Tentang Kepastian Yang Bernama; Kematian

Setahun lalu adalah duka bagi kami. Kakak Ipar gue meninggal dunia pada usia yang masih muda karena sakit. Anak kedua dari empat bersaudara. Istri gue cerita kalau mereka berdua sering main dan berantem, sejak kecil dan sampai dewasa. Berbeda dengan kakak pertama.

Salah satunya yang masih gue ingat, ketika Istri gue naruh es krim dikulksa, tiba-tiba hilang pas malamnya mau dimakan. Dicari tahu ternyata Kakaknya yang kedua itu yang makan.  Jujur gue memandang ini sebuah kelucuan walau mungkin saat itu Istri gue kesal. Untung Adik gue enggak pernah kaya gitu. Kalau dia yang makan tiba-tiba, bisa gue masukin toples.

Lalu beberapa bulan lalu Adik sepupu gue, Nail, meninggal dunia. Bayi berusia 10 bulan yang berisi dan sangat lucu, hobinya rebahan sambil nonton Blue's Clues. Tidak ada satupun dari kami yang punya firasat tapi Allah berkata lain. Allah lebih sayang dia, dipanggil hari Jumat. Hari yang sangat baik.

Awan kelabuh runtuh di rumah tak ada satu pun yang sanggup menahan air mata kepergian. Apa lagi Istri gue waktu itu merasa tidak percaya, merasa begitu dekat dengan bayi lucu itu pula karena sempat memberi Asi untuknya. Om terbaik Arzan (anak gue) semasa masih bayi, selisih mereka cuman 3 bulan.

Satu-satunya hal moment lucu yang akan selalu gue ingat, ketika Nail mengajak Arzan ngobrol kaya curhat hhe... Moment itu engga akan terulang dan sampai kapan pun akan gue ingat.

Kelahiran dan Kematian adalah sebuah kepastian, satu paket yang tidak bisa ditawar. Kematian adalah tanda sebuah kepergian ketik jasat sudah kembali pada tempatnya tak ada satu pun yang bisa mengelak ketika takdir dariNya sudah memanggil. Siapapun kita, siapa pun kamu, seperti apa pun jabatannya, pasti akan bertamu pada waktunya.


Jika kematian ditangisi lalu apa bedanya dengan kelahiran? Bukan kah dia awal dari sebuah perpisahan.


Ada kata-kata yang selalu terngiang dikepala gue. Kata-kata dari seorang guru besar, guru yang begitu kami cintai, guru yang sangat sederhana namun geraknya selalu kami perhatikan, Guru yang terutama orang-orang dari tanah Kalimantan Selatan sangat cintai. K.H Ahmad Zuhdianoor. Sebelum beliau wafat ada kata-kata yang selalu tengiang dikepala gue. Bahkan setiap waktu, setiap detik. Tentang sebuah kepergian yang tidak perlu ditangisi.



Kita boleh saja mengerutu "Enak aja meninggal kalau dalam keadaan beriman" atau "Enak aja matinya kalau engga banyak dosa".

Ketika kita mengucapkan kata diatas atau persamaannya, bukankah kita sudah tahu jawaban dari apa yang harusnya kita lakukan?

Gue engga bisa menjelaskan seenak jidat tutorial menjadi orang baik, apa lagi mati dengan cara beriman agar tenang. Karena gue juga bukan orang baik-baik. Hanya segumpal daging yang ingin pulangnya nanti dalam keadan baik pula.

Namun izinkan untuk sedikit memberitahu dari apa yang sudah didahului orang-orang baik, guru-guru kita, alami ulama yang sudah pernah menyampaikannya pula. Ini hanya sedikit pengingat.

Dimana pun berada dalam keadaan apapun, usahakan untuk bersholawan dan beristighfar.

Dan mengingat selalu perihal kematian dalam setiap waktu. Agar selalu berbuat hal baik. Karena kita tahu, bahwa kita hanyalah seorang pendosa. Yang menunggu kapan waktunya tiba.

Comments

  1. menangis saat orang yg kita sayangi meninggal... susah dijelaskan apa sebabnya. saat belahan jiwa meninggal ibu tdk meneteskan air mata, ibu berbisik ditelinga beliau " smg Allah mengampuni dosa-dosa pian mas."
    Saat kafan mau ditutup, ibu cium beliau tanpa meneteskan airmata , ibu bisikkan "terimakasih mas, sudah mendampingiku , mencarikan rezeki utkku dan anak2, smg langkah kakimu mencari rezeki mjdd ladang pahala utkmu."
    Tetapi tangis pecah saat pulang dr pemakaman, rumah terasa berbeda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah apa-apa yang sudah ditakdirlah Allah adalah yang terbaik dari yang terbaik.

      Delete

Post a comment

Tinggalin komentar sesuai dengan isi tulisan ya. Happy Blogging!!! :D