Adittya Regas

Writer

Designer

Social Media Specialist

Like Coffee

Tuesday, 24 December 2019

Kamar Dan Tuhan Yang Rindu


Luka tak akan sembuh bila kau tak memberi ia ruang untuk menangis. Ketika duka datang maka terkadang ia seperti sebuah bayangan. Selalu mengikuti, tak bisa dihindari dan selalu menghantui. Maka janganlah berlari, tapi hadapi.

Sekitar 2011 atau 2012 pokoknya saat gue kelas tiga SMK, gue sempat terkena kasus yang boleh dibilang cukup serius. Semua berawal ketika gue mencopy tulisan seseorang di blog dia lalu gue tulis ulang dan gue publish disalah satu website berita.

Dan suatu hari tulisan itu masuk koran, gue seneng dan gue ceritakan di blog ini. Lalu kalian tahu apa? Pemilik tulisan itu mengetahui dan dia berniat untuk menyelesaikan pemasalah ini ke meja hijau. Takut? sudah pasti, usia yang sangat muda dan minim sekali pengalaman membuat gue sangat ketakutan. Gue merasa bersalah sebenarnya tapi disatu sisi gue juga merasa tidak sebegitu salah.

Saat itu gue benar-benar kebingungan, ketakuta, cemas, semua campur aduk. Gue jadi males memainkan laptop, gue lebih sering menatapnya dari kasur sambil memikirkan akan seperti apa nasip ini. Lebih banyak diam di kamar.

Entah kenapa yang gue rasa. Disaat tertekan atau menghadapi masalah yang cukup besar, bagi gue kamar adalah tempat ternyaman dan teraman. Kedua, disaat mendapatkan masalah gue selalu merasa lebih dekat dengan sang pencipta. Lebih tepatnya gue yang mendekat dan meminta pertolongan atas masalah yang sedang gue hadapi.

Begitu pula urusan perasaan. Bahwa lelaki pun juga akan ada saatnya meneteskan air mata. Dan bagi gue tempat ternyaman sekali lagi adalah kamar. Sebagian orang mungkin menganggap kamar hanya tempat untuk menghantarkan lelah, kamar hanya tempat peristirahatan selepas bekerja atau kamar hanya tempat untuk singgah.

Saat umur gue 20'an, rasa-rasanya sering banget gue menghadapi permasalahan dan sering pula bercerita kepada teman yang gue rasa cocok untuk mengadu. Yap, siapapun. Gue emang keliatannya pendiam, tapi sebenernya suka ngomong, hanya saja gue bakalan cerita ke orang yang tepat.

Namun saat usia gue semakin bertambah, gue semakin sadar. Kepada siapa gue harusnya bercerita. Gue mulai mengurangi diri untuk menceritakan hal-hal yang gue sedang hadapi, bahkan kepada sahabat sendiri pun kadang gue tidak percerita banyak. Hanya bagian-bagian penting yang gue butuh untuk ceritakan.

Karena menurut gue, sebaik-baiknya pendengar adalah Tuhan. Dan sebaik-baiknya tempat bercerita adalah kamar.

Terkadang sebenarnya kita juga tahu perihal jawaban dari masalah yang kita hadapi. Hanya saja sebagian kita memang perlu orang untuk meyakini. Tapi percayalah, kita punya Tuhan yang senantiasa menunggu tiap sendu yang kita bawa kepada-Nya, bahkan Ia akan memberikan hal yang lebih dari apa yang kita pinta.

Tinggal... bersabar untuk menunggu dan mau untuk selalu dekat dengan-Nya.

Semasing kita memiliki kepercayaan yang berbeda-beda tentang Tuhan. Gue sendiri adalah seorang Muslim, hal yang kami lakukan sama seperti agama lain untuk meminta hanya saja kadang tangan yang berbeda, yaitu berdo'a. Dan sajadah adalah saksi dari tiap pinta yang kami tinggikan.

Menyendiri di Kamar. Duduk diantara dua sujud di sepertiga malam, sembari mengangkat kedua tangan di depan wajah, atau kadang gue menutup wajah dengan kedua telapak tangan, sebuah tanda bahwa gue malu hanya datang disaat ada masalah diantara dosa yang melimpah, namun Ia selalu setia menanti tanpa berniat untuk pergi.

Bagi gue, kamar adalah saksi dari tiap masalah yang gue hadapi. Tempat ternyaman untuk berbicara dengan pemilik hati. Dan mereka adalah saksi-saksi dimana diri ini pernah berharap terlalu tinggi, tentang nama-nama yang sempat ditangisi, tentang bingkai yang dipeluk berulang kali hingga jatuhnya air mata... hingga menggenang.

Jadi. Kapan kamu terakhir bertamu mesra lewat do'a dengan-Nya di Kamar kesayangan?


Hasil gambar untuk elegi rindu yang kita tangisi

//

Baca Juga: PINDAH

Tulisan ini dibuat sudah lama saat beberapa hari menjelang pernikahan gue dan terinsfirasi dari lagu Elegi - Rindu Yang Kita Tangisi.

Jadi gue sejak SMK udah tinggal sama Kakek dan Nenek, gue tinggal disalah satu kamar lantai dua, disana gue tumbuh dan menemukan berbagai pengalaman. Dan ketika gue mulai beberes kamar untuk pindahan, gue jadi ingat banyak banget moment yang sudah gue lalui selama kurang lebih delapan tahun tinggal di kamar tersebut.

Kamar itu jadi saksi dari ide-ide tulisan yang gue publish di blog dan buku, seribu kegalauan ada disana. Hahaha... Walau kalau siang suhunya panas banget dan kalau malam suka dingin banget. Tapi gue sangat berterimakasih, sudah menemani waktu remaja gue.

Berbagai waktu yang dilewati pasti akan menjadi kenangan terbaik atau terburuk, tapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menjadikannya pengalaman.

Terimaksih untuk delapan tahun luar biasa :)

Seorang yang suka merangkai perasaan dan keresahan lewat kata. Memiliki keahlian desain grafis dan Social Media Specialist. Jangan ragu untuk menghubungi melalui email dengan ide proyek kamu!.

Contact Me

Cari Blog Ini

Powered by Blogger.

Follow by Email

GET IN TOUCH WITH ME

For business purposes, you can contact us at email him at kontakregas@gmail.com