Teruntuk Semua Siswa


Bismillah...

Selama gue menjadi wali kelas terlalu banyak pengalaman yang gue dapat, terutama pengalaman yang gak enak. Bukan cuman masalah dari murid yang kadang bikin gue harus lebih sering elus-elus dada, kadang gue juga sering mendapatkan aduan dari guru-guru lain. Pekerjaan guru menurut gue adalah yang paling kudu ekstra sabar. Ya, jauh haurs lebih ekstra sabar dari pada ngadepin cewek PMS.

Masalah siswa yang biasa gue hadapai adalah saat siswa tidak terlalu memperhatikan pelajaran di kelas, sering tidak masuk sekolah, memainkan HP saat guru menjelaskan, merokok di kelas, dan melamun meratapi kegagalan sebuah hubungan, yang ini terakhir gue banget. Sampai yang cukup parah kayak kemarin siswa di kelas gue berantem sama adik kelasnya, ada juga yang memakai obat-obatan terlarang ketika di kelas, dan bahkan ada yang bawa kondom.

Gue sih udah bisa kalau dengeri masalah seperti ini, memang sudah pernah terjadi ketika gue jadi siswa. Gue sering melihat saat di kelas, satu persatu teman gue di kelas dipanggil ke ruang BK. Waktu itu sih, gue santai aja dan gak heboh karena sudah tahu gimana endingnya. Tapi sekarang walau gue sudah tahu endingnya rasanya bikin pusing kepala juga kalau berada diposisi sekarang, sebagia Wali kelas. Gue harus menyelesaikan masalah orang lain, padahal gue juga punya banyak masalah yang harus gue selesaikan sendiri.

Gue gak tahu apa yang ada dipikiran siswa saat mereka melakukan pelanggaran, gue sendiri paling jarang melakukan pelanggaran di Sekolah, karena waktu itu gue sadar gue sekolah dibayarin.

Sewaktu SMK yang bayarin daftar ulang sampai SPP selama sekolah 3 tahun adalah Kakek gue. Ya, karena sewaktu keluarga gue tinggal di Muara Teweh usaha Ayah gue bangkrut dan gak ada yang tersisa selain baju dan barang-barang di rumah. Beruntung kami punya keluarga yang selalu ada bagaimana pun kondisi kami.

Gue memang bukan anak yang pintar tapi gue berusaha bagaimana caranya bisa buat mereka bangga, karena hanya dengan cara nilai rapot yang bagus dan kelakuan yang baik, orang-orang yang menyekolahkan gue bisa bangga dan merasa tidak sia-sia mengeluarkan uangnya buat sekolah gue.

Dan Alhamdulillah, usaha yang memang kalau ditekuni hasilnya insya Allah bakalan setimpal, kayak yang gue rasakan seakrang, Sekarang gue mengajar di tempat gue bersekolah dulu. Yang dulunya gue duduk di barisan siswa sekarang gue berdiri di depan dan diperhatikan siswa sebagai guru mereka. Mimpi gue jadi guru yang pernah gue tulis di blog ini bisa kesampaian.

Tapi jujur aja, kadang gue sedih melihat anak didik gue, apa lagi mereka yang sering mendapatkan teguran dan gak mau memperbaiki tingkah lakunya. Sudah sering dapat teguran, nilainya rendah semua pula, jarang ngerjain tugas apa lagi. Gimana perasaan orang tua mereka atau orang-orang yang mengeluarkan uang buat menyekolahkan mereka? Uang dicari pakai usaha, butuh tenaga baik fisik dan pikiran. Bukan Bimsalabim terus bisa dapat uang gitu aja.

Baru aja gue membuka buku wali kelas saat jam isterahat di kantor, disana ada keterangan tentang data siswa. Gue melihat satu-satu pekerjaan orang tua mereka. Sekolah gue memang rata-rata dari keluarga kelas menengah kebawah, gue melihat macam-macam pekerjaan orang tua mereka.

Ada yang orang tua nya yang punya pekerjaan bagus, tapi nilai dan kelakuan anaknya gak bagus. Ada yang pekerjaan orang tua nya cuman tukang becak, tapi nilai dan kelakuan anaknya gak bagus juga. Tapi gak semuanya juga sih kayak gitu, ada juga orang tua nya cuman buruh tapi nilai dan sifat anaknya di kelas bagus. Gue paling suka yang terakhir. 

Kelakuan siswa gue di kelas memang macem-macem, walau sebagai wali kelas kadang gue suka cuek dengan mereka tapi sebenarnya diam-diam gue memperhatikan mereka dan merasa sedih, gue coba menyimpan marah gue, gue gak mau di kenal lagi sebagai orang yang pemarah kayak waktu jadi siswa. Ya, waktu jadi siswa gue pemarah banget.

Ketika ada guru di kelas tapi teman-teman gue malah ribut dan asik ngobrol, Kalau udah kayak gitu biasanya gue bisa menampar meja dan menatap rata seisi kelas dengan tatapan marah, hahaa... kalau gue ingat gue songong juga waktu jadi siswa, badan kecil tapi suka marah-marah.

Gue ngomong kayak gini karena gue sudah membuktikan dan merasa sendiri. Seorang teman di kelas gue dulu yang kerjaannya tidur terus di kelas, jarang ngerjain tugas, bisa aja kok lulus sekolah bareng gue, tapi... jujur nih, beberapa waktu lalu gue ketemu dia di kawinan temen gue yang lain dia ngomong kalau sekarang dia menyesal dulu waktu sekolah suka main-main.

Kedua orang tua nya meninggal setelah gak lama dia lulus sekolah, dan sekarang dia bekerja jadi buruh bangunan. Padahal jurusan kami sewaktu SMK sangat menjanjikan untuk dapat pekerjaan yang bagus, bisa jadi desain grafis, photografer, videografer, dan lain-lain yang pasti bisa lebih baik lagi dari pekerjaannya dia sekarang.

Bukan nya gue sok nasehatin sih, tapi gue cuman mau jujur. Buat kalian yang masih sekolah atau siswa gue yang baca tulisan ini atau pembaca blog gue yang masih sekolah:


“Percaya deh, ilmu dan ahlak yang baik gak akan bisa berbohong bagaimana kalian dimasa depan. Orang yang kerjaannya di kelas cuman tidur apa lagi suka ngelawan guru masa depannya udah bisa ketahuan, kecuali dia sadar. Sadar dari sekarang juga dan merubahnya.”

david beckham smail man smile
Sengaja pakai gif Ayah gue

Gue juga ngomong kayak gini, biar semua anak sekolah sukses dimasa depannya, yang penting bisa bikin orang tua bangga. Gak salah kok kalian dengerin dan nurut apa kata orang yang lebih tua. Oke tapi gue gak tua ya. Jangan sampai kalian siswa gue yang baca ini menyesal kayak temen gue itu sebelum semuanya terlambat.

Hmm~

Kalian yang lagi baca ini punya pesan buat adik-adik kita yang masih sekolah? Boleh tinggalin pesannya di kolom komentar biar jadi motivasi buat mereka yaaa,

Header image: pexels.com
image gif: giphy.com