Untuk Diri Sendiri: Terima Kasih


Entah tahun berapa gue membuat papan pengingat ini. Gue bikin desainnya sendiri dan dilapisin gabus, yang gue beli di Gramedia. Gue bikin ginian tujuannya udah pasti untuk ngingetin soal jadwal gue seminggu kedepan, job yang harus gue kerjain dan tugas dari sekolah yang harus gue selesaikan.

Ini adalah kondisi terakhir papan pengingat sebelum gue pindah, biasanya ada banyak masih banyak lagi origami yang tertempel dan hampir full. Bahakan gue juga iseng nempelin beberapa sticker, gantungin id card, serta tiket konser, tiket pesawat, tiket DBL juga ada padahal udah lewat bertahun-tahun. Entah kenapa gue seneng koleksi begituan.

Beberapa waktu lalu gue masuk ke kamar ini lagi, melihat papan pengingat ini lagi yang membuat gue ingat satu persatu tentang moment setiap lembar dan ic card yang tertempel. Betapa sibuknya gue waktu menghabiskan masa sendiri yang gue punya dengan berbagai kegiatan yang gue senengin.

Kadang malam hari sebelum besok gue mengisi acara atau jadi panitia, gue susah banget buat tidur. Suka banget kepikiran hal-hal negatif perihal kegiatan besok, kepikiran gimana kalau ada orang yang tanya ini, gue harus jawab gimana? Kepikiran gimana kalau besok tiba-tiba acaranya sepi, gue harus ngelakuin apa? Bikin pusing, tapi selepas selesai gue lega banget.

Buat anak-anak yang kerjaanya bikin event pasti ngerasain banget apa yang maksud disini, betapa riwehnya momen-momen itu. Betawa bikin pusingnya ketika melakukan persiapan, belu lagi kalau ada kenadala sesama panitia. Intinya bikin pusing, tapi justru disitu yang bikin asik pada akhirnya.

Jadi lebih tahu apa yang harus dilakukan untuk perbaikan event-event selanjutnya, jadi pribadi yang lebih siap untuk berfikir kreatif ketika ditekan kendala, jadi punya berbagai cara untuk menghadapi sesuatu.

Di papan pengingat ini pula ada momen yang selalu mengingatkan gue perihal Jogja. Bukan kampung halaman, tapi selalu membuat rindu.

Stiker panjang merah itu membuat gue ingat momen dimana untuk kedua kalinya gue ke Jogja, tapi bukan untuk jalan-jalan. Gue dan Ayead teman sesama Blogger dari Banjarmasin mewakili sebagai angkatan pertama Duta Damai untuk BNPT tahun 2015 dibulan November.

Memon membanggakan karena kami berkesempatan mewakili kampung halaman, momen kampret ketika gue kaget bangun pagi-pagi disebelah gue udah ada cowok yang enggak gue kenal tidur bersebalahan dalam satu selimut. Sempat ngerasa ternodai waktu itu, tapi gue baru ingat kalau kami emang dipasangankan satu kamar dengan perwakilan Blogger dari kota yang berbeda-beda.

Gue juga ingat banget ada momen sepasang blogger yang lagi pacaran dan sempet ngambek-ngambekan kalau enggak salah di cafe dekat hotel kami menginap. Waktu itu gue sengaja keluar hotel dan cari cafe terdekat sambil bawa laptop, enggak lama gue duduk gue ngeliat kaya ada yang kenal, sepasang remaja lagi mojok dan mesra-mesraan sambil menikmati minumannya.

Lah... Bukannya itu Blogger yang ikut acara ini juga ya? Bisik gue dalam hati, dan ternyata bener. Gue lupa mereka perwakilan dari mana, karena yang gue paling ingat selama beberapa hari di Jogja mereka hampir sering marah-marahan dan si cowok sempat curhat juga ke gue di depan hotel perihal cewek yang suka ngambekan. Wahahahaha,,,,, Kampret gue seneng banget kayakya liat mereka berantem. Moon maap ya buat kalian kalau baca tulisan ini.

Tapi yang pasti Jogja dan anak-anak Blogger yang hadir dalam kegiatan itu membuat gue jadi punya banyak teman dan lebih merasakan yang namanya Indonesia. Kalimantan, Jawa, NTB, Sumatra, membuat gue jadi lebih kenal keberagaman, walau kami berbeda bahasa tapi tetap bisa saling ketawa bersama, Malioboro meninggalkan kenangan manis kami malam itu.

Tulisan gue yang waktu itu di Jogja acara BNPT: DAMAI DARI JOGJA

 damai-dari-jogja

//

Tulisan ini sebagai pengingat gue pribadi. Bahwa waktu yang kita punya harus kita hargai dengan cara menghargai diri sendiri pula. Membuat waktu yang dimiliki menjadi tidak berlalu begitu saja tanpa ada momen sedikit pun. Masa remaja gue diisi dengan berbagai macam kegiatan yang sebenarnya pun saat itu gue enggak pernah mikir bakalan kaya gimana, gue cuman mengalir dan berani untuk mencoba tanpa harus takut, selama apa yang jalani, apa yang gue buat, tidak merugikan orang lain seperti yang pernah gue lakukan beberapa tahun lalu.

Cukup sekali momen menegangkan itu terjadi, sisanya dijadikan pengalaman.

Bahkan perihal kalian yang sedang dalam keadaan hati yang tidak baik saja pun jangan pernah membiarkan waktu kalian habis hanya untuk mengenang, yang membuat diri kalian luka kembali. Angkat kepala mu dari tempat tidur, buat hal menarik atau hal baru yang membuat kamu menjadi lebih kaya dan bisa menghargai diri sendiri dengan waktu yang kamu punya sekarang.

Comments