue @adittyaregas ya hhe...

Ok. Balik soal zona aman dan zona nyaman. Ini adalah definisi zona aman dan nyaman menurut gue...

Akan selalu ada orang yang merasa kurang dalam pekerjaanya, entah itu dari segi materi atau hasrat yang tidak pernah dikeluarkan. Entah itu dari segi lingkungan atau sudah merasa tidak cocok.

Namun bagi gue definisi dari zona aman dan zona nyaman dalam adalah tentang rasa nyaman.

Hal yang gue cari selain salary, ya gue gak munafik, kalau emang salary cocok pasti gue jalani.
Menurut gue rasa nyaman yang hadir dari lingkungan kerja membuat gue benar-benar betah, bisa dilihat dari saling mengerti dan memahami, bisa juga dari saling menjaga dan melindungi satu sama lain, seperti keluarga.

Karena gue mengajar di Sekolah kejuruan, gue selalu bilang ke siswa yang mau magang. Ketika kamu bekerja disebuah tempat entah itu perusahaan kecil atau besar, sebisa mungkin cari tempat yang nyaman, kenali lingkungan sebelum mulai bekerja kalau bisa. Selain itu gue juga suka bilang selalu kasih yang terbaik di tempat bekerja, selain rasa nyaman. Tunjukan kamu yang terbaik dari mereka dalam artian bersainglah secara sehat. Caranya tunjukkan sisi terbaik dari kita, tonjolkan hal berbeda dengan cara kita sendiri.

Semisal punya softskill dalam hal fotografi, editing video, desain grafis, dan apapun maka coba manfaatkan kelebihan itu. Karena setiap orang pasti punya kelebihan masing-masing, tinggal bagaimana kita mau atau tidak untuk bertindak dan improv.

Jangan pernah merasa rugi atas usaha yang pernah kita coba. Karena nih gak sedikit orang yang tidak memanfaatkan apa yang dia miliki selalu ada berkata “Ah, males kan bukan kerjaan gue” True?

"Boleh bermain di zona aman tapi ingat jangan sampai game over. Dan boleh tidak bermain di zona nyaman karena kamu sudah menang." - Iza Obob.

Oiya, yang mau mampir ke kedai dan ngobrol sama Obob nih gue kasih link instagram kedai nya, kalli aja mau santai ngopi sambil ngobrol Pelataran Coffee.

Jadi sudah berada di zona mana kalian sekarang? Gimana juga definisi zona aman dan nyaman fersi kalian? Share dikolom komentar ya.


Bismillah...

Sebelum gue melanjutkan tulisan ini, mungkin alangkah lebih baiknya gue mulai dengan mengucapkan "taqabbalallahu minna wa minkum" untuk teman-teman muslim dan mohon maaf lahir bathin ya kalau gue ada salah. Ya, gue tau sih gue gak ada salah, kalian aja yang banyak salah suka ngata-ngatai gue jomblo. Hmm...

Btw, gimana puasanya? ada yang bolong? udah ada yang nanyain kapan nikah pas lebaran kemarin? kasian. Hahahahahahaaaaaaahikss... *sama*

Jadi gini. Pas sholat subuh bulan puasa kemarin gue ketemu sama mantan anak didik PMR di SMP, kenapa gue sebut mantan karena gue udah nggak ngelatih PMR disana lagi. Gue sedikit basa-basi soal gimana sekarang PMR disana dan ada sedikit rasa kecewa terlihat cukup jelas diwajahnya.

Semenjak gue sudah tidak melatih disana semuanya menjadi kacau. Anak-anak jadi punya kubu masing-masing, yang ikut latihan semakin hari semakin berkurang, dan konflik lainnya terjadi oleh generasi tiktok ini.

Jadi semenjak gue mendapatkan jabatan sebagai Pembina IPM (ikatan pelajara Muhammadiyah) atau sama dengan Pembina OSIS dan program full day yang sekolah gue pakai, membuat hari-hari gue habis cuman di sekolah. Selain itu gue juga mengang ekskul Futsal, kadang pulang bisa sehabis sholat magrib.

Sebenarnya sebelum gue berhenti melatih PMR di SMP, gue udah menyiapkan pelatih pengganti dan sudah bilang ke pihak sekolah juga tapi entah kenapa setelah gue keluar malah gak ada, untungnya terkadang para alumni menyempatkan waktu untuk datang melatih.

Sedih? Jujur iya. Dulu, pernah cerita di blog ini tentang pengalaman pertama gue melatih dan cerita gajih pertama gue beliin novel, terus neraktir temen gue Dian (btw dia cowok, namanya aja kayak cewek). Gue sudah melatih ketika masih kelas dua SMK sekitar tahun 2010 atau 2011. Waktu itu mendadak disuruh Ayah untuk menggantikan pelatih yang lama dan saat itu gue bener-bener buta soal PMR ngertinya sedikit doang.

Waktu SMP gue memang ikut ekskul PMR, tapi... jarang masuk, itu juga ikutan karena ada cewek yang gue taksir.

Pelan-pelan gue belajar, kadang suka sotoy menjawab pertanyaan dari anak-anak cuman mengandalkan improvisasi, karena kadang melakukan pertolongan pertama kita cuman butuh logika dan tenang gak boleh gugup, kecuali menghadapi pertolongan pertama pada hati yang terluka. Hmm... ok, lanjut aja. Dari melatih PMR ini lah gue belajar dan akhirnya lancar ngomong dihadapan orang banyak, tau gimana cara menguasai dan membangun suasana waktu belajar atau mengisi acara, benar-benar kepake ketika gue kerja.

Gue juga masih ingat zaman itu gue antusias banget melatih, kalau ada bencana alam gue ajak anak-anak buat ikut andil bagian mengajak mereka dalam kegiatan kemanusiaan, kami sama-sama bikin invosi cara ketika latihan, setiap ikut lomba kami selalu membawa piala juga. Tapi udah beda banget ketika gue punya kerjaan utama.





Sekarang hari-hari gue disibukkan oleh urusan sekolah yang ada-ada aja, sampai ke coffee shop pun gue masih ngerjain kerjaan sekolah. Bikin materi, bikin LPJ kegiatan, bikin RPP, mengoreksi soal ulangan, sampai ngisi niai rapot. Kadang kalau gak sanggup ngerjain sendiri, gue minta bantuan temen-temen barista. Iya, gue emang suka ngerepotin orang.

Kesibukan lain yang gue coba adalah jadi pembina PMR dan Futsal selain pembina IPM. Iya, futsal kalian gak salah baca, orang yang badanya tidak lebih tinggi dari siswanya ini juga bisa main futsal. Kadang gue juga bisa menjadi pelatih kalau pelatih utama lagi gak bisa hadir, baru-baru aja melatih udah bisa bawa piala dong. WAJIB SOMBONG.



Note: NGAK USAH KOMEN SOAL TINGGI BADAN

//

Gue yakin kita semua pasti punya waktu-waktu terbaik dalam hidup, waktu yang bikin hari-hari kita jadi bahagia banget. Lalu pelan-pelan memudar menjadi kenangan, yang pada akhirnya hanya bisa kita nikmati lewat foto-foto didinding kamar sambil tersenyum tipis.

Ini adalah arti lain dari namanya tumbuh. Kita pasti akan mengalami fase-fase yang tidak sama setiap tahun. Yang dulunya suka nongkrong bareng, terganti oleh urusan masa depan masing-masing. Atau mungkin yang dulunya biasa ngelakuin apa-apa dan kemana-mana sendirian, punya harapan tergantikan oleh ngelakuin apa-apa dan kemana-mana, berdua.

Bismillah...

Seperti dipostingan sebelumnya, kali ini gue akan cerita soal buku kedua gue. Jadi, selama gue nggak ngeblog lagi sebenarnya gue masih sering menulis, hanya saja nggak sepanjang menulis kayak di blog. Biasanya sih gue nulis di twitter, bentar, itu nulis atau ngetwit sih?

Gue sering nulis quote di twitter atau biasanya yang agak panjang gue akan tulis dicaption instagram gue. Posting foto landscape atau kopi, terus dikasih caption yang nggak nyambung sama foto nya, bodo lah kalau gak nyambuang tapi gue seneng, toh instagram punya gue.

Nah, berawal dari sana gue jadi mikir. Kenapa nggak coba gue bikin buku kumpulan sajak aja dan ngajak beberapa orang buat nulis dibuku tersebut. Singkat cerita akhirnya gue mengajak tiga orang penulis yang kriteriannya masuk dalam kategori yang gue butuhkan dalam buku sajak tersebut dan mereka adalah Dha’il, Lily, dan bang Gajali si pemilik akun Sajaklama yang sudah lama gue follow.

Secara keseluruhan sebenarnya mereka lebih berpengalaman menulis kalimat romantis yang bisa bikin sipembaca klepek-klepek, dari pada gue yang kalau nulis quote bikin pembaca kesurupan.

Buku kumpulan sajak ini berjudul ELEGI - Pertemuan adalah perpisahan yang menunggu waktu. Walau buku ini adalah kumpulan sajak tapi gue dan temen-temen ngedesain alurnya kayak sebuah cerita, dimana kalian akan kami bawa untuk melalui fase-fase ketika jatuh cinta, patah hati, rindu, lalu berakhir dengan mengikhlaskan dengan cara paling bahagia.

Buku ini terdiri dari empat bab dan cukup ringan dibaca oleh siapa saja, gaya tulisan gak seberat gayanya ibuk sosiallita kok, eh. Dan di setiap awal bab akan ada ilustrasi kece dari temen-temen barista dari bebrapa coffee shop di Banjarmasin.



Soal harga masih belum dapat info dari penerbit, tapi menurut perkiraan di bawah limapuluh ribu, sih harusnya. Nah terus, kami para penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari buku ini karena royaltinya nanti akan kami sumbangkan ke teman-teman kita yang membutuhkan. Kayak fakir asmara contohnya mungkin. Eh, nggak ding.

Kami akan terbuka soal berapa jumlah royalti yang kami dapat dari hasil penjualan buku Elegi nantinya dan kemana akan disumbangkan nantinya.

Oiya. Buku kedua ini bukan lanjutan dari buku pertama gue Diary Anak Magang loh ya. Hmm... semoga buku lanjutan dari Diary Anak Magang bisa gue tulis lagi.

Buku Elegi ini nggak PO jadi insya Allah akan dijual langsung kalau sudah ready, kalau gak ada halangan akan terbit dipertengan bulan Maret ini. Yap! pantengin aja sosmed gue di twitter sama instagram ya, biar kalian tahu kapan jodoh akan menghampiri bukunya udah ready (biar keliatanannya ada yang merhatiin gue).

Hari libur adalah hari yang sangat berharga bagi kami yang sudah bekerja. Berbeda ketika masih kuliah dulu. Masih bisa leyeh-leyeh sepulang kelas, masih bisa jalan-jalan walau tugas sudah menanti, masih bisa ketemuan sama mantan pacar secara diam-diam. Eh.

Sebelum memulai tips persiapan me time gue mau sedikit menjelaskan tentang me time. 

Me time adalah waktu sendiri dimana kalian akan meluangkan waktu yang kalian punya untuk beraktivitas hanya sendirian tanpa bayang-bayang gebetan yang udah bahagia sama temen sendiri. Ya, gak beda jauh sama jomblo, sih. 

Ada banyak cara yang orang lakukan ketika melakukan me time tergantung dia sukanya apa, bisa menyalurkan hobi atau jalan-jalan ke satu tempat. Kalau gue biasanya bakalan ngelakuin beberapa hal sekaligus secara berurutan, jadi udah direncanaan seharian mau ngapain aja, tujuannya sih biar waktu luang yang gue punya bisa gue pakai semaksimal mungkin. 

Ya, namanya juga udah kerja, jadi me time harus benar-benar dimanfaatin banget. 

Nah, disini gue punya tips buat kalian yang bingung mau memulai me time dari mana, cara ini khusus yang beginner yang masih bingung gimana caranya menikmati waktu sendiri. Kalau yang baca ini udah expert mungkin bisa share di kolom komentar ya. 


MANDI

Sebelum kalian mau beraktifitas khususnya di luar rumah, gue sarankan untuk melakukan hal wajib ini: Mandi. Walau remeh dan kalian tiap hari sudah melakukannya, aktifitas mandi nggak boleh kalian tinggalkan biar badan wangi dan seger. Nggak mau kan pas jalan-jalan ke mall kalian dilemparin batako. 

Disarankan juga untuk menggunakan pengharum ruangan badan dan kalau perlu gunakan handbody sun block atau handbody pemutih badan karena cowok juga wajib merawat kulit.


OOTD TERNYAMAN

Outfit Of The Day. Walau menikmati waktu cuman sendiri bukan berarti outfit yang kalian pakai itu B aja. Coba pakai pakaian terbaik kalian dan yang terpenting nyaman. Karena sejatinya selama apapun kalian menjalin hubungan tapi kalau nggak pernah bikin nyaman, ya buat apa? Seneng enggak, sakit hati tiap hari iya! 

Emosi sendiri gue... 

Yang penting jangan pakai yang bikin kalian ribet, kayak pakai baju barongsai ke mall.


BATERAI FULL DAN BAWA CHARGER

Gue pernah iseng bikin voting di instagram, mending mana? Ketinggalan HP atau Dompet. Ternyata banyak yang mending ketinggalan HP daripada dompet. Kalau gue mending gak ketinggalan keduanya. 

SERAH LU DIT! 

Kalau mau jalan-jalan gue kasih saran baterai gadget baik HP atau laptop harus di charger sebelum berangkat, pastikan minimal udah terisi minimal 80% sebelum berangkat me time. Gue pernah kelupaan dan saat gue tiba di coffeeshop baterai hp gue tinggal 15% dan gue nggak bawa charger. Sumpah gue mati gaya, apa lagi udah pesen minum, ke-bete-an bertambah ketika ada cewek cantik duduk di seberang, jadi gak bisa lama-lama dan bingung harus berbuat apa.


BAWA BUKU BACAAN ADAN BAWA HEADSET

Ini obat dari masalah di atas obat anti mati gaya, yap bawa buku bacaan. Gue kalau lagi me time biasanya bawa hand bag yang muat sama satu buku, gue pasti bawa satu buku bacaan yang belum sempat gue selesaikan. 

Biasanya sih gue memang memanfaatkan waktu kosong buat menyelesaikan buku bacaan gue. Udah gak kayak dulu lagi bisa baca buku banyak dalam beberapa hari, sekarang buat menyelesaikan satu buku aja bisa berbulan-bulan parah emang. Dan jangan lupa bawa headset biar bacanya makin asik sambil dengerin musik, gue sih kadang lebih konsen kayak gitu biar nggak dengerin orang di samping ngegosip.


SUDAH TAHU MAU KEMANA

YAIAYALAH! MASA LU GAK TAHU MAU KEMANA! 

// 

Segitu aja sih tips persiapan me time untuk pemula dari gue, semoga apa yang gue sampaikan ini bisa bermafaat untuk kalian yang ingin mencoba melakukan aktifitas sendiri yang menyenangkan. 

Dan untuk yang sudah paham banget gimana cara melakukan me time yang asik silahkan share versi kalian sendiri. Karena berbagi itu indah, tapi jangan pernah berbagi kebahagian yang sudah kalian tanam bedua. 

Sekian.