Ketika Ziarah Ke Negeri Onta


Awal tahun ini adalah tahun yang tidak pernah gue lupakan. Tanggal 12 januari kemarin gue, Ayah, Mama, dan keluarga gue lainnya berangkat ke tanah Harram Al’mukaramah. Perjalanan yang memakan total waktu sebelas jam itu, berbuah pengalaman yang nggak pernah gue lupakan setelah kurang lebih dua minggu di negara seberang.

Gue yakin banget, semua yang beragama muslim pasti pengen banget bisa pergi umroh. Semua orang pasti ingin dan berusaha bagaimana caranya bisa pergi kesana. Tapi percaya, deh, kadang walau duitnya sudah ada untuk pergi umroh, terkadang orang-orang yang punya niat baik ini pasti ada aja kendalanya dan bisa aja nggak jadi berangkat.

Lalu gimana dengan gue? Gue sendiri punya mimpi bisa berangkatin umroh Ayah dan Mama, tapi sekali lagi. Tuhan selalu punya rencana yang jauh lebih manis, gue bisa ikut berangkat bareng mereka semua. Sedangkan adek gue si Nanda, dia ditinggal karena sudah kelas 9 SMP dia lagi sibuk-sibuknya belajar buat persiapan UN.

Padahal, sih, gue mau ajak Nanda buat umroh. Kan lumayan bisa nyuruh-nyuruh dia angkat koper gue. Atau selama dua minggu di sana, si Nanda bisa gue suruh kerja di Arab buat mandiin onta, lumayan uang nya pasti gede, bisa buat beli satu lusin iPhone 6.

Persinggahan pertama kali ini ke kota Jeddah, menuju Madinah, dan beberapa hari setelahnya baru ke Mekkah. Tiga kota yang didatangi ini memberikan gue pengalaman baru dan menyisakan berbagai moment unik yang nggak gue sangka-sangka sebelumnya.

Pedagang Yang Bisa Bahasa Indonesia

pedagang
via flickr.com

Hari pertama gue di Madina, gue dikasih uang Real sama Ayah. Ya, yang pasti nggak mungkin belanja pakai uang Rupiah di negara orang. Ada, sih, sebenernya pas kemarin ke Masjid Apung di pinggiran lau merah, ada orang Madura jual bakso dan bisa beli pakai Rupiah.

Saat selesai sholat subuh di Masjid Nabawi, gue lalu menuju hotel yang jaraknya tidak jauh. Di depan Masjid sudah ada banyak banget pedagang yang berjualan.

Mereka berteriak sambil sesekali mengangkat barang dagangannya. Ada yang jual gamis, mereka angkat-angkat sambil tereak “Isyruuna! Isyruuna... hallal, hallal!”. Ada juga yang jual kerudung, kali ini penutup aurat cewek bagian kepala itu di lempar-lempat ke langit. Ada juga yang jual gerobak, tiba-tiba gerobaknya di lempar ke kerumunan orang banyak. Oke, yang terakhir gue asal.

Gue melihat satu pedagang yang jual kopiah antik berlabel made in Pakistan. Saat gue mencoba di kepala lalu gue tanya “Berapa?” dan saat itu juga gue baru sadar, gue bukan lagi di Tanah Abang. Tapi tiba-tiba pedagang itu berkata “sepuluh real, hallal”.

Gue baru tahu, pedangan di sana sudah bisa berbahasa Indonesia, dan ngomong mereka pun lancar. Sangking lancarnya pas gue selesai beli pedagang itu tawarin ke gue minyak Zaitun “Hallal.. Hallal, minyak syahrini ha."

PEDAGANG MACAM APA INI!!!

Banyak orang selfi dan Video Call Dalam Masjid

selfie
via www.voaindonesia.com

Tren foto selfie ternyata nggak cuman di Indonesia, kalau biasanya gue sering menemukan orang-orang berfoto selfie di cafe atau di tempat-tempat keren. Sedangkan selama di Madinah dan Mekkah, gue lebih sering melihat orang berfoto selfie bahkan video call di dalam Masjid.

Dan biasanya orang yang melakukan ini adalah orang India. Itu bisa gue yakini dari fisiknya dan saat dia berbicara di video call. Pas lagi video call dia sambil nari muter-muter tiang Masjid.

Saat di dalam masjid, gue lagi jalan menuju saf depan tiba-tiba ada orang lagi video call di depan gue, gue bilang dalam hati “India, nih, pasti india” dan nggak lama saat gue melewati dia jalan “Cong! Pidionya gak gerak ini, cong! Bee... bebebehh...”.  (“-_____-}

Jujur, gue bukannya rasis, tapi ini fakta. Kadang susah membedakan mana orang India dan mana orang Madura. Sumpah, nggak jauh beda.

Kartu perdana buat internet mahal

apple, iphone, smartphone
via pexels.com

Sebelum berangkat umroh, gue sempat mikir: Pasti ada wifi di hotel, karena gue nginep di hotel, bukan di bawah jembatan. Tapi di tempat gue menginap di Madinah, ternyata hotel tempat gue tinggal nggak ada wifi nya sama sekali. Gue sempat kecewa, bersimpuh di jendela hotel. Ya... gue tahu, sih, tujuan gue ke sini buat fokus ibadah bukan buat internetan. Tapi kadang bete juga selesai sholat subuh dan makan, gue bingung harus ngapain.

Salah satu pegawai restoran di hotel tempat gue nginep, dia sempat menawarkan kartu perdana dengan kuota internet 2Gb. Gue sempet seneng banget, tapi pas gue tanya harganya niat untuk beli gue batalkan. Harga kartu perdana internet dengan kuota 2Gb adalah 60 RM atau kalau di rupiah kan menjadi RP 240.000, gue bisa dapat kuota berkali-kali lipat kalau di Indonesia dengan harga segitu.

Sebenarnya jaringan kartu Indonesia disana kebaca semua. SMS juga bisa tapi mahal dan untuk paket kuota nggak bisa dipakai. Kecuali kalian memakai Telkomsel dan coba konsultasi ke Telkomsel Center nya langsung kalau-kalau kalian yang mau umroh dan kebetulan pakai kartu Telkomsel, soalnya kemarin Ayah gue bisa internetan dengan kartu Simpati.

Banyak cewek dengan hidung mancung


Kurang lebih dua minggu d isana, gue nggak pernah satu pun nemu cewek Arab atau cewek Timur Tengah yang hidungnya pesek. Harus gue akuin, selama di sana bertebaran cewek-cewek Arab dan Timur Tengah yang cantik. Bukan cuman hidung mereka yang mancung, mata galak-galah sendu *halah*, dagu yang lancip, dan bentuk wajah yang bisa dibilang hampir sempurna.

Kata Mama, dari sekian banyak cewek-cewek turis atau penduduk setempat baik di Mekkah dan Madinah, cewek dari Turki itu yang paling cantik. Entah bagaimana cara Mama gue tahu itu cewek dari Turki, tapi kata Mama cewek Turki putihnya beda terus mata mereka biru.

Bisa dibayangkan, gimana bidadari dari bumi ini rupanya?

Tapi, menurut gue.... cewek yang hidungnya minimalis itu lebih bikin kangen. 

Kangen Indomie

chitato indomie
Via detik.com

Plis, jangan tanya kenapa gue majang Chitato rasa Indomie goreng.

Selama di sana, gue nggak punya alasan untuk bilang laper. Selain itu tiap kali makan juga boleh ambil sepuasnya. Persoalan makanan menjadi hal yang paling sering dibicarakan ketika seseorang pergi ke suatu negara. Alasannya simpel, karena lidah yang tidak terbiasa.

Gue juga mengalami itu. Meski koki yang memasang orang Indonesia tapi semua bahan masakan dari sana juga. Contoh paling simpel soal beras, terjadi perbedaan jelas berasa Indonesia dengan negara orang, nasi di sana, lo nelen aja udah kayak mau sakaratul maut, gede berasnya kayak piji duren. Hmm....

Dari ke-galau-an muncul lah tiba-tiba rasa kangen. Tiba-tiba gue kangen mba-mba KFC yang tiap kali gue mau pesen dia selalu ngasih pertanyaan yang itu itu aja “Makan di sini atau bawa pulang?” gue kangen mocca float. Dan yang paling bikin gue kangen setengah mati adalah mie Indomie goreng.

Selama gue di sana gue nggak nemu orang yang jualan mie Indomie. Yang ada mie instan yang cup tapi itu bukan Indomie. Jadi, satu hal yang perlu kalian ingat adalah selalu bawa Indomie kemana saja kalian pergi.

Kangen Kerjaan

desk, notebook, pen
via pexels.com

Sebelum pergi gue bikin surat izin nggak masuk kerja, rasanya semangat banget pas ngetik, walau sebelumnya gue memang sudah dapat izin dari Kepala Sekolah. Gue seneng, gue merasa bebas, gue berasa kayak terlahir kembali.

Giman nggak, tiap hari gue selalu disibukkan oleh barbagai urusan dunia, dan sekarang gue benar-benar bisa lepas walau hanya dua minggu. Gue jadi lebih sering ibadah, gue jadi lebih sering bangun subuh, dan yang paling spesial. Gue bisa jauh lebih dekat dengan kedua orang tua gue.

Sayangnya, setelah sepuluh hari berjalan gue nggak bisa boong kalau gue kangen Indonesia. Gue kangen kesibukkan gue, gue kangen siswa gue yang selalu ribut di kelas, gue kangen deadline, dan gue kangen semua hal yang selalu menyita waktu gue. Padahal kadang gue suka ngeluh “Kapan punya waktu santai” dan saat gue udah dapat waktu, gue malah kayak gini.

Yang bikin mata gue agak rusak kemarin.

Kalian pasti pernah medengar istilah yang kurang lebih kayak gini: Merantau lah maka kamu akan tahu untuk siapa kamu pulang.

Di tengah rasa kangen sama indomie semua itu, gue merasa beruntung ada orang yang selalu ada buat gue. Walau gue selalu bikin dia kesel. Gue lupa Eneng bilang itu waktu kapan, tapi gue masih ingat penuh apa yang dia bilang ke gue, saat gue nggak khusyu sholat.

“Kamu fokus ibadah aja ya di sana”

Di sini gue sadar, posisi gue nggak jauh kayak orang yang merantau.

Saat gue menulis ini, gue membuka lagi film pendek pertama gue Fase Orang Patah Hati. Di sana ada satu kalimat "Kamu mulai membayangkan tentang apa yang kamu lakukan selama ini, buat apa, buat siapa?".

Dan Ketika Jiarah Ke Negeri Onta kemarin, membuat gue ingat sesuatu.

Gue tahu untuk apa gue sibuk dan gue tahu untuk siapa gue pulang.