Teruntuk Perempuan Yang Melepas Keperawanannya

, , 38 comments

4 Januari lalu sebelum jam dua belas malam, gue dan sepupu gue yang dari Lombok si Renda pergi ke Office Coffee. Satu kedai kopi favorite yang hampir tiap hari selalu gue datangi, disana ada banyak hal yang bisa gue temukan bahkan bukan hanya soal kopi dan pengalaman baru, seperti perkara; rasa pahit dari segelas kopi lebih bisa dinikmati dari pada kepergian seseorang.

Malam itu gue sengaja nggak pesan cafe latte atau v60 yang biasa gue bikin sendiri di dalam bar karena besoknya gue harus mengajar, kalau sudah tengah malam minum kopi gue pasti rada susah tidur kecuali 5 jam setelahnya baru bisa merem. Jadi malam itu gue putuskan untuk menyeruput segelas hot green tealatte dan Renda memilih hot cafe latte dengan single espresso.

Gue dan Renda sudah dari zaman orok bareng-bareng, kami dijatuhkan Tuhan ke dunia cuman selisih beberapa hari. Dulu gue paling seneng nginep di rumah nya, waktu masih SD kami seneng main game Mario Bros, gue masih ingat juga dulu kami pernah main bola plastik nyerang komplek sebelah, Renda yang orangnya emang emosian malah berantem, gue yang melihat kejadian itu cuman bisa misahin lalu narik-narik Renda ke tempat kami markir sepeda karena gue emang nggak bisa berantem dan cemen banget waktu dulu. Ya... sampai sekarang, sih.

Pas gue balik sekolah ke Banjarmasin si Renda malah sekolah di Lombok karena harus ikut Ayah nya yang dapat tugas di sana. Jadi kami baru ketemu setahun atau dua tahun sekali saat Renda dan keluarganya merayakan hari raya idul fitri di Banjarmasin.

Seiring bertambah usia, banyak banget perubahan-perubahan yang terjadi diantara kami dari seorang remaja yang mencoba untuk gaul. Dari yang awalnya pembicaraan kami hanya soal episode Shincan, berubah ke soal cewek yang disukai dan soal pacar-pacaran. Tapi ada yang nggak berubah dari Renda yaitu sifat emosi dan ego yang kadang terlalu tinggi, oiya dan satu lagi yang nggak berubah dari Renda. Gue lebih ganteng dari dia.

Sabar ya sabar, ini ujian, ujian dari Allah.

Sekarang usia kami sudah kepala dua. Gue lagi belajar ikhlas di panggil Bapak guru sama siswa-siswa gue dan mencoba untuk menumbuhkan kumis dan janggut biar para orangtua siswa bisa bedain mana guru mana siswa. Lelah Bapak nak dikira siswa terus. -____-“ Sedangkan si Renda baru saja menyelesaikan kuliah dan mendapatkan nilai cumlaude yang gue lihat dari foto di instagram nya, padahal gue tahu selempang cumlaude itu cuman photoshop.

Malam itu adalah malam terakhir dia di Banjarmasin karena besok sudah harus ke Lombok lagi menyelesaikan beberapa urusan kampus dan sibuk melamar kerjaan. Sebenarnya gue berharap dia nggak balik ke Banjarmasin lagi, kerjaannya cuman nyusahin gue. Hih! Nyesel gue punya sepupu kaya dia, pengen gue cubit keteknya pakai jepitan kuku.

Sebelum kami menyeruput sisa minuman terakhir masing-masing, ada satu pertanyaan dari Renda yang sempat bikin gue mikir lama. Satu pertanyaan yang bagi gue tidak biasa, namun harus dijawab dengan jujur karena kita tidak akan pernah tahu seperti apa orang yang akan bersama kita kelak dan kita juga tidak tahu seperti apa masa lalu nya.

“Dit, sekarang kalau lo berada dalam dua pilihan lo pilih satu yang mana. Menikah dengan wanita perawan atau yang sudah nggak perawan, dan keduanya mau jadi istri lo?”

Gue kaget saat Renda tanya kayak gitu karena sebelumnya gue nggak pernah dapat atau dihadapkan dengan pertanyaan semacam itu, apa lagi obrolan kami berdua kadang gak ada yang serius. Kalau tanya soal hubungan LDR, ditinggalin, diselingkuhin atau soal move on mungkin gue masih bisa jawab.

Terjadi jeda cukup lama, Renda menatap gue menunggu jawaban sambil sesekali menjatuhkan abu rokonya ke dalam asbak di meja kami. Karena terlalu lama gue tanya balik ke dia, lalu Renda menjawab.

                “Ya jelas lah gue lebih memilih yang perawan, gue nggak mau istri gue pernah ngelakuin hubungan sex sama cowok lain. Itu artinya dia nggak bisa jaga diri!”

Gue melihat ujung puting rokoknya yang menyala-nyala, satu isapan panjang selesai setelah ucapannya berakhir dan seketika asap rokok yang cukup banyak di keluarkannya tidak ke arah gue, karena dia tahu gue nggak ngerokok.

Entah kenapa pandangan orang terhadap perempuan-peremuan yang tidak perawan kadang di lihat kurang enak di mata masyarakat. Kadang suka dinilai sebagai perempuan yang gampangan dan lain sebagainya beraroma negatif, itu yang gue rasakan sampai sekarang di mata masyarakat bahkan orangtua kita.

Beberapa hari sebelumnya, Ayah dan Mama sempat berdebat kecil memutuskan soal perempuan seperti apa yang cocok untuk mendapingi anak pertamanya ini. Sekarang gue lebih terbuka soal hubungan dengan mereka, yang dulunya suka disembunyiin sekarang sudah saatnya mereka kenal sama perempuan mana anak nya ini sedang dekat. Karena bagi gue, restu kedua orangtua penting walau yang menentukan tetap gue sendiri.

Ayah bilang.

                “Adit itu hobi nya nulis, dia suka kerja di luar kayak di cafe, dia butuh suasana tenang dan nyaman. Jadi dia nggak cocok sama perempuan yang suka mengatur apa lagi melarang dia kemana-mana. Hobi nggak boleh diganggu tapi bukan juga dijadikan yang utama.”

Dari sana gue tahu salah satu sifat perempuan seperti apa yang gue butuh kan, Ayah yang biasanya cuek dan suka marah-marahin gue waktu kecil ternyata diam-diam memperhatikan hal yang gue sendiri kadang masih nggak tahu jawabannya.

Gue meneguk green tealatte terakhir sebelum pukul duabelas malam, dan menjawab pertanyaan Renda.

                “Dua-duanya nggak masalah.”

Renda bingung.

                “Maksudnya?”

                “Ya, keduanya kampret! Lu sok foto pakai slempang cumlaude tapi kata-kata gue aja nggak ngerti! Dasar LEMAH!”

Gue sudah mau dipukul tapi untuk sempat menghindar.

                “Yang serius taplak! Gue ngerti, tapi jelain maksudnya apa.”

Gue membenarkan posisi duduk dan sesekali menatap ke lantai tanpa ada tujuan. Sekelompok orang yang baru selesai menghabiskan kopi nya di ruang dalam Office Coffee secara teratur pulang, hanya tersisa gue dan Renda di luar dan beberapa barista di dalam bar.

Gue menarik nafas cukup panjang, lalu perlahan mengeluarkannya dari mulut.

                “Siapa aja jodoh gue, gue akan terima. Mau dia perawan atau nggak gue nggak masalah. Emangnya perempuan yang selaput dara nya masih utuh bisa jamin dia baik atau cocok sama kita ya?” Tanya gue ke Renda, dia menatap gue diam. “Eh ren, semua orang pasti punya masa lalu masing-masing mau bagaimana pun juga kita harus terima baik buruknya dia, kalau emang lo bener-bener cinta sama seseorang sudah pasti hal kayak gitu harus lo terima, mau dia perawan atau nggak. Apa lagi kalau sudah ketetapan Tuhan, lo mau nantang? Yang terpenting bagi gue memilih yang nyaman, mau terima masa lalu masing-masing, dan mau sama-sama terus jadi pribadi yang lebih baik lagi.”

Renda masih menatap gue sambil sesekali melihat ke lantai, gue melajutkan kalimat terakhir.

“Kalau dia punya masa lalu yang nggak beres, berarti Tuhan memerintah kita buat bikin dia jadi orang yang lebih baik, apa lagi dia kan yang bakalan mendidik anak-anak.” Tutup gue dengan satu tarikan senyum tipis.

Beberapa detik setelah itu gue melihat sedikit senyuman tipis dari sepupu kampret gue ini. Walau senyumannya menjijikan tapi gue tahu apa yang sebenarnya dia maksud.

Bagi gue cewek cantik dan perawan akan jadi biasa aja selama nggak bikin kita nyaman, apa lagi kalau sampai ngelarang hobi yang kita punya. Selama memang hobi yang dikerjain positife kenapa harus dilarang-larang.

Ingat ini, sebelum kamu kenal dia, dia sudah akrap dengan hobinya yang membuat dia lupa sosok bernama sakit hati. Kalau ada yang ngelarang lo sudah tau jawabannya; tinggalin aja. Ya... kecuali hobi dia selingkuh, baru lo boleh pasang bahan peledak di badannya.

Salah satu barisata Office Coffee sahabat gue si Anjas pernah bilang:

“Kita belum hadir di masa lalu nya jadi terima dia apa adanya sekarang, bukan melihat masa lalu nya.”

love smile sad crying text

Jangan menilai seseorang hanya dari masa lalu dia.

Sewaktu masih sekolah gue masih ingat banget guru BK gue menggambarkan seorang perempuan seperti sebuah guci. Guci yang sudah pecah tidak akan pernah kembali cantik walau hanya retak sedikit. Ya, gue masing ingat.

Jujur gue juga sempat berfikir demikian, tidak bisa dipandang baik seorang perempuan apabila dia menyerahkan keperawannya. Namun sekarang gue tahu ini bukan persoalan utuh dan tidak utuh seperti guci, seorang perempuan tidak layak dinilai hanya dari retak atau tidak.

Mereka juga berhak melajutkan hidupnya dan mereka layak mewujudkan mimpi-mimpinya. Ini hanya persoalan keputusan mereka yang ingin melepaskan, karena mereka masih punya seribu kebaikan jangan hanya di pandang dari selabut dara.

Teruntuk perempuan yang sudah melepas, tenang saja. Pria ini mencintai mu dengan sungguh dan menerima masa lalu mu.
sexy smile supernatural man jensen ackles

//

Tulisan ini tidak bermaksud atau beranggapan seks diluar nikah adalah sesuatu hal yang diperbolehkan. Gue hanya ingin sedikit membuka mata perempuan-perempuan yang mungkin sedang menangis atas bagian dari tubuhnya yang sudah sobek.

Hei... kalian layak untuk mendapatkan kebahagiaan yang sama.

38 comments:

  1. 2? kayak sarimi aja.

    Semua orang berhak mendapatkan kebahagiaan bagaimanapun masa lalunya. Lagipula dosa kan juga ditanggung masing-masing, biarlah menjadi urusannya dengan Tuhan. :)

    Renda, awalnya aku pikir perempuan. Ternyata bukan. Ehehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahyah jangan ngiklan...

      Yap urusan dengan Tuhan. Dan semoga mau diajak nikah biar nggak jadi nambah suatu saat, kita nggak pernah tahu masa depan.

      Kelakuannya kadang jga bisa jadi cewek, sih.

      Delete
  2. Ya tergantung sih bang. Sobeknya karna apa dulu. Ada kok selaput dara yang sobek bukan karna hub seks.

    Tapi kalo dalam islam sih kalo berzinah sblm menikah. Harus di cambuk dulu 100kali.

    Dan terakhir kalo masih ada pilihan yg lebih baik. Ya pilih yg perawan aja. Garansinya masih ada. Hhaha

    nafarinm.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya tergantung dari sudut pandang km kah aku nih?

      Ya bujur, tapi kita di banjar.

      Haha kada masalah itu masing-masing orang.

      Delete
  3. Kok sama kayak comment yang pertama.... gue pikir Renda itu cewe. :'D
    *maaf yah Renda*

    ReplyDelete
  4. "Jangan menilai seseorang hanya dari masa lalu dia."
    I love this part. Keep up ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank yar. Tapi kawalah namanya jgn walut jua...

      Delete
  5. Gue sependapat, pak.

    Penilaian terhadap perempuan itu terkesan bahwa mereka itu benda. Keperawanan kok disamain dengan segel bla-bla-bla. Yang dinikahin itu orang apa barang dagangan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang apa barang... wkwkwk

      Dan kadang orangtua si cewek suka naruh biaya nikah yang gede, anak kok kaya barang ya :v

      Delete
  6. Agak gimana gitu ya judul postingannya ka adit wkwkkwk

    Bener juga sih, terkadang kita memang gak bisa menjudge satu kesalahan dan menyimpulkan keseluruhan. Sama halnya dengan kasus itu, seandainya saja perempuan itu "tidak perawan" dikarenakan bukan kesalahannya trus tak ada lelaki yang menginginkan hidup bersamanya. Bisa dibayangkan sakit hati yg seperti apalagi yg didapatkan perempuan itu, double.

    Yup, intinya sih jangan menilai seseorang dari masa lalunya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi boleh lo menilai seseorang kalau inya jarang update blog?

      Delete
  7. sudah kuduga pasti kena bully klo namaku di bawa" -__- , woyyy regas somplakk kmvret, tulisan loe buat gw di kira cwek, yg paling ngenes loe bilang cumlaude gw editan padahal tu asli 4 thn gw berjuang sampe gw bawaen piagam masih aja gk prcaya, ini namanya pembunuhan karakter :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komen epic! Huahahah.

      Mas Renda, aku padamuh! x))

      Delete
  8. wow ada kang Dean Winchester, akuuuuuu histerissssss

    #komenapaini
    hahahaha

    ReplyDelete
  9. Mantap djiwa, bang! :)

    Gue setuju. Tak pantas menilai baik buruknya wanita hanya dengan melihat dia perawan atau tidaknya. Yang baik belum tentu baik, yang buruk, tidak selamanya buruk.
    Gue suka baca artikel kesehatan. Pada artikel yang pernah gue baca, dikatakan bahwa keperawanan seseorang tidak terbatas pada selaput dara. Artikel tersebut menjelaskan, selaput dara seorang wanita bisa robek/terkoyak akibat trauma di rongga pinggul. Misalnya terjatuh. Kalau sudah robek, ya, belum tentu wanita tersebut pernah berhubungan badan dengan orang lain. Hoho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap bener banget zaa. Sayangnya masih ada aja org yg salah mengartikan meperawanan perempuan.

      Delete
  10. Ngak tahu dah kalau udh yg beginian. Tpi yg jls pandanglah dari sisi positifnya saja. :)

    ReplyDelete
  11. Tulisan kamu yg satu ini keren banget, Dit. Menurut gua pribadi, konsep keperawanan ini adalah sebuah konsep yg diciptakan hanya untuk merendahkan perempuan. Gak adil donk, masalahnya cowo kan ga bisa keliatan masih perjaka atau tidaknya.

    Dan lagipula, baik atau tidaknya seorang perempuan tidak dinilai hanya dari selaput daranya saja. Mau masih perawan atau ngga, itu urusan pribadi dia. Seperti kata barista kenalan lu itu, masa lalu dia adalah hak pribadi dia. Waktu itu dia belum pacaran/nikah sama kita, jadi hak dia donk mau ngapain. Kalo gak bisa terima, ya silakan cari perempuan lain.

    Kalo gua ditanya dengan pertanyaan di atas, gua akan jawab sama kayak lu. Kalo gua mencintai seorang perempuan, gua akan mencintai dia seutuhnya, bukan hanya selaput daranya saja. Gua akan mencintai dia apa adanya, menerima segalanya, termasuk masa lalu dia...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaa... tapi kalau udah gitu, dan emang mau dibawa serius harus jujur dari awal-awal ya. Jangan pas udah nikah baru jujur, gimana vin?

      Delete
  12. Waktu Pertama Melihat Judul Artikelnya, ane kira ini tentang pengalaman seorang perempuan yang melepas keperawanannya, ternyata tidak ya haha. Ya, mungkin pendapat ane sama dengan Abang di atas ya, kita tidak pernah tahu masa lalunya seperti apa dan apakah kita berhak menghakiminya dengan pertanyaan seperti itu. Selama dia atau kita sama-sama mencintai dengan tulus, bukanlah menjadi masalah hal seperti itu. Dan cinta yang tulus itu mampu menerima segala keapa adaannya dan masa lalu yang dia miliki.

    Kutipan yang ane suka : “Kita belum hadir di masa lalu nya jadi terima dia apa adanya sekarang, bukan melihat masa lalu nya.”

    Dan juga mungkin cara ane dalam menilai cewek mungkin sama dengan bang Regas ya, selama kita dan dia sama2 membuat nyaman,mau terima masa lalu masing-masing, dan mau sama-sama terus jadi pribadi yang lebih baik lagi, yang terpenting saling mencinta dengan tulus :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap lah bersama ku jadi teman hidup ku~
      Berdua kita hadapi dunia~
      :v

      Delete
  13. Gue pernah denger ceramah, jangan memandang rendah wanita yang sudah tidak perawan, karena apabila dia sudah bertaubat nasuha bisa jadi dia menjadi sosok wanita yg mulia di bandingkan dengan sosok wanita yg masih perawan tapi tidak bisa menjaga lisan dan prilakunya.

    ReplyDelete
  14. cewek sih menurutku nggka bisa dilihat dari perawan atau tidaknya. Banyak diluar sana cewek yang udah nggak perawan tapi bukan gara-gara kemauannya dia, terus masa mau dikucilkan gitu aja? toh mereka tidak perawan lagi bukan gara-gara kemauan mereka.

    Cari jodoh yang bisa mengimbangi kita, yang bisa jalan beriringan, yang bisa membuat kita bahagia dan nyaman, yang bisa diajak berbagi, jangan dililat dari perawan tidaknya sih menurutku hihi

    ReplyDelete
  15. Aku setuju sama semua yang kamu sampaikan di atas. Seringkali mereka dianggap rendah hanya karena sudah kehilangan keperawanan. Sementara, hilangnya karena apa tidak ditilik lebih dalam. Miris mendapati kenyataan bahwa masyarakat begitu memandang rendah perempuan-perempuan yang sesungguhnya kehilangan keperawanannya bukan atas kehendak dia. Diperkosa, misalnya. Kemudian, perempuan ini harus menghadapi dua kali perkosaan. Pertama, oleh si pelaku. Kedua, oleh stigma masyarakat. Dan bisa jadi ada tiga, oleh media. Kurasa, pandanganmu sudah tepat sekali.

    Oh iya, aku mau oot sedikit, ya. Aku baca blogmu lewat handphone dan paragraf pertamamu font-nya terlampau besar. Aku agak kaget, mungkin bisa kamu kecilin. Gak usah besar sekali begitu. Pun di tampilan mobile tampak begitu kontras ukuran hurufnya dengan paragraf selanjutnya.

    Gitu aja. Terima kasih sudah menulis. Hobi yang baik. :)

    ReplyDelete
  16. Saya bingung, saya baru beranjak dewasa, saya dari kampung, baru kenal teknologi 5 tahunan, dan saya. Baru kenal wanita, ehmm ... 3 tahunan lah secara dekat. Dan membaca ini kadang jadi bimbang..
    entahlah, pilihan setiap manusia juga berbeda, tapi semoga setiap manusia juga mendapatkan kelayakan seperti apa yang dia laku dan harapkan.

    ReplyDelete
  17. Aku gak paham kak... Masih dibawa umur... Hehe..

    ReplyDelete
  18. Rasanya ingin menangis membaca ini, rasanya ingin memeluk perempuan-perempuan sana yang direndahkan karena hanya tidak perawan, mereka berhak bahagia, berhak dicintai sepenuhnya.

    ReplyDelete
  19. I'm glad to know that you wrote this kinda post :) Terima kasih sudah menyuarakan pendapat yang begitu menenangkan, masa lalu seseorang memang tidak bisa ditebak, termasuk soal keperawanan DAN keperjakaan ini.. Mungkin dia korban perkosaan, bisa jadi khilaf, kita gak tau. Selama kita ikhlas menjalani hubungan dengan seseorang, apapun masa lalunya, saya yakin Yang Maha Kuasa akan memperhitungkan kebaikanmu.

    Btw udah pernah nulis juga tentang keperawanan/keperjakaan di blog sendiri hehe, postingan lama: https://chicklyfresh.wordpress.com/2015/05/11/69/

    ReplyDelete
  20. bener. perempuan dinilai dari keperawanan itu gak adil. gue pernah nonton salah satu acara tv tentang curhat2 gitu. dan ada penelepon yang curhat ttg suaminya yang marah krn pas malam pertama (maaf) gak keluar darahnya. ternyata bukan krn gak perawan tp krn kelainan medis. gak ngerti lg sama cowo yang nilai cewe gak perawan itu gak berharga. krn gak semua yang selaputnya sobek bukan krn dia gak bisa jaga diri, tp bisa aja krn hal yang gak dia inginkan misal kecelakaan atau diperkosa. masalah dia yang dulu khilaf sampe melepas keperawanan dengan sengaja, ya kalau cinta gak akan ada pengecualian apalagi cuma ttg selaput dara. kasian kan org yang mau tobat atau org yg sedih krn gak perawan krn kecelakaan atau hal2 yang gak diinginkan. kalau cowok bisa seenaknya menilai cewek dari keperawanan, coba deh ngaca, cowok bisa jaga diri gak, atau cowok nakal gak? kasian bgt sama cewek yang dicap gak bener cuma gara2 gak virgin, padahal dia begitu krn korban misalnya. wkwk alhamudillah aku masih aman, semoga bisa terus dijaga allah dan menjaga diri sampai halal nanti. aamiin.

    ReplyDelete
  21. Hal seperti yg masih sering di perdebatka. Kadang si prianya memerima, tapi orangtua gak setuju

    ReplyDelete
  22. Keperawanan memang mahkota bagi wanita, tetapi bagi lelaki yang menghargai wanita.. mahkota utama adalah cinta nya

    ReplyDelete
  23. judulnya super sekali...
    isinya juga mantab jiwa, aku berfikir renda itu cewek??

    ReplyDelete

Tinggalin komentar sesuai dengan isi tulisan ya. Happy Blogging!!! :D